Dhani Sonder Ipang
Ahmad Dhani seusai menjalani sidang putusan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. (Foto: Kompas.com)

Suaramuslim.net – Dua lelaki dengan asal dari timur Jawa ini seperti dua pendulum yang berayun berlawanan. Bertabrakan hanya karena berbeda posisi hingga ada dua perlakuan berbeda. Sama-sama istimewa. Hanya saja, yang di satu pihak istimewa segera dibuikan dengan delik aduan yang rapuh. Sementara yang satu lagi tetap aman kendati bukti berjibun diwartakan di mana-mana.

Inilah dua sosok yang belakangan ini menyita perhatian. Tentang keberanian menempuh putusan. Berbeda dari awal yang disangka banyak orang. Termasuk muslimin kala menyangka masa silam.

Mungkin ia, kawan kita kata banyak teman, ada yang perangainya dulu serupa Yahudi. Malah sebagian kawan menudingnya agen penyebaran ideologi. Tapi kita tak bisa memastikan bagaimana akhir perjalanan hati. Bila ia akhirnya berani sebagai lelaki membela marwah agama ini. Hanya tiga cuitan bernada ejekan pada anonim, dia disungkurkan ke penjara. Tak perlu waktu lama.

Satu orang lagi yang sibuk klarifikasi. Masih jua tak merasa bersalah dalam, setidaknya fatsun politik. Padahal? Mungkin kita pernah terkagum padanya karena dia kawan yang begitu santun lagi senang canda. Disebut di masa lampau di mana-mana bagian dari lingkaran komunitas dakwah, meski ini klaim-klaim klasik kaum harakah. Apalagi pernah terlibat membikin advertising politik partai Islamis, sahih menganggap ia selaku al-akh. Tapi siapa nyana bila jalan hati dan ide kreatif membawanya jadi bagian pencetus negeri barokah dengan fitnah? Juru poles kekuasaan sah saja karena dia cari makan dari sana salah satunya. Tapi bagaimana dia menangkan kandidatnya dengan membiarkan cara-cara biadab miskin kreativitas?

Baca Juga :  Gus Nur Dipanggil Satreskim Polrestabes Surabaya, Ada Apa?

Politik memang soal kepentingan. Hanya tak memadai menilai sebuah perubahan drastis dari segi ekonomi dan komodifikasinya, termasuk aktualisasi diri. Jadi, salah bila kepentingan harus selalu dimenangkan di atas jerit hati apalagi dianggap nisbi karena soal eksistensi.

Mereka yang hadapi dengan senyuman bukanlah persona sayap patah. Ia hanya penuhi takdir sebagai pemecah jalan buntu keadilan yang dirampas: kuldesak! Dan ini pelajaran bagi kita, muslimin, di tengah kekuasaan pongah ternyata masih ada orang yang dulu disengiti, kita cercai, malah sekutu dalam perjuangan. Begitu juga kala kuldesak, ada sana brutus perjuangan hadir di depan mata.*

*Opini yang terkandung di dalam artikel ini adalah milik penulis pribadi, dan tidak merefleksikan kebijakan editorial Suaramuslim.net

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here