Cinta dan Khianat di Tanah Bahgdad

16
Cinta dan Khianat di Tanah Bahgdad

Judul Buku                  : The Downfall of the Dynasti Khianat di Tanah Baghdad
Kategori                      : Fiksi Sejarah

Pengarang                  : Indra Gunawan, Lc
Penerbit                      : Salamadani,  PT Grafindo Media Pratama
Alamat Penerbit          : Jl. Pasir Wangi No. I Pasirluyu, Soekarno Hatta-Bandung 40254
Edisi Cetakan              : Pertama
Tahun Terbit               : Maret 2013
Tebal Buku                  : 378 Halaman

Suaramuslim.net – Apa jadinya jika kemegahan kota Baghdad, sebagai simbol keindahan peradaban Islam yang telah berdiri selama kurang lebih 5 abad di bawah naungan kekuasaan dinasti Abbasiyah harus porak-poranda dibumihanguskan oleh kekuatan yang sama sekali tak diperhitungkan sebelumnya, yaitu: pasukan Mongol, Tartar yang disatukan Jengis Khan?

-Advertisement-

Jawabannya bisa dibaca dalam buku fiksi-sejarah berjudul “The Downfall of the Dynasti Khianat di Tanah Baghdad.” Karya tulis ini dicetak oleh penerbit Salamadani, PT Grafindo Media Pratama, Bandung. Pengarangnya adalah mahasiswa Al-Azhar yang konsentrasi studi S2nya di bidang sejarah dan peradaban Islam. Penulis merupakan alumni pondok pesantren modern Gontor, Ponorogo Jawa Timur. Di Mesir penulis tergolong mahasiswa yang aktif dan organisatoris.

Baca Juga :  Riwayat Dusta

Ia aktif di berbagai organisasi, produktif dalam menulis, dan kerap kali menjuarai berbagai perlombaan karya tulis yang diadakan organisasi kemahasiswaan di Mesir. Di antara karya-karya yang ditulisnya diantaranya: Fiksi (Kidung Doa di Taman Kurma, Kado untuk Mujahid), Non Fiksi (Timur Tengah dalam Lintas & Pascakemerdekaan, dan Laskae Syuhada`) dan lain sebagainya.

Novel Fiksi Sejarah yang ditulis oleh Indra Sanmeazza ini menceritakan sepenggal kisah dari peradaban panjang sejarah umat Islam yang ternoda. Setting dan latar sejarah yang dipakai penulis ialah saat-saat menjelang kejatuhan dinasti Abbasiyah di Baghdad.  Umat Islam saat itu, sebagaimana sabda Nabi, sudah terjangkit virus yang mematikan berupa Wahn (cinta dunia dan takut mati).

Melalui tokoh imaginer seperti Ali, Jamal, Zaid, Zahra dan Malikah, penulis secara apik mampu menggambarkan kondisi yang sangat memilukan kala itu. Di dalamnya digambarkan adanya cinta, perjuangan, penghianatan, keculasan dan pengorbanan. Romantisme antara Jamal dan Zahra begitu mengharukan.

Suatu gambaran cinta yang sejati yang tak dikuasai nafsu. Keduanya saling mencintai meski dinding ideologi Syiah-Sunni menghalangi. Namun cinta Jamal dan Zahrah tak membutakan keduanya. Ada cinta yang lebih hakiki yang harus diperjuangkan. Nasib bangsa harus diperjuangkan melebihi cintanya ke pada Zahra. Di dalamnya juga digambarkan tentang kelicikan, penghianatan dan kospirasi Wazir ibnu Al-Qomi yang sangat membuat gregetan pembaca.

Baca Juga :  Islam dan Tibet: Terikat dalam Sejarah (Bagian 1)

Selain itu, di dalamnya  terkandung patriotisme, kesetiaan dan perjuangan. Bagaimana Ali, yang sangat setia mendampingi Khalifah hingga menemui ajalnya di tangan tentara mongol. Bagaimana Zaid yang sangat cinta terhadap ilmu, berusaha sedemikian rupa untuk mempertahankan Baitul Hikmah, menyelamatkan buku-buku di dalamnya. Ia menganggap buku-buku yang berada di dalamnya lebih bernilai dari dirinya. Bagaimana Jamal, dengan tangan buntungnya, tetap berusaha sekuat tenaga menyelamatkan sisa-sisa penduduk yang masih hidup, hingga ia mendapat syahidnya.

Novel ini sangat bagus bagi siapa saja yang ingin mengetahui sejarah kelam keruntuhan dinasti Abbasiyah. Dengan bahasa yang renyah, mengalir dan indah penulis mampu dengan sukses membuat pembaca berdecak kagum.

Meski demikian, di dalamnya ada yang perlu dikritisi yaitu ungkapan penulis pada halaman 64 dari isi buku yaitu: “Tak terasa waktu  lewat begitu saja, tepat sejak kedatangan mereka, 14 September 1254, mereka telah menetap dua minggu lebih. Hethum I segera teringat dengan amanat yang diemban. Akhirnya pada 1 November  1254  mereka bergerak meninggalkan Karakorum”.

Yang menjadi masalah di sini ialah kata yang dicetak tebal. Penulis mengatakan Hethum I dan seluruh anggota Armenia menetap dua minggu lebih di Karakorum sejak tanggal 14 September 1254, tapi meninggalkan Karakorum baru pada tanggal 1 November 1254.

Baca Juga :  Seperti Abbasiyah dan Umayyah

Semestinya kalau dua minggu lebih yang tepat ialah meninggalkan Karakorum pada tanggal 1 Oktober 1254 bukan 1 November 1254.

Akhirnya, bagi siapa saja yang ingin mendalami sejarah dengan baik, nikmat, nyaman dan tak membosankan maka selaiknya membaca novel ini.

Peresensi: Mahmud Budi Setiawan
Editor: Oki Aryono

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here