tipologi anak

Suaramuslim.net – Setiap orangtua pasti menginginkan pendidikan terbaik bagi anak-anaknya. Hanya saja, dengan mengetahui tipologinya, akan sangat membantu dalam menyukseskan pendidikannya. Melalui petunjuk Al Quran, pembaca bisa mengetahui tipologi buah hati.

Buah Hati Sebagai Qurrata A’yun (Penyejuk atau Permata Hati)

Terkait tipologi ini Allah berfirman:

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَاماً

“Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. AL-Furqan [25]: 74)

Doa ini dilantunkan oleh “ibadurrahman” (Hamba-hamba Allah yang Maha Pengasih). Lahir dari kepala keluarga yang saleh dan penuh kasih sayang yang meninginkan hal terbaik untuk istri dan keturunannya. Anak dengan tipe demikian adalah anak yang menentramkan, menyenangkan dan menyejukkan hati.

Menariknya, yang diminta oleh ibadurrahman adalah istri salehah penyejuk, baru kemudian anak yang penentram hati. Ayat ini seolah memberi pelajaran berharga bahwa untuk mendapatkan anak dengan tipe demikian langkah awal yang perlu dipikirkan adalah memilih calon ibu yang salehah penentram hati. Jadi, peran ibu sangat dibutuhkan dalam melahirkan anak dengan tipe demikian.

Contoh rill yang terdapat dalam Al Quran adalah kisah Nabi Musa (yang lahir dari keluarga yang taat). Saat Fir’aun mengisntruksikan pembunuhan besar-besaran anak laki-laki dari kalangan Bani Israil, atas pertolongan Allah Musa selamat karena dihanyutkan ibunya di sungai Nil.

Menariknya, anak yang dibuang ini pada akhirnya menuju istana. Istri Fir’aun menjumpainya di pinggir sungai Nil. Melihat fenomena tersebut, permaisuri langsung membujuk sang raja tiran ini:

Baca Juga :  Persiapan Ini Wajib Sebelum Menikah

قُرَّتُ عَيْنٍ لِي وَلَكَ لَا تَقْتُلُوهُ عَسَى أَنْ يَنْفَعَنَا أَوْ نَتَّخِذَهُ وَلَدًا

“(Ia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya, mudah-mudahan ia bermanfa’at kepada kita atau kita ambil ia menjadi anak.” (QS. Al-Qashash [28]: 9)

Di sini, anak dikatakan sebagai penyejuk hati jika menjadi anak yang bermanfaat bagi orangtuanya. Asiah istri Fir’aun melihat itu dari sosok Musa ‘Alaihissalam.

Buah Hati Sebagai Perhiasan

Tipe ini disebutkan dalam surah Al-Kahfi [18] ayat 46:

الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِندَ رَبِّكَ ثَوَاباً وَخَيْرٌ أَمَلاً

“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.”

Syekh Sa’di dalam “Taisiir Kariim Al-Rahmaan” (2000: 479) menjelaskan bahwa: “(yang dimaksud dengan perhiasan ini) adalah anak (hanya menjadi dekorasi) yang tidak ada sesuatu (manfaat) di belakangnya.” Layaknya dekorasi, dia hanya akan menjadi pajangan dan aksesoris di rumah.

Namun, lanjutan ayat menunjukkan bahwa ada ungkapan amalan kekal lagi saleh setelah menyebut anak sebagai perhiasan. Ini menunjukkan bahwa agar anak tidak sekadar menjadi seperti perhiasan atau dekorasi maka perlu ditanamkan pada diri mereka amalan kekal lagi saleh. Yang ditafsirkan Syekh Sa’di sebagai segala bentuk ketaatan yang wajib dan yang dianjurkan yang merupakan hak Allah Subahanahu wata’ala. Itulah yang terbaik di sisi Allah dan sebaik-baik harapan.

Baca Juga :  Pendidikan Literasi untuk Anak
Buah Hati Sebagai Fitnah (Ujian)

Ini tercermin dengan jelas pada firman berikut:

وَاعْلَمُواْ أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلاَدُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللّهَ عِندَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ

“Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (QS. Al-Anfal [8]: 28) Begitu juga dalam surah At-Taghabun [64] ayat 15.

Syekh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi dalam “Aisar al-Tafaasir” (2003: II/300) menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan fitnah adalah anak akan menjadi sesuatu yang bisa menjadi ujian orangtua sehingga bisa memalingkannya dari ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Di akhir ayat disebutkan kalimat “sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar”. Ini menarik untuk dihayati. Orangtua kebanyakan melakukan sesuatu demi harta dan anaknya. Padahal, itu bisa menjadi fitnah yang memalingkannya dari jalan Allah. Maka, agar anak tidak menjadi demikian, maka harus diorientasikan kepada Allah. Karena, apa yang di sisi Allah adalah yang terbaik.

Buah Hati Sebagai Musuh

Tipe ini termaktub dalam surah At-Taghabun [64] ayat 14:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوّاً لَّكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ وَإِن تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Hai orang-orang mu’min, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Syekh Sayyid Ath-Thanthawi –mendiang Grand Syekh Al-Azhar—dalam kitab tafsir “Al-Wasith” (1997: XIV/432) menerangkan bahwa yang dimaksud dengan manjadi musuh di sini adalah mencakup permusuhan dalam masalah agama dan dunia. Misalnya istri dan anak menyembunyikan permusuhan, kebencian serta niat buruk kepada orangtua mereka disebabkan karena perbedaan watak, akidah dan akhlak.

Baca Juga :  Kebiasaan Sederhana Ini Bentuk Kepribadian Anak Jadi Luar Biasa

Salah satu sebab turunnya ayat ini –berdasarkan riwayat Ibnu Abbas— adalah ada orang Mekah masuk Islam kemudian ingin menyusul Rasulullah ke Madinah, namun dihalang-halangi oleh anak dan istrinya.

Menariknya, yang dipanggil dalam pesan ini adalah orang-orang beriman. Seolah-olah menunjukkan bahwa istri dan anak yang dididik dengan nuansa keimanan maka tidak akan menjadi musuh. Di samping itu, sebelum anak yang menjadi musuh, disebut istri terlebih dahulu.

Ini menunjukkan bahwa ibu yang buruk, berpotensi besar dalam menghasilkan didikan anak yang buruk. Maka harus waspada dan hati-hati. Namun, jika kepala keluarga mengambil sikap luhur berupa memaafkan, tak memarahi dan mengampuni mereka, maka akan mendapatkan ampunan dari Allah Subhanahu wata’ala.

Akhirnya, setiap anak berpotensi menjadi penentram hati, perhiasan, fitnah dan musuh bahkan keempat-empatnya sekaligus. Maka, di sini peran besar orangtua sangat dibutuhkan. Selain itu, pendidikan yang didasari atas dasar keimanan, ketaatan, amal saleh akan membuat anak menjadi penyejuk hati sebagaimana yang didambakan kebanyakan orangtua.

Kontributor: Mahmud Budi Setiawan
Editor: Oki Aryono

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.