Atha’ bin Abi Rabah dan Terguncangnya Istana Khalifah Hisyam bin Abdul Malik

0
Atha’ bin Abi Rabah dan Terguncangnya Istana Khalifah Hisyam bin Abdul Malik

Suaramuslim.net – Di zaman Umayyah, ketika khalifah Sulaiman bin Abdul Malik meninggal dunia, beliau digantikan oleh adiknya Hisyam bin Abdul Malik. Pada saat Hisyam menjadi khalifah, beliau meminta kerabatnya untuk menginformasikan orang-orang yang sebelumnya berhubungan dengan Sulaiman bin Abdul Malik. Dan kesalehan Sulaiman yang mencintai ulama juga diketahui oleh adiknya. Atha’ yang menjadi Mufti (penasehat) di zaman Sulaiman pun tak digantinya.

Pada suatu waktu, Atha’ bin Abi Rabah datang ke istana khalifah dengan membawa hajat kaum muslimin. Perjalanan dari Makkah ke Damaskus yang jauh (kurang lebih satu bulan) ditempuhnya menggunakan keledai tua dan pijakan kaki sederhana yang terbuat dari kayu. Ketika hampir sampai di depan pintu istana, Atha’ bin Abi Rabah terlihat oleh Atha’ Al Khurasani yang juga merupakan seorang ulama dari Persia. Atha’ Al khurasani merupakan seorang ulama yang berasal dari anak pejabat pada saat itu sedang mengendarai kereta kencana.

Ketika melihat Atha’ bin Abi Rabah, Atha’ Al Khurasani memberhentikan kereta kencananya, dan langsung turun lalu menuju Atha’ bin Abi Rabah. Anak Atha’ Al Khurasani yang juga berada dalam kereta kencana tersebut sempat terkejut karena ayahnya rela berjalan menemui orang lain. Sebab biasanya ayahnyalah yang ditemui oleh orang lain. Anaknya semakin terkejut ketika melihat ayahnya memeluk dan bersalaman dengan orang tersebut seperti sahabat lamanya.

Atha’ Al Khurasani pun mengobrol dan kemudian kembali ke kereta kencana lalu berkata, “Wahai anakku, saya akan masuk bersamanya menemui amirul mukminin”.

Anaknya bertanya, “Wahai ayah, siapa orang itu? Saya belum pernah melihat orang semiskin itu”. Ayahnya menjawab, “Hati-hati dengan lisanmu, ini adalah Atha’ bin Abi Rabah”.

Anaknya pun terkejut dengan berkata, “Atha bin Abi Rabah? Alim Ulama?” Ayahnya menjawab, “Iya, maka dari itu berhati-hatilah. Walaupun bukan Atha’ bin Abi Rabah, kau tidak pantas mengucapkan hal itu”. Lalu anaknya pun beristighfar kepada Allah.

Setelah itu Atha’ Al Khurasani berjalan kaki bersama Atha’ bin Abi Rabah memasuki istana. Selepas keluar dari istana, Atha’ Al Khurasani menceritakan peristiwa di dalam istana kepada anaknya.

Beliau berkata, “Demi Allah, kalau bukan karena Atha’ bin Abi Rabah, saya tidak diizinkan masuk”. Ketika beliau berdua masuk, khalifah Hisyam bin Abdul Malik berdiri dari singgasananya dan berjalan mendekati Atha’ bin Abi Rabah. Orang-orang yang disekitarnya tidak mengetahui bahwa yang datang adalah Atha bin Abi Rabah. Sebab mereka hanya mengetahui namanya, belum mengetahui wujud orangnya.

Hisyam pun mengatakan kesinilah wahai Abu Muhammad (Ayahnya Muhammad, julukan kepada Atha’ bin Abi Rabah yang memiliki anak bernama Muhammad). Ketika Atha’ bin Abi Rabah mendekati suatu kursi, Hisyam mengatakan, tidak, kesinilah wahai abu Muhammad. Dan pada akhirnya, Atha’ bin Abi Rabah didudukkan di sebelah singgasana Hisyam bin Abdul Malik.

Setelah duduk, Hisyam bertanya kepada Atha’ bin Abi Rabah, “Wahai abu Muhammad, ada hajat apa?” Atha’ menjawab, “Saya ada beberapa hajat. Pertama, penduduk Makkah dan Madinah wahai amirul mukminin, terlambat athaya (pemberian kerajaan dari sisa hasil pendapatan negara) mereka. Maka saya mengingatkan Anda kepada Allah, agar memberikan athaya mereka”. Hisyam pun menyuruh sekretarisnya untuk mencatat dan memberikan sekarang juga.

Lalu beliau bertanya, “Ada lagi wahai Abu Muhammad?”. Atha’ menjawab, “Ada lagi, para mujahidin yang membela perbatasan kaum muslimin, terlambat gaji-gaji mereka, anak istri mereka mengeluh kepada saya, maka berikanlah hak mereka”. Hisyam pun menyuruh sekretarisnya untuk mencatat dan memberikan sekarang juga. Dan setelah itu Atha’ pun melanjutkan hajat-hajat kaum muslimin lainnya.

Setelah beberapa hajat tersampaikan, Hisyam bertanya kepada Atha’, “Adakah lagi wahai Abu Muhammad?”. Atha’ pun berdiri tegak dihadapan amirul mukminin lalu mengatakan kalimat yang “mengguncangkan” istana Khalifah Hisyam bin Abdul Malik.

Dia mengatakan, “Wahai amirul mukminin ada hajat yang lebih penting dari semua hajat yang telah saya sampaikan tadi”. Kata Hisyam, “Apa itu wahai Abu Muhammad?”.

Sontak orang-orang yang disekitarnya pun kaget, sebab belum pernah ada orang yang berbicara dengan berdiri di depan khalifah sambil menunjuknya.

Atha’ pun menjawab, “Demi Allah wahai amirul mukminin, kau dilahirkan di bumi ini sendirian, dan kau juga akan mati sendirian, dan kau akan dihisab oleh Allah sendirian. Demi Allah, semua yang kau lihat disekitarmu ini tidak akan memberikan manfaat kepadamu. Maka bertakwalah kepada Allah”.

Hisyam yang mendengarkan ucapan Atha’ tiba-tiba menangis luar biasa sambil memukul-mukulkan tongkatnya ke tanah. Lalu hisyam sambil menangis berkata, “Jazakallah khairan (semoga Allah membalasmu dengan kebaikan)”.

Setelah itu, Atha’ bin Abi Rabah dan Atha’ Al Khurasani pun keluar. Dan Atha’ bin Abi Rabah tidak minum sedikitpun dari segelas air yang telah disediakan. Dan pada saat mereka tiba di pintu gerbang, ada seorang sekretaris yang mengejar sambil membawa sekantong uang emas untuk diberikan kepada Atha’ bin Abi Rabah. Lalu Atha’ pun berkata, “Demi Allah saya datang bukan untuk ini”. Dan beliau pun meninggalkannya.

Melalui kisah ini terdapat beberapa pelajaran yang dapat kita ambil. Pertama, kecerdasan khalifah Hisyam yang meminta informasi tentang orang-orang yang pernah berhubungan dengan khalifah sebelumnya. Sebab ia tau, orang-orang tersebut juga berperan dalam kemajuan dan kebesaran kerajaannya. Kesetiaan dan ketawadhu’an Hisyam juga terlihat dengan tidak menggantikan Atha’ yang pada saat itu menjadi mufti.

Sifat muru’ah yang melekat pada diri kakaknya juga diteladani oleh Hisyam bin Abdul Malik. Hal ini terlihat ketika bagaimana ia menyambut kedatangan Atha’ bin Abi Rabah dan Atha’ Al Khurasani. Kesabarannya dalam mendengar setiap pesan yang disampaikan oleh Atha’ menunjukkan arti pentingnya seorang pemimpin dalam mendengar. Tindakannya yang cepat juga menjadi arti penting bahwa seorang pemimpin harus memiliki responsifitas yang tinggi.

Dari Atha’ bin Abi Rabah kita dapat belajar bagaimana seorang alim ulama menyampaikan pesan kepada pemimpin. Kemasyhurannya di masyarakat tak menjadikannya mendekati pemimpin untuk kepentingan pribadinya. Sebaliknya, ia justru menasihati Hisyam sebagai khalifah pada saat itu untuk memberikan hak-hak rakyatnya yang belum terpenuhi.

Penghormatan Atha’ Al Khurasani kepada sesama ulama juga dapat kita teladani, bahwa ilmu yang tinggi bukan berarti menjadikan kita saling beradu ilmu untuk menyombongkan diri. Sebaliknya, Atha’ Al Khurasani membuktikan ketinggian ilmunya dengan perilakunya yang sangat menghormati Atha’ bin Abi Rabah. Kekayaan yang dimilikinya juga tidak membuatnya merasa rendah diri ketika bersalaman, berpelukan, dan berjalan bersama Atha’ bin Abi Rabah pada saat akan memasuki istana khalifah Hisyam bin Abdul Malik.

Kontributor: Aiman Bahalwan*
Editor: Oki Aryono

*Mahasiswa Ilmu Politik Universitas Airlangga dan Founder Penulis Muda Sidoarjo

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here