Bagaimana Nabi Muhammad Berinfaq

Suaramuslim.net – Judul sekaligus pertanyaan ini membuat penulis penasaran. Sebenarnya Rasulullah saw ketika berinfaq seperti apa ya? Mengingat beliau mendapat ghanimah begitu besar. Belum lagi hadiah dari rekan-rekan dari kabilah-kabilah yang lain yang telah masuk Islam.

Daripada penasaran mungkin perlu menengok kembali beberapa kisah bagaimana beliau berinfaq. Seorang sahabat bernama Jabir bin Abdullah ra berkata, ”Tidaklah Nabi Muhammad saw. dimintai sesuatu, kemudian beliau mengatakan, tidak! Sahabat Anas ra. dan Sahal bin Saad juga memberikan kesaksian serupa terhadap pribadi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam”.

Dalam hadits yang lain, Ibnu Abbas ra. mengisahkan, ”Nabi Muhammad saw. adalah manusia paling pemurah, khususnya ketika beliau bertemu dengan Jibril pada bulan Ramadhan. Jibril selalu menemui beliau setiap malam di bulan Ramadhan untuk bertadarus Al Quran. Bahkan kedermawanan beliau pada waktu itu lebih besar dari hembusan angin”.

Pada kesempatan yang lain sahabat Anas ra. memberikan kesaksian tentang kedermawanan Rasulullah saw. Ada seseorang minta bantuan kepada Nabi Muhammad saw. beliau pun memberinya sejumlah kambing yang memenuhi dua bukit, sehingga pulang ia pulang ke kampung atau kabilahnya seraya berkata kepada orang-orang, ”Wahai kaumku, sebaiknya kalian masuk Islam, karena jika memberi sesuatu, Muhammad memberi sebanyak-banyaknya dan ia tidak pernah takut menjadi miskin”.

Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam pernah memberi seratus ekor unta bukan hanya kepada seseorang saja. Bahkan beliau pernah memberi Safwan seratus ekor unta, kemudian seratus ekor unta lagi, kemudian seratus ekor unta lagi.

Sifat kedermawanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah dikenal banyak orang sebelum jadi rasul. Sebuah kesaksian dari Waraqah bin Naufal, ”Sesungguhnya engkau dikenal sebagai orang yang gemar menolong orang yang tidak mampu dan gemar memberi orang yang butuh pertolongan.”

Kesaksian yang tidak mungkin dibuat-buat. Kesaksian dari seorang tokoh yang jujur. Setiap perkataannya mengandung kebenaran masa depan. Mengingat beliau penganut ajaran Nabi Ibrahim. Mempelajari dua kitab suci secara langsung. Taurat dan Injil. Dari sini sudah cukup.

Tidak hanya memberi dalam bentuk materi saja. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam juga pernah membebaskan enam ribu tawanan dari suku Hawazin. Coba renungkan sekaligus menghitung. Jika harga satu budak seperti Umaiyah bin Khalaf mematok harga kepada Abu Bakar ra dalam pembebasan Bilal ra yaitu 9 uqiyah emas. 1 uqiyah emas senilai 31, 7475 gram emas atau setara dengan 7,4 dinar emas. Jika harga 1 dinar emas sekarang sebesar Rp 2.370.000; berarti dana yang dikeluarkan adalah sebesar (9 x 7,4 x Rp 2.370.000;) atau Rp. 157.842.000;. kemudian dikali enam ribu tawanan (6000 x Rp. 157.842.000;= Rp. 947.052.000.000). Sembilan ratus milyar lebih.

Dan pembebasan di atas Rasulullah tidak mendapat sepeserpun. Andai memintapun pasti akan diberikan oleh suku Hawazin. Bahkan jika minta selirpun pasti akan diberikan oleh suku tersebut. Namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak melakukan itu. Kepentingannya hanya kepada Islam dan berkembangnya dakwah Islam di suku tersebut. Sekaligus sebagai pembuktian diri siapa dan bagaimana kualitas beliau shallallahu ‘alaihi wasallam.

Dalam diri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak ada sedikitpun kebakhilan. Sayang dengan harta yang ditangannya. Jika ada yang meminta tentu akan diberikan dengan segera. Namun kita sebagai ummatnya mencontoh dan meniru sesuai dengan kadar keimanan masing-masing. Mengingat beragama sesuai dengan kemampuan masing-masing tetap berlaku.

Kontributor: Muslih Marju
Editor: Oki Aryono

*Guru di SD Inovatif Aisyiyah Kedungwaru-Tulungagung

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.