Batasan Bercanda Dalam Islam

Batasan Bercanda Dalam Islam

Batasan Bercanda Dalam Islam
Ilustrasi Bercanda. (Ils: Dmitry Moiseenko/dribbble)

Suaramuslim.net – Sunnah Rasululloh mengajarkan kepada kita untuk terus-menerus terlihat tersenyum, karena tersenyum ketika bertemu saudara kita adalah amal. Ini adalah contoh yang baik dalam kehidupannya, Namun bagaimana Rasululloh menilai lelucon dan bercanda?

Kita tahu bahwa meniru perilaku Nabi Muhammad adalah hal yang menguntungkan dan bermanfaat untuk dilakukan, lalu apa yang bisa kita temukan dari Quran dan Sunnah mengenai humor dalam Islam?

Saat ini sangat umum kita lihat muslim di seluruh dunia ikut dalam program komedi tidak sehat. Apakah diperbolehkan bagi seorang Muslim untuk mengolok-olok Muslim lain atau orang lain?

Ketika kita bertanya kepada diri sendiri mengenai pertanyaan semacam ini, kita harus ingat dua poin yang sangat penting. Yang pertama adalah bahwa Islam adalah agama yang dirancang oleh Pencipta kita untuk semua umat manusia, di mana pun dan kapan pun. Suatu kebodohan jika kita berpikir bahwa Allah tidak tahu bagaimana komedi akan berkembang di abad 21. Kedua, Islam adalah agama jalan tengah. Kita diingatkan untuk mengikuti jalan tengah dan tidak memilih jalan ekstrem atau yang lain.

“Sesungguhnya agama itu mudah. Tidaklah seseorang mempersulit (berlebih-lebihan) dalam agama melainkan ia akan dikalahkan. Oleh karena itu kerjakanlah dengan semestinya, atau mendekati semestinya dan bergembiralah (dengan pahala Allah) dan mohonlah pertolongan di waktu pagi, petang dan sebagian malam”. (Al-Bukhari, 39)

Al Quran tidak melarang tertawa, dan ada banyak contoh dalam literatur Islam yang memberikan penjelasan mengenai kemudahan dalam islam.

“dan bahwasanya Dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis.” (QS An Najm: 43)

Bilal bin Sa’ad mengatakan: “Saya melihat mereka (sahabat yang) bercanda berpura-pura untuk memperebutkan beberapa barang, dan tertawa satu sama lain, tetapi ketika malam datang mereka seperti umat yang khusu’.”

Ibnu Umar ditanya: “Apakah sahabat itu tertawa?”

Dia mengatakan: “Ya, dan iman dalam hati mereka itu seperti gunung.”

“Sahabat memang melempar buah melon satu sama lain, tetapi ketika kondisinya harus serius, mereka adalah orang yang benar.”

Nabi Muhammad mengingatkannya bahwa lelucon dan tertawa adalah hal baik untuk didengar.

Salah satu sahabat, seorang pria bernama Handhala berpikir bahwa kehidupan seharusnya menjadi kaku dan serius sepanjang waktu, benar-benar bebas dari kesenangan dan hiburan. Dia bahkan berpikir ia akan menjadi munafik jika ia bermain-main atau tertawa. Nabi Muhammad mengingatkan dia bahwa bercanda dan tertawa itu baik untuk jantung, ia berkata:

“Tapi Handhala, segarkan hatimu setiap saat.”

Nabi Muhammad akan bercanda dengan teman-teman dan para sahabatnya dan pernah ditanya:

“Wahai Rasulullah, apakah Anda bercanda dengan kami?”

Dia menjawab: “Saya hanya mengatakan apa yang benar.” (At-Tirmidzi, 1990)

Dengan demikian kita tahu bahwa dalam islam humor yang diperbolehkan adalah humor yang tidak melampaui batas-batas kebenaran, dan bertujuan untuk penyegaran hati dan pikiran. Berikut ini adalah batasan humor yang bisa anda lakukan guna mencerahkan suasana hati, tetapi juga dapat diterima secara Islam.

Jika kita dihargai untuk senyum sederhana, bercanda untuk menciptakan cinta antara Muslim, atau untuk menarik orang untuk belajar lebih banyak tentang Islam, hal ini bisa dihargai.

  1. Dilarang bercanda atau mengejek mengenai agama

    Ini merupakan tindakan yang membatalkan Islam seseorang. Ini adalah suatu hal yang sangat serius.

    Dan jika kamu tanyakan kepada mereka, niscaya mereka akan manjawab, “Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah, “Mengapa kepada Allah, dan ayat-ayat-Nya serta Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak perlu kamu meminta maaf, karena kamu telah kafir setelah beriman. (QS At Taubah 65-66)

    ”Sesungguhnya seorang hamba yang mengucapkan suatu perkataan yang tidak dipikirkan apa dampak-dampaknya akan membuatnya terjerumus ke dalam neraka yang dalamnya lebih jauh dari jarak timur dengan barat” (Al Bukhari 6477)

  1. Bercanda hanya tentang hal-hal yang benar

    Jika anda bercanda dengan melibatkan kebohongan itu tidak diperbolehkan.

    “Celakalah orang yang berbohong agar orang lain tertawa, celakalah dia, celakalah dia.” (Tirmidzi 2315)

  1. Jangan Menakut-Nakuti Orang dengan Candaan Anda

    Suatu saat dalam bepergian, salah satu sahabat yang tertidur, yang lain punya beberapa tali dan mengikatnya. Pria itu terbangun dan ketakutan sehingga Nabi Muhammad berkata, “Hal ini tidak diperbolehkan bagi seorang Muslim untuk menakut-nakuti Muslim yang lain ‘. (Abu Dawud-, 5004)

  1. Jangan Menghina Orang (dengan mengedipkan mata atau komentar palsu)

    Seseorang harus berhati-hati supaya lelucon dan komentar anda tidak menyakiti perasaan orang lain atau menyakiti mereka dengan cara apapun.

    Orang-orang berbeda dalam kemampuan mereka untuk memahami atau “memaknai lelucon”. Berhati-hatilah bahwa Anda tidak main-main membuat orang lain merasa jelek, sakit hati atau dikhianati.

    Hai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk.  Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barang siapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang lalim. (QS 49:11)

Like this article?

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on WhatsApp
Share on Telegram

Leave a comment