Antara Idulfitri, Takwa, dan Konsep Manusia
Ucapan Eid Mubarak (Ils: Dribbble/@F.X. Kushartono)

Suaramuslim.net – Allahu Akbar… Allahu Akbar… Allahu Akbar! Gema takbir berkumandang di seluruh dunia. Kalimat thayyibah yang menyatukan seluruh kaum muslimin, menjadi tanda bulan Syawal telah hadir di tengah-tengah kita, merayakan “kemenangan” atas keberhasilan membendung hawa nafsu dan syahwat selama sebulan penuh.

Namun, setelah Ramadan meninggalkan kita, ada satu hal yang menyisakan pertanyaan yang menuntut pembuktian: sudah sampai mana derajat takwa kita? Apakah kita sudah semakin memahami hakikat diri kita?

Makna Idulfitri

Idulfitri terdiri dari dua kata, yaitu ‘Iid dan al’-Fithr. ‘Iid bermakna hari raya, berakar dari kata ‘aada-ya’uudu-‘audatan yang berarti kembali. Subjeknya disebut ‘Aaid (orang yang kembali). Ketika Idulfitri kita seringkali mengucapkan minal ‘aaidiin wal faaizin (semoga kita tergolong orang yang kembali dan orang yang menang).

Ibnul ‘Arabi dalam Lisanul ‘Arab (3/315) mengatakan “summiya al-‘iidu ‘iidan liannahu ya’uudu kulla sanatin bifarahin mujaddadin” (dinamakan ‘Id karena berulang setiap tahun dengan kegembiraan yang baru).

Sedangkan al-Fithr mengacu pada bentuk kata afthara-yufthiru-ifthaaran yang memiliki makna memberi makan. Pengertian tersebut, secara bahasa, menunjukkan kembalinya umat Islam untuk makan dan minum setelah sebulan penuh berpuasa. Secara jelas umat Islam disunnahkan untuk makan dan minum sebelum berangkat menuju tempat salat id.

Jika kita menyinggung lagi redaksi minal ‘aaidiin wa al-faaiziin, ini menyiratkan akan sebuah makna tentang kedudukan Idulfitri bagi umat Islam. Hari raya ini bisa menjadi momentum akan pentingnya memahami arti “kembali” dan “menang,” memahami kembali hakikat diri kita sebagai seorang hamba dan makna bertakwa.

Konsep manusia

Manusia dalam bahasa Arab memiliki beberapa sebutan, seperti naas, ins, insaan, basyar, banii Aadam. Manusia disebut insan sebab manusia terkadang bisa saja lupa/khilaf. Makna basyar merujuk pada kulit manusia. Dalam Al-Qur’an Surah Al-Kahfi ayat 110 disebutkan, “qul innamaa ana basyarun mitslukum…” (katakanlah (Muhammad) sesungguhnya aku hanyalah manusia seperti kalian). Bani Adam menunjukkan bahwa manusia adalah keturunan Nabi Adam alaihissalam.

Imam Al-Ghazali, seorang pemikir besar muslim, dalam kitabnya Mizan al-‘Amal menyatakan bahwa esensi manusia adalah jiwa/ruh. Jiwa mempunyai hubungan erat dengan badan seperti hubungan antara penunggang kuda dengan kudanya.

Syed Muhammad Naquib Al-Attas menjelaskan hakikat manusia dalam bukunya Islam and Secularism. Dia menjelaskan bahwa antara agama (diin) dan penyerahan diri kepada-Nya (aslama) memiliki keterkaitan erat dengan hakikat manusia. Manusia terdiri dari dwi hakikat jiwa: jiwa akali dan jiwa hewani. Jiwa hewani sebagai representasi hawa nafsu haruslah tunduk kepada jiwa akali yang merupakan representasi akal dan hati nurani, sehingga jiwa akali bisa menuntunnya tunduk taat kepada syariat Allah.

Allah menciptakan segala sesuatu dengan tidak sia-sia (Ali-Imran: 191), tidak membiarkan manusia begitu saja (Al-Qiyamah: 36), apalagi menciptakan manusia dengan main-main (Al-Mukminun: 195). Lantas, apa yang menjadi tujuan diciptakannya manusia?

Tujuan penciptaan manusia secara gamblang tercantum dalam firman Allah, yaitu untuk beribadah kepada-Nya (Adz-Dzariyat: 56). Salah satu bentuk ibadah yang dijalankan seorang hamba adalah puasa, sedangkan tujuan dijalankannya puasa yaitu agar kita menjadi orang-orang yang bertakwa (Al-Baqarah ayat 183). Inilah yang menjadi tujuan utama kaum muslimin, sebab dengan menjadi orang yang bertakwa, ia akan mulia di sisi Allah (Al-Hujurat ayat 13).

Makna takwa

Jika suatu tatanan masyarakat secara kolektif itu bertakwa, keberkahan akan turun ke negeri tersebut. Allah Ta’ala berfirman, “Jika penduduk negeri-negeri tersebut beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan limpahkan keberkahan kepada mereka dari langit dan bumi.” (QS. Al-A’raf: 96).

Di akhir ayat 2 Surah Ath-Thalaq, Allah berfirman bahwa dengan takwa, Allah akan membukakan jalan keluar baginya dari setiap kesulitan. Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan banyak pendapat para ahli tafsir terkait ayat ini. Salah satunya dari Ali bin Abi Talhah yang meriwayatkan dari Ibnu Abbas terkait makna firman-Nya, “Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar,” bahwa Allah akan menyelamatkannya dari setiap kesusahan di dunia dan akhirat. Tidakkah setiap diri kita mengharapkan yang demikian?

Lalu, apa yang dimaksud takwa? Takwa secara bahasa berasal dari kata waqa-yaqi-wiqayah yang berarti tameng, menjaga/memelihara diri. Banyak ulama yang mendefinisikan takwa.

Ibnu Abbas mendefinisikan takwa sebagai perbuatan takut berbuat syirik kepada Allah dan selalu mengerjakan ketaatan kepada-Nya. Imam Ibnul Qayyim dalam Kitab Al-Fawaaid menyebutkan bahwa hakikat takwa ada di hati. Secara umum, para ulama memberikan definisi takwa sebagai “menjalankan setiap apa yang diperintahkan Allah, dan menjauhi segala larangan-Nya.”

Tentunya amalan-amalan ketakwaan dilakukan dengan landasan iman, sebab di dalam Al-Qur’an, kata takwa hampir selalu disandingkan dengan iman, ada perintah takwa setelah Allah menyeru orang-orang yang beriman. Dalam hadis terkait amalan ketaatan berupa puasa juga disebutkan, “barangsiapa berpuasa atas dasar iman dan mengharap ridha Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (Al-Bukhari dan Muslim).

Antara puasa dan takwa

Puasa merupakan kewajiban yang diperintahkan untuk setiap muslim. Menjalankan puasa berarti menjalankan salah satu perintah-Nya. Puasa (shaum) adalah ibadah menahan tidak hanya makan dan minum, tetapi juga apa-apa yang berkaitan dengan syahwat manusia, terutama keinginan untuk melakukan maksiat.

Sehabis puasa Ramadhan, bukan berarti menjadi ajang “balas dendam” untuk melampiaskan syahwat yang sempat tertahankan di bulan tersebut. Di dalam sebuah hadis Nabi bersabda, “ash-shiyaamu junnatun” (puasa adalah perisai) (An-Nasa’i dan Ibnu Majah).

Salah satu manfaat kita berpuasa, di samping dari sisi kesehatan, adalah kita dilatih mampu tidak melakukan kemaksiatan. Ditambah lagi, di bulan Ramadan terdapat ganjaran pahala yang berlipat ganda bagi siapa pun yang melaksanakan ibadah, termasuk amal kebaikan.

Dalam tafsirnya Ibnu Katsir mengatakan, “di antara balasan kebaikan adalah kebaikan berikutnya dan di antara balasan kejelekan adalah kejelekan berikutnya.” Artinya, yang menjadi tanda amal kita diterima adalah ketika kita melakukan amal kebaikan selanjutnya. Di sinilah istiqamah menjadi kunci utama amalan kita, tidak hanya dilakukan pada saat Ramadan saja.

Ketika Ramadan berlalu, kebiasaan-kebiasaan tersebut; menahan diri tidak bermaksiat dan melaksanakan ibadah secara kontinu; juga terus dilakukan, sehingga puasa bukan hanya berfungsi sebagai ritual formalitas semata yang tidak memberikan efek apa-apa pada pribadi muslim. Dengan demikian, predikat muttaqiin (orang-orang yang bertakwa) pun bisa diraih. Bukankah kita semua ingin menjadi manusia yang mulia?

Oleh: Azrul Kiromil Enri Auni
Opini yang terkandung di dalam artikel ini adalah milik penulis pribadi, dan tidak merefleksikan kebijakan editorial Suaramuslim.net

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.