Autis Harakah

Suaramuslim.net – Berjemaah itu bersiap dengan segala pengagungan simbol-simbolnya. Di sinilah kebetahan menjadi insider dimaklumi, hingga kemudian terbitlah prahara di antara al-akh sendiri. Untuk itu, sejak awal  ada baiknya kita mengimbangi—bahkan melampaui—berjemaah itu perlu sebagai outsider. Mengapa? Karena jemaah kadang begitu “kejam” pada sesama al-akh sejemaah tapi tidak demikian ketika menyikapi “orang luar”. Sedikit berbeda dalam sejemaah, kadang berujung tidak mengenakkan. Tidak demikian bila jemaah dakwah menyikapi orang lain, orang luar.

Di titik ini, ada gunanya bila kita memosisikan sebagai “penderita” autis harakah sejemaah. Tidak memedulikan simbol kasat mata yang dianggap penting bagi para al-akh. Sebab, kadang memegang simbol begitu keterlaluan melewati kadar kemestian berislam. Atas nama baiat di jemaah, aturan-aturan yang dalam agama kita begitu indah bisa terkesan rumit dan pelik. Menikah yang begitu sederhana diatur dalam Islam, menjadi persoalan manakala dikaitkan dengan sudah atau belumnya baiat. Padahal, sesama calon mempelai sama-sama dari kalangan bertakwa.

Berjemaah dakwah kadang merumitkan hal-hal lahiriah yang mengikat mereka sebagai pertubuhan orang-orang saleh. Tapi sayang, sering kali mereka keluar dari batas kewajaran sehingga orang lain yang awam melihatnya berbeda. Hanya saja, mereka memandang orang lainlah yang “berkelainan”. Maka, menjadi autis harakah adalah putusan masuk sebagai pihak yang “terjangkiti” pemosisian semacam itu. Ini satu pilihan agar kita sebenarnya bisa berbaur dengan para awam yang tak mengerti dengan logika para al-akh di harakah.

Harakah dakwah, sejatinya, yang penting bagi publik adalah berandil memberi yang mereka perlukan. Kepada mereka khidmat mestinya diberikan. Soal gunjingan di balik layar pada “ABK”, al-akh berkebutuhan khusus, anggap saja deruan unta kafilah berlalu. Maka, semeja berbincang menggali apa yang mesti diperbuat bagi umat jauh lebih penting ketimbang stigma identitas. Dengan siapa saja di antara faksi-faksi harakah yang kadang saling berseteru untuk bisa merajut beda yang ada. Karena tidak ada kepentingan meniti karir lewat jalur demikian. Orang sana dan orang sini hanya simbol ketidakdewasaan yang tak mesti disikapi dengan kepanikan. Setidaknya bagi “penderita” autis harakah itu semua absurd.

Autis harakah adalah tentang fokus pada hal ke depan. Ia antitesis dari cara berharakah lama yang selalu menoleh ke belakang tapi cara memperlakukannya berlebihan. Kriteria berkaca pada kesilaman sering kali tidak konsisten. Konflik yang ada lebih sebagai persoalan sepele tapi disikapi dengan cara baca “besar”. Sebaliknya, ada soal besar dan mengusik hari esok, justru diperlakukan sepele. Orang-orang baik ditepikan karena berbeda suara. Orang-orang muda disingkirkan hanya karena dianggap seturut dengan para pembangkang dakwah. Padahal, orang-orang itu tak lebih tengah mengartikulasikan kecintaan pada masa depan dakwah.

Autis harakah, pada akhirnya, satu eufemisme untuk mereka yang mencintai gerakan dakwah tapi sebenarnya sikap tengah memerosokkan agama ini. Mereka merasa “normal” tapi sebenarnya mengancam jemaah muslimin. Mereka malah menuding yang tidak serupa mereka sebagai “abnormal” dan merusak.*

*Opini yang terkandung di dalam artikel ini adalah milik penulis pribadi, dan tidak merefleksikan kebijakan editorial Suaramuslim.net

 

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.