Beginilah Jika Acuh Tak Acuh Terhadap Istighfar

Suaramuslim.net – ‘Manusia tempatnya salah’, Anda semua tentu tak asing dengan ungkapan ini. Sebagai muslim, kita diajarkan jika melakukan kesalahan atau berbuat dosa, kita harus beristighfar. Namun tidak sedikit yang tidak sungguh-sungguh atau bahkan acuh tak acuh terhadap istighfar, jangan-jangan termasuk kita? Mari cari tahu bersama!

Potensi manusia dalam berbuat salah sangatlah besar, baik itu sengaja atau tidak, kesalahan besar maupun kecil. Sama halnya dengan para nabi dan rasul, mereka juga manusia yang berpotensi melakukan kesalahan. Namun bedanya, para utusan Allah subhanahu wa ta’ala selalu menyegerakan diri dalam beristighfar. Mereka juga menjadikan istighfar sebagai tindakan penyesalan yang sebenarnya.

Di sisi lain, di masa sekarang ini, semakin banyak kita jumpai orang-orang yang cenderung menikmati kemaksiatan dan tidak menyesalinya. Bahkan mengacuhkan istighfar sehingga mereka sulit membebaskan diri dari dosa yang telah dikerjakan. Itulah bedanya antara manusia biasa seperti kita dan para utusan Allah subhanahu wa ta’ala.

Oleh sebab itu, sebagai manusia biasa, sudah sepantasnya kita sadar terhadap  berbagai kekurangan pada diri kita. Para utusan Allah saja sangat mementingkan istighfar, apalagi kita umatnya, seharusnya lebih sering beristighfar karena potensi kesalahan kita tentu lebih besar.

Baca Juga :  Hubungan dan Pengertian Iman, Islam, Kafir dan Takwa

Ketika istighfar terasa hambar

Acuh tak acuh terhadap istighfar merupakan suatu sikap tidak peduli atau cuek terhadap istighfar ketika bermaksiat. Namun bukan berarti orang yang bersikap demikian tidak beristighfar. Hanya saja, ia terkadang beristighfar tapi juga tetap bermaksiat. Tidak bersungguh-sungguh bertaubat kepada Allah, sehingga seringkali istighfarnya itu terasa hambar.

Pada awalnya orang yang acuh tak acuh terhadap istighfar, melalaikan perintah-perintah Allah subhanahu wa ta’ala. Mereka terlalu sering melakukan kemaksiatan dalam hidupnya. Sehingga, merasa tidak bersalah lagi jika melakukan dosa. Mereka cenderung pura-pura atau tidak mau tahu tentang larangan Allah. Mereka selalu membela diri dan menggunakan berbagai macam alasan.

Oleh karena itu, ia sangat tergantung pada kemaksiatan tersebut dan sulit melepaskan diri. Kemudian mereka akan terpuruk dan seenaknya sendiri dalam bermaksiat. “Nyari yang haram aja susah, apalagi yang halal!” Cara pandang seperti ini telah merasuk dalam jiwanya. Allah berfirman dalam Surat Ar Rum ayat 41,

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Baca Juga :  Membaca Hikmah di Balik Gempa

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut karena perbuatan tangan manusia, Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”

Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengancam orang-orang yang tidak malu dalam berbuat dosa. Dengan bahasa halus Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jika kamu tidak malu, berbuatlah sesukamu”. (HR. Bukhori).

Dalam riwayat lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,

“Setiap orang ada kemungkinan dimaafkan kesalahannya, kecuali  orang-orang yang terang–terangan (dalam berbuat dosanya)”. (HR. Ibnu Abdil Bar dalam Kitab at-Tamhid, dari Abu Hurairah).

Tidak adanya perasaan takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala menyebabkan seseorang mengacuhkan ancaman-Nya. Mereka mudah sekali terbujuk rayuan setan. Oleh sebab itu mari kita mendekatkan diri selalu kepada Allah, memohon kepada-Nya, beristighfar dengan sungguh-sungguh atas semua dosa dan sebisa mungkin menjauhi kemaksiatan dan penyebab-penyebabnya. Semogga Allah senantiasa melindungi dan memberi petunjuk kepada kita. Aaamiiin. Wallahu a’lam.

Kontributor: Aisy*
Editor: Oki Aryono

*Script writer dan audio editor

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.