Sejarah Al Quran Al Karim, Mukjizat Nabi Muhammad SAW – Bagian 2

Sejarah Al Quran Al Karim, Mukjizat Nabi Muhammad SAW – Bagian 2

al quran al karim mukjizat rasulullah saw
Lanjutan dari Sejarah Al Quran Al Karim, Mukjizat Nabi Muhammad SAW – Bagian 1
  1. Sejarah Pemeliharaan Kemurnian Al Quran

Memelihara AL Quran di masa Nabi SAW

Pada permulaan Islam bangsa Arab adalah satu bangsa yang buta huruf, amat sedikit diantara mereka yang pandai menulis dan membaca.

Mereka belum mengenal kertas, sebagai kertas yang dikenal sekarang. Perkataan “Al Waraq” (daun) yang lazim pula dipakaikan dengan arti “kertas” di masa itu, hanyalah dipakaikan pada daun kayu saja.

Adapun kata “Al Qirthas” yang daripadanya terampil kata-kata Indonesia “Kertas” dipakikan oleh mereka hanyalah kepada benda-benda (bahan-bahan) yang mereka pergunakan untuk ditulis, yaitu kulit binatang, batu yang tipis dan licin, pelapah tamar (kurma), tulang binatang dan lain sebagainya.

Setelah mereka menaklukkan negeri persia yaitu sesudah wafatnya nabi Muhammad SAW. Barulah mereka mengetahui kertas. Orang persia menamai kertas itu “kaqhid” maka dipakailah kata-kata kaqhid ini untuk kertas oleh bangsa Arab semenjak itu.

Adapun sebelum masa Nabi ataupun di masa Nabi, kata-kata “al kaqhid” itu tidak ada dalam pemakaian bahasa Arab, maupun dalam hadits-hadits Nabi. Kemudian kata-kata “al qirthas” itupun dipakai pula oleh bangsa Arab kepada apa yang dinamakan “Kaqhid” dalam bahasa Persia itu.

Kitab atau bukti tentang apapun juga belum ada pada mereka. Kata-kata “kitab” dimasa itu hanyalah berarti sepotong kulit, batu, atau tulang dan sebagainya yang telah bertulis atau berarti surat seperti kata “kitab” dalam ayat 28 surat An Naml (27).

اذْهَبْ بِكِتَابِي هَذَا فَأَلْقِهِ إِلَيْهِمْ

“Pergilah dengan surat saya ini, maka jatuhkanlah dia kepada mereka…..”

Begitu juga “Kutub” (jama’ kitab) yang dikirimkan oleh Nabi kepada raja-raja di masanya , untuk menyeru mereka kepada islam.

Kerena mereka belum mengenal kitab atau buku sebagai yang dikenal sekarang, sebab itu diwaktu Al Qur’anul Karim itu di bukukan di masa Khalifah Utsman bin ‘Affan, tidak tahu mereka dengan  apa Al Quran yang telah dibukukan itu akan dinamai, bermacam-macamlah pendapat sahabat tentang nama yang harus diberikan. Akhirnya mereka sepakat menamainya dengan “Al Mushhaf”, (Ism maful dari Ashshafa, dan Ashshafa artinya mengumpulkan (shuhuf), jamak shahifah, lembaran-lembaran yang telah bertulis).

Kendatipun bangsa arab pada waktu itu masih buta huruf, tetapi mereka mempunyai ingatan yang amat kuat. Pegangan mereka dalam memelihara dan meriwayatkan sya’ir-sya’ir dari pujangga-punjaga dan penyair-penyair mereka, ansab (Silsilah keturunan) mereka, peperangan-peperangan yang terjadi diantara mereka, peristiwa-peristiwa yang terjadi dalm masyarakat dan kehidupan mereka tiap hari dan lain-lain sebagainya adalah kepada hafalan semata-mata.

Demikianlah keadaan bangsa Arab di waktu kedatangan agama Islam itu.  Maka dijalankanlah oleh Nabi suatu cara yang ‘amali (Praktis) yang selaras dengan keadaan itu dalam menyiarkan Al Quranul karim dan memeliharanya.

Tiap-tiap diturunkan ayat-ayat itu Nabi menyuruh menghafalnya, dan menuliskannya di batu, kulit binatang, pelepah tamar, dan apa saja yang bisa disusun dalam sesuatu surat artinya oleh Nabi diterangkan tertib urut ayat-ayat itu. Nabi mengadakan peraturan yaitu Al Quran sajalah yang boleh dituliskan, selain dari Al Quran itu, Hadits atau pelajaran-pelajaran yang mereka dengar dari mulut Nabi, dilarang menuliskannya. Larangan ini ialah dengan maksud supaya Al Quranul Karim itu terpelihara, jangan campur aduk dengan yang lain-lain yang juga didengar dari Nabi.

Nabi menganjurkan supaya Al Quran itu dihafal, selalu dbaca dan diwajibkannya membacanya dalam shalat.

Dengan jalan demikian banyaklah orang yang hafal Al Quran. Surat yang satu macam, dihafal oleh ribuan manusia dan banyak yang hafal seluruh Al Quran. Dalam pada itu tidak ada satu ayat pun yang tak dituliskan.

Kepandaian menulis dan membaca itu amat dihargai dan digembirakan oleh Nabi. Beliau berkata:

“Diakhirat nanti tinta ulama-ulama itu akan ditimbang dengan darah syuhada’ (Orang-orang yang mati Syahid)”.

Pada peperangan badar, orang-orang musyrikin yang ditawan oleh Nabi, yang tidak mampu menembus dirinya dengan uang, tetapi pandai menulis baca, masing-masing diharuskan mengajar sepuluh orang muslim menulis dan membaca sebagai ganti tebusan.

Di dalam Al Quran pun banyak ayat-ayat yang mengutarakan penghargaan yang tinggi terhadap huruf, pena dan tulisan. Firman Allah.

نٓۚ وَٱلۡقَلَمِ وَمَا يَسۡطُرُونَ

Nun, demi pena dan apa yang mereka tuliskan. (QS. AL Qalam ayat 1)

اقْرَأْ وَرَبُّكَ الأكْرَمُ ,الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ, عَلَّمَ الإنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ
Bacalah, dan Tuhanmu amat mulia. Yang telah mengajar dengan pena. Dia telah mengajarkan kepada manusia apa yang diketahuinya. (Surat (96) Al’ Alaq ayat 3,4,5)

 

Karena itu bertambahlah keinginan untuk belajar menulis, membaca dan bertambah banyaklah mereka yang pandai menulis dan membaca, dan banykalah orang yang menuliskan ayat-ayat yang telah diturunkan. Nabi sendiri mempunyai beberapa orang penulis yang betugas menuliskan Al Quran untuk beliau. Penulis-penulis beliau yang terkenal ialah Ali bin Thalib, Utsman bin Affan, Ubay bin Ka’ab, Zaid bin Tsabit, Mu’awiyah. Yang terbanyak menuliskan ialah Zaid bin Tsabit dan Mu’awiyah.

Dengan demikian terdapatlah dimasa Nabi tiga unsur yang tolong-menolong memelihara Al Quran yang telah diturunkan itu.

  1. Hafalan dari mereka yang hafal Al Quran
  2. Naskah-naskah yang ditulis untuk Nabi.
  3. Naskah-naskah yang ditulis oleh mereka yang pandai menulis dan membaca untuk mereka masing-masing

Dalam pada itu oleh Jibril diadakan ulangan (repetisi) sekali setahun. Di waktu ulangan itu Nabi disuruh mengulang memperdengarkan Al Quran  yang telah diturunkan. Di tahun beliau wafat, ulangan itu diadakan oleh Jibril dua kali.

Nabi sendiripun sering pula mengadakan ulangan itu terhadap sahabat-sahabatnya, maka sahabat-sahabat disuruh beliau membacakan Al Quran itu dimukanya untuk menetapkan atau membetulkan hafalan atau bacaan mereka.

Ketika Nabi wafat Al Quran itu telah sempurna diturunkan dan telah dihafal oleh ribuan manusia, dan telah dituliskan semua ayat-ayatnya. Ayat-ayatnya dalam sesuatu surat telah disusun menurut tertib urut yang ditunjukkan sendiri oleh Nabi.

Mereka telah mendengar Al Quran itu dari mulut Nabi berkali-kali, dalam shalat, dalam pidato-pidato beliau, dalam pelajaran dan lain-lain, sebagimana Nabi sendiripun telah mendengar pula dari mereka. Pendeknya Al Quranul Karim adalah dijaga dan terpelihara baik-baik, dan Nabi telah menjalani suatu cara yang amat praktis untuk memelihara dan menyiarkan Al Quran sesuai dengan keadaan bangsa Arab pada waktu itu.

Suatu Hal yang menarik perhatian, ialah Nabi baru wafat sebagai disebutkan diatas, ialah dikala Al Quran telah cukup diturunkan, dan Al Quran itu sempurna diturunkan ialah diwaktu nabi telah mendekati masanya untuk kembali ke hadirat Allah Yang Maha Kuasa.

Hal ini bukanlah suatu kebetulan saja, tetapi telah diatur oleh Yang Maha Esa.

Like this article?

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on WhatsApp
Share on Telegram

Leave a comment