Berpuasa untuk Mengubah Perilaku Konsumtif

Berpuasa untuk Mengubah Perilaku Konsumtif

Berpuasa untuk Mengubah Perilaku Konsumtif
Ilustrasi makanan yang terbuang. (Foto: fao.org)

Suaramuslim.net – Puasa sesuai aturan tidak boleh berlebih-lebihan. Tapi sayang, budaya berpuasa kita lebih konsumtif dan berlebihan. Setelah buka kita makan sebanyak-banyaknya bahkan melebihi saat tidak bulan puasa. Hal ini bisa dilihat dari harga-harga yang selalu naik begitu memasuki dan saat Ramadhan. Padahal Gusti Allah mengingatkan lewat Surat Al A’raf ayat 31, “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.”

Ada kajian menarik dari Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO), bahwa setiap tahun 1,3 miliar ton makanan yang terbuang, setara dengan jumlah yang sama yang diproduksi di seluruh sub-Sahara Afrika. Pada saat yang sama, 1 dari setiap 7 orang di dunia kelaparan dan lebih dari 20.000 anak di bawah usia 5 tahun mati setiap hari karena kelaparan. Sementara planet ini dipaksa berjuang untuk menyediakan sumber daya yang cukup untuk mempertahankan 7 miliar penduduknya (diperkirakan menjadi 9 miliar pada tahun 2050).

FAO memperkirakan bahwa sepertiga dari produksi pangan global akan terbuang atau hilang. Limbah makanan ini menjadi kontributor terhadap dampak lingkungan yang negatif.

Makanan yang terbuang, itu berarti bahwa semua sumber daya dan input yang digunakan dalam produksi semua makanan juga hilang. Sebagai contoh, dibutuhkan sekitar 1.000 liter air untuk memproduksi 1 liter susu dan sekitar 16.000 liter masuk ke dalam makanan sapi untuk membuat hamburger. Emisi gas rumah kaca dari sapi itu sendiri, dan seluruh rantai suplai makanan, semua berakhir sia-sia ketika kita buang makanan.

Produksi pangan global menempati 25% dari seluruh lahan layak huni dan bertanggung jawab untuk 70% dari konsumsi air tawar, 80% dari deforestasi, dan 30% dari emisi gas rumah kaca. Ini adalah penyebab terbesar hilangnya keanekaragaman hayati dan perubahan penggunaan lahan.

Hasil penyelidikan FAO itu mengisyaratkan bahwa persoalan lingkungan tidak dapat dilihat sebagai suatu yang berdiri sendiri, namun sangat terkait oleh perilaku manusia terutama dalam memenuhi kebutuhannya.

Beberapa hal yang patut dipertimbangkan bahwa “melimbahkan” makanan bukan hanya berdampak pada pemborosan keuangan namun juga limbah makanan juga akan menyebabkan:

  1. Pencemaran lingkungan.
  2. Pemborosan konsumsi bahan bakar (yang digunakan untuk transportasi) penyimpanan dan pendistribusian.
  3. Penggunaan bahan kimia, seperti pupuk dan pestisida yang telah digunakan selama masa penumbuhan tanaman.
  4. Makanan membusuk menciptakan lebih banyak metana (salah satunya penyebab gas rumah kaca yang paling berbahaya dan berkontribusi terhadap perubahan iklim). Metana 23 kali lebih kuat daripada CO2 menyumbang pembentukan emisi gas rumah kaca.

Sebuah contoh, yang tidak boleh lagi terjadi, Dinas Lingkungan DKI Jakarta mencatat adanya kenaikan volume sampah warga di Jakarta sebesar 4 persen selama bulan suci Ramadhan 2018. Selama bulan Ramadhan mulai 1 hingga 26 Ramadhan yang masuk ke TPST Bantargebang 7.999 ton per hari.

Demi lingkungan ciptaan Allah SWT, hablum minal ‘alam, maka ayo kita mulai berpuasa sesuai perintah. Kita berpuasa dengan sungguh-sungguh artinya kita hanya makan 2 kali saja, secukupnya dan tidak berlebihan.

Semoga puasa kita tahun ini Rahmatan Lil ‘Alamin*

Penulis: Dr Amin Widodo – Dosen ITS Surabaya

*Opini yang terkandung di dalam artikel ini adalah milik penulis pribadi, dan tidak merefleksikan kebijakan editorial Suaramuslim.net

Like this article?

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on WhatsApp
Share on Telegram

Leave a comment