Ahsani Fadhli, Mari Berkenalan Remaja Belia Penghafal Al Quran dan Hadis
Ahsani Fadhli di acara Musabaqah Hifdzil Al Qur’an. (Foto: Istimewa)

Suaramuslim.net – Alhamdulillah, Allah mempertemukan saya dengan Ahsani Fadhli Ilahi, santri Ma’had Abdullah bin Mas’ud Lita’hilil Al-huffazh Subang Jawa Barat. Remaja ini dilahirkan dari Darmono dan Inah. Ayah ibunya alumni ITS Surabaya yang kini tinggal Karawang, Jawa Barat.

Ahsani merupakan anak kedua dari tiga bersaudara, Ahsani merupakan utusan yang mewakili pondok untuk mengikuti acara Musabaqah Hifdzil Al Quran. Acara ini diselenggarakan atas kerjasama antara Kementerian Agama Republik Indonesia dengan Pemerintah Kerajaan Arab Saudi di Jakarta 3-6 Februari 2020.

Pemuda kelahiran 26 Maret 2006 ini bisa dikatakan sebagai aset umat Islam sekaligus aset negara. Dikatakan aset umat Islam karena dia telah menghafal Al Quran di usia 7 tahun. Bahkan dia pernah menggondol juara 1 untuk kategori menghafal 30 juz yang diselenggarakan oleh RCTI pada 2016. Santri yang saat ini duduk di kelas 2 setingkat SMP ini mengaku bisa menghafal Al Quran atas tempaan ibunya.

Kesuksesan menghafal Al Quran dalam tempo yang singkat di usia dini ini mengikuti jejak kakak perempuannya. Kakak perempuannya juga menghafal Al Quran di usia dini sebagaimana Ahsani. Kakak perempuannya bernama Iffah Annahdiyah kelas 3 SMA. Saat ini tulisan ini dimuat, ia juga ikut Musabaqah Hifdzil Qur an 30 juz di Jakarta.

Jadi Ahsani merupakan generasi kedua setelah kakak perempuannya, berkat petunjuk Allah melalui bimbingan ibunya. Adik perempuan Ahsani sudah menghafal Al Quran di usia 8 tahun. Sekarang kelas 2 SD. Namanya Qoylah Hilyatul Auliyah. Jadi tiga bersaudara ini sudah hafal Al Quran semua di usia dini.

Ahsani menceritakan bahwa sejak usia 5 ibunya mengajarkan Al Quran dengan memperdengarkan Al Quran secara berulang-ulang. Pengajaran Al Quran dimulai pagi hari setelah shalat subuh mulai dari hari Senin sampai Jumat. Adapun pada Sabtu ia muraja’ah (mengulang) hafalan, dan Ahad merupakan hari libur yang bisa dimanfaatkan untuk bermain dan santai.

Menariknya, jika tidak tuntas dalam menghafal atau menyetor hafalan, maka hari libur saat Ahad ditiadakan. Hal ini sebagai konsekuensi atau hukuman karena tidak memenuhi target. Bila memenuhi target, maka ibunya memberi hadiah, baik membelikan mainan maupun makanan dan minuman. Ketika ditanya apa makanan kesukaan yang dipilih bila memenuhi target hafalan, maka dia memilih es krim.

Ahsani ini betul-betul fokus dalam mendalami Al Quran dan hadits ini tanpa mengikuti pendidikan formal. Dia memperoleh ijazah melalui ujian paket, sehingga dia tidak terganggu dalam mendalami Kitabullah dan Sunnah Nabi Muhammad. Ahsani dan kakak perempuannya merupakan generasi emas yang dilahirkan atas ijtihad kedua orang tuanya, yang rela menempa anaknya untuk mendekatkan diri kepada Allah. Mendekatkan diri dengan mempelajari Al Quran dan Hadits. Mutiara ini tidak muncul dengan sendirinya dengan berpangku tangan tetapi dengan berupaya menyisihkan waktu. Rela bangun membangunkan anaknya saat subuh dan mengajarinya secara telaten dan kontinyu.

Berkat usaha dan doa ibu serta kerelaan ayahnya, tumbuhlah benih-benih dari Mutiara generasi Islam ini. Mudah-mudahan keluarga ini diberkahi dan bisa diikuti oleh ibu-ibu yang lain sehingga bisa lahir generasi-generasi Islam yang sejak dini dekat dengan Al Quran. Generasi inilah yang akan meneruskan cita-cita ulama dalam meneruskan dakwah Nabi dan para sahabatnya.

Laporan Dr. Slamet Muliono (dosen UIN Sunan Ampel Surabaya) dari Musabaqah Hifdzil Al Quran Jakarta 3-6 Februari 2020, kepada Suaramuslim.net.

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.