Berkasih Sayang Antar Agama

Suaramuslim.net – Ajaran Islam yang saya yakini mengajarkan bahwa berbuat kebaikan dan berkasih sayang serta adil, tidaklah boleh memandang perbedaan agama. Nabi Ibrahim ‘alaihissalam bahkan pernah ditegur oleh Allah SWT, karena memberi syarat kepada orang yang tidak seiman. Kisah Nabi Ibrahim ini terekam dalam buku Pencerah Mata Hati, sebagai berikut:

Nabi Ibrahim AS dikenal sebagai seorang dermawan, beliau tidak berkenan makan bila tidak ditemani oleh pengemis. Pada suatu ketika, telah 3 hari beliau tidak dapat makan karena tidak ada pengemis yang datang. Beliau bermuhasabah apakah dosa yang dilakukannya sehingga Allah SWT tidak mendatangkan pengemis ke rumah beliau.

Hingga kemudian terdengar pintunya diketuk oleh seseorang. Ketika Beliau membuka pintu, tampaklah seorang pengemis di depan rumahnya dengan rambut kusut dan kotor dengan banyak tanah. Menyadari si pengemis bukan seorang penyembah Allah SWT, beliau bertanya apa agama pengemis itu, “Aku menyembah api.” Sebagai seorang salih, beliau  kemudian mengajak orang tersebut bertaubat sebagai syarat untuk mendapatkan makanan dari beliau. Pengemis tersebut akhirnya pergi tanpa membawa apapun. Belum lama berlalu, terdengar suara dari arah langit:

Baca Juga :  Saat Muhammad menjadi Rasulullah SAW

“Ibrahim, Aku dengan KetuhananKu tidak pernah mencabut rezekiKu meskipun dia mengingkariKu, dan melakukan dosa yang tak Kuampuni, yaitu menyekutukanKu. Namun, mengapa engkau, hambaKu, mengusirnya tanpa memberi sedikit makanan pun?”

Nabi Ibrahim pun bergegas mencari pengemis tadi untuk menjamu dan mengajaknya makan bersama.

Kisah di atas, memberikan pembelajaran bagi kita. Masalah keimanan adalah tanggung jawab pribadi untuk menemukan jalan akidah, yakni untuk menemukan Tuhan kembali, karena kita semua lahir dengan kondisi terlupa siapa Tuhan kita. Namun, muamalah harus terus berjalan.

Dalam Islam, diajarkan ‘tidak ada paksaan dalam beragama’ (QS Al Baqarah: 256). Dalam beragama saja tidak dianjurkan memaksa orang, apalagi dalam kehidupan sehari-hari. Tugas kita adalah menyampaikan pesan, bukan memaksakan pendapat. Setelah itu, biarkan mereka memikirkan hidupnya sendiri dan menjalani konsekuensi pilihannya.

Karena hidup adalah pilihan, maka tugas akal dan hati kita adalah untuk memilih dan menemukan Tuhan yang dapat menenteramkan hati dan akal.

Penulis: Dr Gancar C. Premananto*

*Koordinator Program Studi Magister Manajemen FEB Universitas Airlangga Surabaya

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.