Aware terhadap Blind Spot Diri

Aware terhadap Blind Spot Diri

Aware Terhadap Blind Spot diri

Suaramuslim.net – Kenapa kita membutuhkan coach?

Apakah kita ingin mengetahui kekurangan-kekurangan kita?

Apakah kita ingin mengetahui tentang potensi kita yang masih bisa dikembangkan?

Apakah kita ingin tahu kemampuan yang selama ini tidak disadari?

Blind spot adalah daerah kecil berbentuk oval berwarna putih pada retina mata yang berhubungan dengan saraf optik di otak. Daerah ini tidak sensitif terhadap cahaya karena tidak memiliki ujung saraf yang responsif terhadap reseptor cahaya. Dengan keadaan ini, maka ada daerah yang tidak bisa dijangkau oleh penglihatan kita pada saat-saat tertentu, terutama saat sedang fokus pada titik tertentu. Istilah ini tidak hanya dipakai dalam bidang kesehatan saja, dalam hidup keseharian istilah blind spot sering dipakai untuk menggambarkan seseorang yang tidak mampu melihat semua yang dilihat matanya. Ia membutuhkan bantuan untuk dapat melihat di area blind spot ini.

Konsep blind spot menurut Stephen Covey adalah area gelap diri kita, yang merupakan area terang bagi orang lain. Artinya, orang lainlah yang bisa melihat dan menemukan apa yang tidak bisa kita lihat di dalam diri kita. Ilustrasi sederhanannya, ”Tanpa bantuan cermin, kita tidak bisa melihat tengkuk leher kita, bukan?”.

Ketidakmampuan melihat “tengkuk leher” kita sendiri, menjadikan tengkuk leher yang berada dibagian belakang leher sebagai blind spot kita. dengan bantuan cermin, maka kita bisa melihatnya. Peran cermin inilah yang kita butuhkan dari orang lain dalam membantu kita melihat dan mengelola blind spot kita. Di setiap orang sukses dan hebat, seperti atlet, pebisnis, motivator, penyanyi, guru, orang tua hebat ataupun superstar sekalipun, selalu dikelilingi oleh coach dan penasihat. Mereka membutuhkan orang lain untuk melihat kekurangan diri, karena mereka tidak mampu melihat semua kekurangan dirinya sendiri. Karena itulah kita memerlukan orang lain untuk menasihati, mengkritik ataupun menegur jika kita melakukan kesalahan. Karena kita bukan manusia sempurna, maka kita membutuhkan orang lain sebagai “mata” untuk melihat blind spot kita.

Kita bisa mengambil contoh dari Novak Djokovic. Seorang juara dunia sekalipun memiliki blind spot dalam karier profesionalnya. Novak Djokovic merupakan seorang berkebangsaan Serbia yang menjadi petenis nomor satu dunia sejak 4 Juli 2011. Namun pada tahun 2013, ia kehilangan predikat tersebut karena dikalahkan oleh Rafael Nadal dari Spanyol dan Andy Murray dari Inggris. Kekalahan beruntun yang Djokovic alami membuatnya berpikir seribu kali dan berusaha memahami mengapa ia mengalami kekalahan.

Pada akhirnya, pemain dunia sekelas Novak Djokovic memahami bahwa ia memiliki blind spot. Djokovic kemudian menghubungi Boris Becker yang merupakan mantan pemain tenis nomor satu dunia. Djokovic meminta Becker untuk menjadi pelatih kepala baginya. Alasannya meminta Becker menjadi pelatihnya adalah karena ia juga seorang pemain tenis nomor satu dunia dan pemegang enam gelar Grand Slam di era 1980 sampai 1996. Becker memahami dengan tepat apa saja yang dialami oleh seorang pemain tenis tingkat dunia. Tekanan mental dan melihat kelemahan lawan seringkali merupakan blind spot para pemain yang harus dibantu oleh orang lain.

Betapa pentingnya peran coach bagi kita yang masih muda-muda ini untuk melatih, membina dan mengarahkan diri kita. Maksud coach disini adalah panutan yang bisa kita dekati untuk membentuk kita menjadi pribadi yang lebih baik dan optimal. Orang itu bisa berupa teman, ustaz, guru, motivator, maupun orang tua kita. karena memang melihat kekurangan diri sendiri itu lebih sulit. Susah untuk bersikap kritis terhadap diri sendiri. akhirnya kita sulit menentukan mana yang harus dimaksimalkan dan mana yang harus diperbaiki. Seperti kisah, Novak Djokovic dia tidak akan bisa menjadi salah satu petenis hebat kalau dia tidak mau “dimuridkan” oleh pelatihnya.

Mau menerima untuk dimuridkan bukanlah sesuatu yang mudah. Butuh kerendahan hati serta hati yang lapang untuk menerimanya. Seorang murid harus siap menjalankan dan tunduk di bawah instruksi gurunya. Sebab apa yang diperintahkan untuk dilakukan adalah cara pelatih untuk mengganti “kacamata kuda” yang selama ini dia kenakan. Seorang pelatih mempunyai cakrawala yang lebih luas dalam memandang dirinya.

Pertama-tama dia akan merubah paradigma serta kebiasaan lama kita. Kemudian pelatih akan mengoreksi keyakinan-keyakinan kita yang salah. Lalu seiring berajalannya waktu, latihan yang diberikannya pada kita akan memunculkan potensi diri kita hingga kita menjadi manusia yang lebih baik. Ingat bukan karena dia lebih hebat dari diri kita, tapi kita butuh seorang yang lebih kompeten, bijaksana, dewasa, serta memiliki lebih banyak pengalaman hidup untuk melihat apa yang diri kita sendiri tak bisa melihat.

Penting untuk diingat: 1. Anda harus menyadari bahwa setiap orang memiliki titik butanya masing-masing, 2. Anda hanya dapat ditolong dengan menghadirkan orang lain dalam kehidupan, 3. Karena Anda membutuhkan orang lain untuk menolong diri Anda, seharusnya tidak ada ruang kesombongan di hati karena Anda tidak melakukannya seorang diri, 4. Kalau Anda merasa tidak memiliki titik buta, mungkin saja Anda sudah menjadi buta, karena itu biarkan orang lain menolong Anda dan jangan biarkan diri Anda terjerumus ke dalam lobang.

Batas yang sesungguhnya dari kebutaan manusia adalah senang atau bangga untuk menjadi buta.

Kontributor: Jefri Firmansyah, S.Psi
Editor: Oki Aryono

Like this article?

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on WhatsApp
Share on Telegram

Leave a comment