Berwisata ke Kampung Islam di Bali
Pura Ulun Danu Bratan, Bali. (Foto: Thejakartapost)

Suaramuslim.net – Bali, sebuah wilayah yang terkenal dengan sebutan Pulau Dewata. Meski mayoritas penduduk Bali beragama Hindu, namun ada beberapa daerah yang dihuni oleh warga Muslim. Lokasinya tersebar hampir di seluruh kabupaten yang ada di Provinsi Bali. Sebagian bahkan dijadikan tujuan destinasi wisata religi selain makam wali pitu.

1. Kampung Gelgel, Klungkung

Tradisi Ngaminang di kampung Gelgel. (Foto: 1001indonesia.net)
Tradisi Ngaminang di kampung Gelgel. (Foto: 1001indonesia.net)

Menurut sejarah dan keterangan informasi beberapa tokoh di Bali, kampung Gelgel menjadi kampung muslim tertua di Pulau Dewata. Dari sanalah komunitas Islam berkembang ke berbagai wilayah di Bali. Di kampung Gelgel juga berdiri kokoh bangunan masjid tertua di Bali, Masjid Nurul Huda.

Sejarah Islam di kampung Gelgel bermula ketika Raja Gelgel Ketut Dalem Plesir melakukan perjalanannya ke Majapahit. Raja berserta prajuritnya yang kebetulan diizinkan menetap di kampung Gelgel menikahi penduduk setempat sambil menyebarkan ajaran Islam. 

Masyarakat muslim di kampung Gelgel punya tradisi khusus saat Bulan Ramadhan. Ngaminang, tradisi buka bersama warga muslim Gelgel yang sarat akan nilai kemanusiaan atau toleransi. Memasuki buka puasa, seluruh lapisan masyarakat akan mengantarkan sagi. Yaitu sebuah nampan besar berisi nasi, lauk, kerupuk lengkap beserta buah dan minumannya.

Baca Juga :  Rekomendasi Masakan Khas Bali yang Halal

2. Kampung Lebah, Klungkung

Salah satu kegiatan warga kampung Lebah. (Foto: idntimes.com)
Salah satu kegiatan warga kampung Lebah. (Foto: idntimes.com)

Masih di Kabupaten Klungkung, di sana juga terdapat kampung muslim lain. Namanya kampung lebah. Ada bangunan masjid yang konon dibangun juga oleh Raja Klungkung, yaitu masjid Al Hikmah. Warga kampung Lebah dikenal hidup damai dengan masyarakat Hindu. Warga muslim memberikan ruang bagi umat Hindu untuk melaksanakan perayaan Nyepi. Begitu sebaliknya, masyarakat Hindu juga ikut serta menjaga keamanan kampung saat pelaksanaan shalat Idul Fitri.

3. Kampung Loloan, Jembrana

Rumah panggung melayu di kampung Loloan, Bali. (Foto: alagraph.com)
Rumah panggung melayu di kampung Loloan, Bali. (Foto: alagraph.com)

Lokasi kampung Loloan berjarak sekitar 90 kilometer dari Kota Denpasar. Mayoritas penduduk kampung Loloan bergaman Islam. Menariknya, kampung Loloan lebih identik dengan kampung Melayu, baik dari segi bahasa maupun model bangunan. Arsitektur rumah panggung di kampung Loloan menjadi penanda perbedaan dari banguan rumah umumnya di Bali. Selain Melayu, ada juga warga muslim yang berasal dari suku Bugis. Menurut cerita, sebagian prajurit muslim Bugis dulu menetap di kampung yang lokasinya berada di pinggir pantai.  

Di kampung Loloan berdiri pesantren tertua di Bali dengan jumlah santri cukup banyak. Sama halnya dengan kampung Islam lainnya, warga muslim Loloan juga hidup berdampingan secara rukun tanpa mengganggu agama lain. Di sana kita bisa jumpai bangunan masjid yang lokasinya berdekatan dengan pura.    

Baca Juga :  Hal Wajib yang Harus Dipersiapkan Sebelum Travelling

4. Kampung Pegayaman, Buleleng

Salah satu kegiatan warga Pegayaman. (Foto: dakwahislambali.com)
Salah satu kegiatan warga Pegayaman. (Foto: dakwahislambali.com)

Kehidupan warga muslim di kampung Pegayaman bisa dikatakan potret akulturasi budaya setempat dengan nilai ajaran Islam. Tak heran jika tempat ibadah umat Islam di sana tetap menggunakan pernak-pernik atau simbol adat Bali seperti subak, banjar, dan seka. Selain itu, warga kampung Pegayaman juga menggabungkan nama Bali dengan unsur Islam. Seperti Ketut Abdullah atau Nyoman Achmad Syaiful.

5. Kampung Kecicang Islam, Karangasem

Rudat Melayu (Foto: senimuslimbali-ind.weebly.com)
Rudat Melayu (Foto: senimuslimbali-ind.weebly.com)

Kampung ini berlokasi di perbatasan Banjar Kecicang Bali dan Banjar Triwangsa. Nama kecicang sendiri diambil dari nama bunga bewarna putih yang biasa dimasak oleh warga setempat. Keharmonisan masyarakat di kampung Kecicang, Kabupaten Karangasem ini tetap terjaga hingga sekarang. Saat perayaan salat Idul Fitri, pecalang (sebutan untuk keamanan adat setempat) bertugas menjaga keamanan hingga selesai. Sebaliknya, umat Islam juga melakukan pengamanan ketika perayaan Nyepi oleh umat Hindu.

Uniknya, kampung Kecicang punya seni tari hasil akulturasi budaya Bali dengan Timur Tengah. Mereka juga punya tradisi ngejot. Yaitu ritual berbagi makanan dan buah-buahan kepada tetangga sekitar sebagai wujud rasa terima kasih. Saat perayaan Nyepi misalnya, umat Islam akan memberikan hadiah makanan kepada warga Hindu. Begitu juga sebaliknya.

Baca Juga :  Extreme Tourism, Rekomendasi Bagi Kamu Pecinta Tantangan

Itulah tadi beberapa kampung Islam yang tersebar di sejumlah kabupaten di Provinsi Bali. Bagi kalian yang sedang mencari tempat wisata di Bali, pastikan berkunjung ke kampung-kampung muslim di sana.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.