Beginilah Caranya Agar Hati Terpaut dengan Al Quran

Suaramuslim.net – Sungguh termasuk karunia dan anugerah jika seseorang di kesehariannya dekat dengan Al Quran.

Imam at-Thobroni meriwayatkan dari sahabat Abdullah bin Amr bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa membaca Al Quran kemudian ia melihat bahwa sesungguhnya ada seseorang yang diberi anugerah melebihi apa yang ia terima maka sungguh ia telah merendahkan apa yang diagungkan oleh Allah ta’ala”.

Berikut ini ada 10 poin agar hati terpaut dengan Al Quran, sebagaimana yang disebutkan oleh Imam al-Ghozali rhu. dalam kitab Ihya’ Ulumiddin dalam bab “A’mal al-Bathin fi at-Tilawah”.

1. Fahm ashl al-Kalam (Memahami Sumber Ucapan)

Ketika seorang hamba sadar betul bahwa Al Quran itu kalamullah (Firman Allah), maka tentu perhatian terhadapnya melebihi dari yang lainnya. Kadang seseorang terlihat begitu bangga manakala ia mampu menyelesaikan sekian halaman buku per hari, tapi ia lupa tidak membaca Al Quran sama sekali di hari itu. Maka sebenarnya ia termasuk orang yang rugi.

Harusnya sebelum membaca buku apapun, Al Quranlah yang harus ia baca pertama kali. Sebelum mendengar apapun, lantunan bacaan Al Quran dari lisannya sendirilah yang patut ia dengar. Sebelum melihat apapun, idealnya mushaf Al Quranlah yang pertama kali ia lihat. Dan sebelum memikirkan apapun, kandungan satu ayat Al Quranlah yang hendaknya ia renungkan. Sehingga Al Quran benar-benar menjadi panduan dalam hidupnya.

2. At-Ta’dhim Lil Mutakallim (Mengagungkan kepada yang Berfirman)

Imam al-Ghazali memberikan nasehat: “Hendaknya orang yang membaca Al Quran menghadirkan dalam hatinya keagungan Dzat Yang Berfirman. Dan menyakini bahwa apa yang ia baca bukan perkataan manusia. Hendaklah pula muncul kekhawatiran dalam dirinya terkait firman Allah: ‘La Yamassuhu illal Muthohharun’ (Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan), sebagaimana dhohir kulit mushaf Al Quran dan kertasnya yang dijaga dari dhohir kulit orang yang menyentuhnya kecuali jika ia suci. Maka demikianlah halnya makna bathin dari Al Quran dengan keagungan dan kemuliaan-Nya juga tertutupi dari bathinya hati kecuali jika hati tersebut bersih dari segala kotoran dan penuh dengan cahaya mengagungkan Allah. Dan sebagaimana tidak layak setiap tangan menyentuh kulit mushaf Al Quran, maka tidak layak pula setiap lisan membaca huruf-hurufnya dan tidak layak pula setiap hari mendapatkan makna-maknanya Al Quran”.

Baca Juga :  Ibnu Katsir, Ulama yang Punya Keilmuan Komplit
3. Hudhuur Al Qalb (Hadirnya hati atau memusatkan perhatian)

Yaitu fokusnya hati dan otak kita saat membaca Al Quran Al Karim. Tidak membiarkan fikiran terbang kemana-mana. Sebaliknya berusaha membaca, memelajari, menghayati, dan memusatkan segala perhatian terhadap Al Quran Al Karim.

Kesibukan yang sifatnya duniawi harus ditinggalkan untuk sementara waktu. Terutama HP, minimal di “Silent” dan lebih baik lagi jika di off-kan. Sehingga mengganggu interaksi kita dengan Al Quran.

4. At Tadabbur

Poin ini merupakan kelanjutan dari poin ketiga di atas. Dimana kadang seseorang itu ketika membaca Al Quran dia sudah tidak lagi memikirkan yang selainnya. Tapi dia hanya mencukupkan diri dengan mendengarkan Al Quran dari dirinya sendiri dan tidak melakukan Tadabbur (merenungkan isi kandungan Al Quran). Padahal maksud membaca Al Quran dengan tartil adalah agar bisa mentadabburinya.

Sahabat Ali ra. mengingatkan: “Tidak ada kebaikan pada ibadah yang tidak disertai dengan pemahaman. Tidak pula (ada kebaikan) pada bacaan (al-Quran) yang tidak disertai dengan taddabur di dalamnya”.

5. At Tafahhum

Yaitu berusaha menyingkap maksud dari setiap ayat yang dibaca. Di dalam Al Quran disebutkan tentang sifat-sifat Allah swt., perbuatan-perbuatan-Nya, kisah Allah swt. Disebutkan pula di dalamnya perintah-perintah Allah dan larangan-larangan-Nya, juga terkait surga dan neraka. Semua itu hendaknya berusaha dipahami dengan baik dan benar untuk kemudian diambil pelajaran darinya.

Baca Juga :  Riba dalam Persepektif Al Quran
6. At- Takholli ‘An Mawani’ al-Fahm (Hilangkan Penghalan Kepemahaman)

Yaitu menghilangkan perkara-perkara yang menghalangi atas pemahaman Al Quran. Menurut Imam Ghazali ada 4 penghalang:

  • Fokus perhatian seseorang pada bentuk dhohir huruf Al Quran saja. Contohnya ia hanya memperhatikan bagaimana mengeluarkan huruf dari makhrajnya (tempat keluarnya) dan melupakan hal yang penting dari pada itu yaitu memahami makna yang terkandung di dalamnya.
  • Terlalu fanatik dan bertaqlid pada satu madzhab tanpa pernah untuk berusaha mendalaminya lebih jauh.
  • Terus menerus dalam kemaksiatan dan dosa baik kecil maupun besar.
  • Pernah membaca suatu kitab tafsir dan meyakini bahwa tidak ada tafsir yang lebih baik dari apa yang ia pahami.
7. At Takhsis (Pengkhususan)

Yaitu meyakini bahwa setiap ayat Al Quran itu ditunjukkan untuk diri kita kecuali ada keterangan khusus bahwa ayat itu ditunjukkan khusus untuk Rasulullah saw. Sehingga jika mendengarkan ayat Al Quran yang berisi perintah dan larangan, maka sebenarnya itu perintah yang harus kita laksanakan dan larangan yang harus kita tinggalkan.

Setiap ada ayat yabg menjelaskan tentang ancaman maupun janji itu pun ditujukan untuk kita. Demikian halnya saat membaca kisah-kisah para Nabi terdahulu dan kaumnya, maka kita sebenernya yang dituntut untuk mengambil pelajaran darinya.

Baca Juga :  Al Quran Sebagai Penyembuh, Bagaimana Mempraktikannya?
8. At Ta’atsur (Merasakan pengaruh Al Quran)

Yaitu hati merespon setiap ayat yang dibaca. Ketika sedang membaca ayat tentang rahmat Allah swt., muncul ar-Raja’ (harapan) kepada-Nya. Namun ketika membaca ayat tentang adzab Allah, pertanggungjawaban di akhirat nanti, maka muncul al-Khauf (rasa takut) kepada Allah. Begitu juga seterusnya, setiap ayat hendaknya direspon sesuai dengan pesan yang terkandung di dalamnya.

9. At-Taraqqi (Meningkat)

Yaitu meningkatnya seseorang yang sedang membaca Al Quran. Dimana ia meyakini bahwa ia sedang mendengarkan Al Quran itu langsung dari Allah swt.. Artinya ia sadar bahwa ia sedang di hadapan Allah swt. dan ia sedang dinasihati oleh-Nya.

Minimal kata Al Ghazali, orang yang membaca Al Quran itu merasakan seakan-akan ia di hadapan Allah swt. Allah melihatnya dan memerhatikan bacaannya. Maka dari sini akan muncul kerendahan hati dan pengagungan terhadap-Nya.

10. At Tabarri (Berlepas Diri)

Yaitu mengingkari daya kekuatan pribadi serta memandang dirinya dengan pandangan yang tidak memuaskan (serba kekurangan). Jika membaca ayat yang menyebutkan orang-orang sholih, maka ia tidak menganggap dirinya termasuk dari mereka. Sebaliknya sangat berharap untuk menjadi mereka.

Jika membaca ayat tentang siksa, para pelaku maksiat dan orang-orang yang dzalim. Maka ia menganggap dirinya termasuk dalam kelompok mereka. Kemudian memohon kepada Allah swt. agar menyelamatkannya dari keadaan itu. Wallahu A’lam

Kontributor: M. Ali
Editor: Oki Aryono

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.