Anak Muda, dan Mukalaf Politik

Penulis: Yusuf Maulana
Editor: Ali Hasibuan

Suaramuslim.net – Nama anak muda, berparas idaman, diam-diam akhwat itu kembali hadir di beberapa laman berita. Ia yang digadang-gadang bakal mengisi calon anggota legislatif dari partai dakwah rupanya berpindah haluan. Sebuah partai penyokong rezim menyematkan jas birunya kepada anak muda itu. Sang ikon al-akh kini jadi harus bersiap kita dengarkan jargon seputar restorasi.

Soal sebab musababnya ia berpindah, saya tak hendak mengulas. Anak muda potensial sepertinya diradar partai-partai buat mengisi calon wakil rakyat. Meski latar dan pemikir politik yang dianut selama ini oleh si anak muda bisa saja bertolak belakang, dalam beberapa kasus rupanya bukan persoalan. Sekatan ideologi juga mencair. Itu sebabnya bagi yang melihat kasus seperti anak muda tadi bisa saja akan berpandangan tentang adanya putusan pragmatis.

Putusan pragmatis dalam politik seyogianya tak perlu diherankan. Manusia politik atau sekadar calon politikus, masih muda dan lugu sekalipun, tetap akan berinteraksi dengan putusan pragmatis. Sebab ini satu cara melatih dan menempanya dalam bertindak di antara situasi tak ideal.

Hanya saja, dalam kasus anak-anak muda rekrutan partai politik, nalar idealisme mereka perlu kiranya dikaitkan dengan alam zamannya. Era anak muda milenial dengan gawai dan akun media sosial bertebaran menjadi penanda keterbukaan bersikap. Konservatisme kurang mendapat tempat. Mereka tak lagi berpatokan pada kesamaan simbol.

Baca Juga :  Islam Politik di Negeri Mayoritas Muslim

Platform idealisme diperkuat dengan narasi-narasi kebangsaan yang sesuai cara berpikir mereka. Memang seringkali dangkal dan tergesa-gesa tapi itulah identitas sebagian anak zaman milenial ketika berkhutbah seputar tema-tema normatif seperti kebangsaan dan patriotisme.

Keterpanggilan jiwa untuk berbuat baik begitu lekas hadir di dada mereka. Imajinasi kebersamaan dan aktualisasi kapasitas diri begitu meriah untuk dihadirkan. Setiap ada ruang yang memberikan kesempatan bagi mereka, mereka menegosiasikan pertama-tama bukan lagi idoelogi ataupun identitas simbolik, melainkan ruang menjanjikan memujudkan impiannya. Asalkan ada garansi untuk diberikan ruang tersebut, mereka ambil. Ini yang menjelaskan fenomena anak muda tadi. Serupa dengan partai yang sama menarik kenakan saya yang biasanya bergelut di aktivitas pembinaan pemuda di Sumedang belum lama ini.

Di lain pihak, antusiasme anak-anak muda menerima pinangan partai menarik untuk disimak. Artikulasi kebesaran sikap percaya diri mereka perlu dilihat ke depan. Idealisme yang menjejak kuat, bisa dipahami. Tinggal bagaimana mereka “waras” dengan logika dan kalkulasi aktor politik di waktu berikutnya. Jangan sampai kemudaan mereka hanya hadirkan keluguan dan kenaifan bersikap yang malah menguntungkan politikus kawakan partainya.

Baca Juga :  Jika Politik Masuk Masjid

Kiprah sekian waktu dalam satu bidang dipandang akan lebih berdaya guna lebih ketika mereka berkiprah dalam politik. Pandangan optimis anak muda ini rentan diboncengi muslihat politikus kawakan. Bukan salah berkiprah di partai. Hanya saja, sikap bergegas yang kurang perhitunganlah yang memungkinkan optimisme anak muda menjadi antiklimaks akhirnya.

Tak ada ukuran waktu ataupun durasi masa berkiprah di luar partai sampai disebut matang. Karena toh tiap insan berbeda-beda menuju kematangan pikiran, kedewasaan bersikap. Termasuk dalam konteks politik. Di sinilah kaum muda perlu bijak dan sarat perhitungan ketika memasuki ranah politik. Motivasi yang tulus, altruisme warisan semasa di kampus, belum cukup manakala pematangan diri belum dilatih.

Latihan pertama adalah bersikap kritis pada partai. Menelusuri sisi plus-minus partai sebagai alat menyalurkan aspirasi dan mewujudkan narasi pikiran. Bukan antipati pada partai yang dituju, melainkan seberapa jauh kaum muda bersiap menghadapi risiko. Inilah pengingat ketika mereka terbiasa bertindak harus cepat sebagaimana determinasi rutinitas mereka bersama gawai dan media sosial.

Baca Juga :  Mengapa Umat Islam Harus Peduli Pemilu?

Kaum muda yang bergaya dengan jas partai semoga saja benar-benar dewasa bukan karena umur biologis dipandang pantas. Atau karena pujian kiprah semenjana oleh media-media. Atau syubhat bisikan diri bahwa esok harus tampil lebih tinggi di skala nasional. Atau karena kemantapan hati bersebab kiprah sosial mencukupi sebagai modal politik.

Yang kita harapkan dari anak-anak muda itu adalah mukalaf politik. Tahu mana benar dan salah, baik dan buruk, dalam pelbagai timbangan ketika bertindak sebagai manusia politik. Dengan menjadi mukalaf politik, ia tahu risiko menempuh jalan abu-abu dengan kerangka kemaslahatan bagi publik.

Mukalaf politik pada anak-anak muda yang kini semringah berjas partai merupakan sebentuk kedewasaan untuk siap menempuh jalan yang tidak satu-dua langkah belaka, melainkan juga langkah melompat yang tak terpikirkan sebelumnya.

Nah, mampukah mereka menjadi sosok yang tamyiz, berakal, sekaligus juga paham mana kebenaran di tengah ketidakjelasan dunia politik.

Opini yang terkandung di dalam artikel ini adalah milik penulis pribadi, dan tidak merefleksikan kebijakan editorial Suaramuslim.net

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.