Cara Waspada yang Syar’i
Ilustrasi salah satu musibah yang melanda. (Ils: Dribbble/Oceloti Design)

Suaramuslim.net – Saat ini dunia internasional diminta untuk mewaspadai virus Corona. Virus yang telah menjangkiti puluhan ribu manusia dari berbagai penjuru dunia, bahkan menimbulkan korban jiwa hingga ratusan (425 orang hingga tanggal 4 Februari). WHO bahkan mengumumkan bawah wabah virus Corona menjadi status darurat global. Hal tersebut mengingat dampak virus itu lebih besar dibanding virus SARS di tahun 2003. Dan untuk itu kita semua diminta waspada. Menjadi sulit bagi kita waspada, manakala kita menyadari bahwa virus, kuman dan bakteri selalu ada di sekitar kita, bahkan di dalam tubuh kita.

Sebelumnya, di awal Januari 2020, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memprediksi adanya potensi bencana alam, dan bencana yang harus diwaspadai adalah berupa bencana geologi. Prediksi tersebut sejalan dengan data prakiraan dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), adanya beberapa potensi aktif seismik di beberapa lokasi. Dan kembali kita diminta untuk waspada.

Permasalahan lain yang muncul dari berbagai media adalah berbagai bentuk kejahatan, yang juga memberikan anjuran kepada kita untuk meningkatkan kewaspadaan. Bahkan pengamat terorisme juga mengingatkan bahwa awal tahun 2020 perlu adanya peningkatan kewaspadaan akan aksi terorisme.

Dalam KBBI, waspada berarti berhati-hati dan berjaga-jaga. Untuk kasus gunung berapi, BMKG memutuskan kondisi waspada adalah kondisi yang mendorong pemerintah setempat, sebagai pengambil keputusan untuk mengambil tindakan, karena adanya peningkatan aktivitas gunung berapi. Namun sebagai manusia dan rakyat biasa, apa yang bisa dilakukan untuk waspada?

Manajemen Waspada Secara Syar’i 

Agama Islam telah memberikan petunjuk dalam berbagai bentuk berkaitan dengan bagaimana menghadapi potensi bencana dan wabah. Dalam manajemen bencana, ada dua tahapan kegiatan yang harus dilakukan yakni Ex-ante/Pra bencana dan ex-past (yang terbagi dalam dua kegiatan yakni saat tanggap darurat bencana dan pascabencana).

Demikian juga dalam menghadapi wabah penyakit ada tahap pencegahan, penanggulangan dan pemulihan. Dan manajemen bencana tersebut khususnya adalah bagi pemerintah/pengambil keputusan. Adapun untuk aktivitas yang dapat dilakukan individu dan keluarga dalam pencegahan, penanggulangan serta pemulihan secara islami belum banyak didiskusikan. Padahal berita-berita yang mengharapkan perlunya peningkatan kewaspadaan pada berbagai hal akan meningkatkan tingkat stress kita. Bahkan bisa mengarah pada gangguan psikologis menjadi seorang yang menjadi takut berlebihan.

Maka bagaimana seharusnya kita berlaku waspada?

  1. Pendekatan kepada Allah

Salah satu hal yang jelas harus dilakukan tentu adalah lebih mendekati Sang Pencipta, Yang Maha Kuasa menjadikan segala sesuatu terjadi. Berbagai ayat dapat dimunculkan sebagai dukungan bahwa Allah Maha Berkehendak. Salah satunya ialah,

“Rabb kalian lebih mengetahui tentang diri kalian. Dia akan memberi rahmat kepada kalian jika Dia menghendaki, dan Dia akan mengazab kalian jika Dia menghendaki. Dan, Kami tidaklah mengutusmu (Muhammad) untuk menjadi penjaga bagi mereka,” (QS Al-Isrâ’ [17]: 54).

Maka sebagai manusia yang menjadi hamba-Nya, salah satu hal yang dapat kita lakukan untuk pencegahan adalah berdoa agar yang terjadi pada diri kita adalah takdir baik-Nya dan bukan takdir yang buruk. Nabi Muhammad saw bahkan mengajarkan doa untuk mendapatkan takdir baik, yakni:

Ya Allah, aku memohon kepada-Mu semua kebaikan yang disegerakan maupun yang ditunda, apa yang aku ketahui maupun tidak aku ketahui. Aku berlindung kepada-Mu dari semua keburukan, baik yang disegerakan maupun yang ditunda, yang aku ketahui maupun yang tidak aku ketahui. Ya Allah, sungguh aku memohon kepada-Mu dari kebaikan apa yang diminta oleh hamba dan Nabi-Mu Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada-Mu dan aku berlindung kepada-Mu dari apa yang diminta perlindungan oleh hamba dan nabi-Mu. Ya Allah, aku memohon kepada-Mu surga dan apa yang mendekatkan kepadanya baik berupa ucapan maupun perbuatan. Dan aku berlindung kepada-Mu dari neraka dan apa yang mendekatkan kepadanya baik berupa ucapan atau perbuatan. Dan aku memohon kepada-Mu semua takdir yang Engkau tentukan baik untukku. (Ibnu Majah, no. 3846 dan Ahmad, 6:133. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadis ini sahih).

Demikian juga saat penanganan musibah, berdoa agar segera diangkat semua musibah menjadi sebuah keharusan.Di sisi yang lain, kegalauan akan hilang dengan memahami kekuasaan dan kekuatan Allah.

Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (Ar-Ra’du: 28).

  1. Membangun Sistem Manajemen Informasi

Setiap individu wajib mencari ilmu termasuk ilmu pengetahuan bagaimana menangani suatu masalah.

Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin. Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (Adz-Dzariyat: 20-21).

Manusia diharapkan memiliki sensitivitas memperhatikan dan memikirkan pertanda yang ada di sekitarnya, sebagai sebuah pengetahuan. Dan internet serta media sosial saat ini menjadikan kita mudah mencari berbagai berita dan informasi. Kemudahan tersebut menjadi tantangan bagi kita semua untuk mendapatkan sumber terbaik yang dapat dipercaya. Dan Islam sudah mengajarkan kepada kita untuk selalu melakukan triangulasi, melakukan cek dan ricek dengan berbagai cara untuk mendapatkan informasi yang valid.

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (Al Hujurat: 6).

  1. Memperbanyak Sedekah

Salah satu hal penting dalam upaya berwaspada menghindari dan juga untuk menghadapi musibah adalah meningkatkan sedekah. Sedekah merupakan salah satu sarana yang diberikan Allah untuk menghindarkan diri dari musibah.

“Bentengilah diri kalian dari siksa api neraka meskipun dengan separuh buah kurma.” (Al-Bukhari dan Muslim).

“Sedekah dapat menolak 70 macam bencana, dan yang paling ringan adalah penyakit kusta dan sopak (vitiligo).” (Ath-Thabrani).

“Bersegeralah bersedekah, sebab bala bencana tidak pernah bisa mendahului sedekah.” (Al-Baihaqi).

Penutup

Meminta masyarakat waspada terhadap berbagai kemungkinan bahaya dan bencana, perlu langkah lebih taktis untuk menghadapinya. Dan Islam telah secara paripurna memberikan petunjuk untuk berbagai hal, termasuk bagaimana harus waspada. Bismillah, semoga Allah senantiasa menjauhkan kita dari segala mara bahaya.

Dr. Gancar C Premananto
KPS Magister Manajemen FEB Universitas Airlangga
Pengajar Manajemen Spiritual

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.