Suaramuslim.net – Mengawali kajian, Ustadz Afthoni mengangkat fenomena yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari: waktu yang terasa berjalan begitu cepat.
Perasaan baru kemaren, kok sudah gini ya
Perasaan kemaren Ahad, kok sudah Ahad lagi
Perasaan masih 17 tahun, kok sudah 30 tahun,
Perasaan kemarin sudah bayar cicilan, kok bayar lagi
Candaan tersebut langsung disambut tawa jamaah, namun sekaligus menjadi pintu masuk refleksi mendalam.
Fenomena ini sejatinya telah disampaikan oleh Rasulullah ﷺ dalam sabdanya:
لا تقوم الساعة حتى يتقارب الزمان
“Tidak akan tiba hari kiamat hingga zaman berdekatan (waktu terasa cepat).”
Di antara tanda-tandanya adalah waktu yang terasa sangat cepat; tahun seperti bulan, bulan seperti minggu, minggu seperti hari, bahkan hari seperti satu jam. Selain itu, keberkahan waktu pun terasa berkurang karena berlalu tanpa menghasilkan amal kebajikan yang berarti.
Sebagian ulama juga menafsirkan fenomena ini sebagai dampak perkembangan teknologi transportasi dan komunikasi yang membuat jarak terasa semakin dekat.
Ruminasi, stres, dan pentingnya berdamai dengan masa lalu
Memasuki pembahasan berikutnya, Ustadz Afthoni mengajak jamaah untuk memahami fenomena rumination; terjebak dalam siklus masa lalu.
Ruminasi sering kali dipicu oleh stres dan kecemasan berat. Kondisi mental yang tegang dapat mendorong seseorang mencari pelarian emosional, baik dalam bentuk kebiasaan tertentu maupun pelampiasan kepada orang lain yang yang dianggap lebih lemah.
Karena itu, penting bagi setiap individu untuk belajar berdamai dengan masa lalu dan berupaya menyudahinya secara sehat. Jika dirasa perlu, berkonsultasi dengan psikolog atau berbagi dengan teman terpercaya merupakan langkah yang bijak.
Secara khusus, beliau berpesan kepada para jamaah agar tidak tanpa sadar meninggalkan luka emosional pada anak-anak, misalnya dengan sering memarahi atau membanding-bandingkan mereka.
Sikap tersebut berpotensi memperlebar jarak antara orang tua dan anak. Anak yang tidak merasa aman secara emosional bisa mencari pelarian di luar pengawasan orang tua.
Regulasi emosi dan pegangan spiritual
Solusi yang ditawarkan adalah membangun regulasi emosi. Setiap individu perlu belajar berhati-hati dalam bersikap, baik di rumah, di kantor, maupun di lingkungan sosial.
Salah satu langkah sederhana yang diajarkan dalam Islam adalah berwudhu ketika emosi memuncak.
Dalam suasana yang cair, beliau menyampaikan:
Karena ibu-ibu semua adalah pusat peradaban bagi rumah tempat tinggalnya, maka penting kita punya pegangan.
Jamaah pun berseloroh, “Pegangan uang,” yang kembali mengundang tawa.
Beliau melanjutkan:
Maksudnya pegangan spiritual, misal sholat sunnah, dzikir sholawat bahkan menjaga wudhu. Apalagi umat Nabi Muhammad nanti glowing dengan bekas-bekas wudhu di wajahnya yang bersinar.
Hal ini sejalan dengan hadis Rasulullah ﷺ:
إِنَّ أُمَّتِي يَأْتُونَ يَوْمَ اَلْقِيَامَةِ غُرًّا مُحَجَّلِينَ, مِنْ أَثَرِ اَلْوُضُوءِ
“Sesungguhnya umatku akan dipanggil pada hari kiamat dalam keadaan wajah, tangan dan kakinya nampak bercahaya karena adanya bekas wudhu.” (Riwayat Al-Bukhari dan Muslim).
Beliau juga mengingatkan bahwa amalan yang kecil dan sederhana, bila dilakukan secara konsisten dan ikhlas, memiliki nilai besar di sisi Allah.
خير الأمور أوسطها وإن قل
“Sebaik-baik perkara adalah yang paling pertengahan (seimbang), meskipun sedikit.”
Mengatasi perasaan tidak berdaya
Pada bagian akhir, beliau menyinggung tentang lost of control—perasaan tidak berdaya yang kerap dialami manusia.
Sebagai makhluk, manusia sejatinya tidak memiliki daya dan upaya tanpa pertolongan Allah SWT. Namun, dalam kondisi apa pun, Allah tidak pernah menolak kehadiran dan permohonan hamba-Nya.
وَاسْجُدْ وَاقْتَرِبْ
“Dan sujudlah serta dekatkanlah (dirimu kepada Allah).”
Beliau menutup kajian dengan kalimat yang menguatkan:
“Ingat, hanya Allah Subhanahu wa ta’ala yg menerima kita apa adanya”.
Kajian yang berlangsung hangat, penuh tawa, namun sarat makna ini menjadi pengingat bahwa di tengah cepatnya zaman dan kompleksitas kehidupan, ketenangan lahir dari regulasi emosi, kedekatan spiritual, serta konsistensi dalam amal meski sederhana.
___
Intisari — KIBLAT (Kajian Islam Buat Talenta Hebat) Majelis Ash-Shofaa di lingkungan SDIT At-Taqwa Surabaya. Rabu, 11 Februari pukul 09.00 WIB oleh Ustadz Afthoni Adyatama Zahro, S.Psi., M.Kom.I

