Griya Kualita jajaki sinergi pengembangan mutu guru Al-Qur’an bersama Lembaga Kursus Al Falah 

SURABAYA (Suaramuslim.net) – Suasana majelis ilmu, pendidikan, dakwah, dan sosial sangat kental terasa di lingkungan Yayasan Masjid Al Falah Surabaya. Berbagai majelis ilmu terus tumbuh, menjadi ruang lahirnya gagasan dan kolaborasi demi kemajuan dakwah.

Bertempat di ruang rapat lantai dua Masjid Al Falah Jl. Darmo Surabaya, Yayasan Griya Al Qur’an Surabaya (YGAS) kembali melakukan tindak lanjut silaturahmi yang telah terjalin pada momentum Muharram lalu.

Kali ini, YGAS memperkenalkan Griya Kualita, unit penjamin mutu di lingkungan yayasan yang berfokus pada pengembangan kompetensi, standardisasi, dan pembinaan guru Al-Qur’an.

Griya Kualita, penjamin mutu guru Al-Qur’an

Head of Griya Kualita, Ustadz Imam Masruri, didampingi Wakil Ketua YGAS Ustadz Febristo Robby Dullah, menjelaskan bahwa Griya Kualita hadir sebagai pusat penjamin mutu bagi guru Al-Qur’an, baik internal maupun eksternal.

Melalui pelatihan, mentoring, evaluasi, hingga pengembangan strategi pembelajaran, Griya Kualita berupaya mencetak tenaga pengajar yang memiliki kompetensi, profesionalisme, dan standar kualitas yang seragam.

“Kami ingin menghadirkan sistem pembinaan guru yang berkelanjutan sehingga kualitas pengajaran Al-Qur’an terus meningkat seiring perkembangan zaman,” jelas Ustadz Imam Masruri.

Sambutan hangat dari Lembaga Kursus Al Falah

Pertemuan tersebut dihadiri Ketua Pengurus Yayasan Masjid Al Falah Ir. Dwi Andi Handaya Rusman, M.Sc, didampingi Kankan Iskandar, S.E., M.M selaku Bendahara Yayasan.

Dari Lembaga Kursus Al Falah (LKF) hadir secara lengkap Direktur Ustadz Nurul Huda, Kepala Bagian Kurikulum dan Pengembangan Ustadz Moksin Pattimura, serta Ustadzah Nur Aliyah.

Diskusi berlangsung hangat membahas berbagai model pembinaan guru Al-Qur’an yang selama ini dijalankan masing-masing lembaga.

Berbeda segmentasi, sama dalam standar mutu

Dalam dialog tersebut, Ustadz Febristo menegaskan bahwa setiap lembaga memiliki karakteristik, segmentasi, dan pendekatan dakwah yang berbeda. Namun demikian, ketika berbicara mengenai kualitas guru Al-Qur’an, standar kompetensi dasarnya tetap harus sama.

“Sebagai lembaga yang berbeda tentu kita memiliki segmentasi dan pendekatan masing-masing. Namun untuk standar kompetensi guru Al-Qur’an, kita memiliki tujuan yang sama, yakni menghadirkan pengajar yang benar dalam ilmu dan mampu mengajarkannya dengan baik,” ujar Ustadz Febristo.

Berangkat dari kepedulian terhadap guru ngaji

Di tengah diskusi, Ketua YGAS Ustadz Irwitono turut bergabung dan menceritakan sejarah lahirnya Griya Kualita.

Beliau menjelaskan bahwa embrio unit tersebut telah dimulai sejak tahun 2011 melalui sebuah Training Centre, sebagai lembaga pemberdayaan guru ngaji.

Menurutnya, Griya Kualita lahir dari keprihatinan terhadap rendahnya kesejahteraan sekaligus minimnya pembinaan berkelanjutan bagi guru Al-Qur’an.

“Berangkat dari kenyataan bahwa honor guru ngaji masih rendah, kami ingin ikut mengangkat martabat mereka. Karena itu setiap calon guru di Griya Al-Qur’an harus melalui proses seleksi, pelatihan, monitoring, hingga dinyatakan layak mengajar. Di sinilah fungsi penjamin mutu bekerja,” tutur Irwitono.

Belasan tahun mendampingi lembaga dakwah Al-Qur’an memberikan banyak pengalaman berharga.

Menurutnya, tantangan terbesar bukan sekadar merekrut guru, melainkan menjaga konsistensi kualitas mereka melalui sistem pembinaan yang terstruktur.

“Kami terus menyempurnakan kerangka pembinaan agar guru memperoleh manfaat berupa peningkatan kompetensi, sementara lembaga juga mendapatkan kualitas layanan yang semakin baik,” tambahnya.

Peluang sinergi untuk dakwah yang lebih luas

Menyimak pemaparan dari Direktur LKF, Ustadz Huda, Irwitono optimistis banyak ruang kolaborasi yang dapat dibangun antara kedua lembaga.

“Saya mendengar banyak hal yang insyaallah bisa disinergikan. Memang tidak mudah, tetapi saya yakin peluang kolaborasi itu sangat terbuka,” ungkapnya.

Menjadi “polisi” mutu pembelajaran

Melanjutkan presentasi, Ustadz Imam Masruri menggambarkan posisi Griya Kualita sebagai “polisi” dalam menjaga standar mutu pembelajaran.

“Ibaratnya kami adalah polisi. Ketika ada guru yang mulai keluar dari standar pembelajaran, kami bertugas mengingatkan, mengevaluasi, dan membinanya. Mengajar Al-Qur’an hari ini tentu berbeda dengan puluhan tahun lalu. Perlu pembaruan metode, evaluasi, dan inovasi tanpa mengubah substansi ilmunya.”

Sebagai unit riset dan pengembangan (R&D), Griya Kualita juga mengembangkan berbagai perangkat pembelajaran, di antaranya empat modul utama:

  • Tahsin
  • Tajwid
  • Sifatul Huruf
  • Makhrajul Huruf

Setelah seluruh tahapan tersebut dikuasai, peserta memasuki jenjang Tahfidz melalui pendekatan Metode Sahabat Tahfidz, yakni metode yang dirancang agar proses menghafal Al-Qur’an berlangsung lebih bertahap dan terukur.

Sebagai instrumen evaluasi, tersedia pula Buku Prestasi Belajar yang berfungsi sebagai mutaba’ah perkembangan peserta.

Saat ini jaringan Griya Al-Qur’an bersama para mitra telah tersebar di berbagai daerah, di antaranya Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Kediri, Blitar, Madiun, Ngawi, Ponorogo, Bojonegoro, Bandung, Jakarta, Lampung, Palembang, hingga Medan.

Pembelajaran menggunakan mushaf Rasm Utsmani Madinah dengan penanda tajwid yang memudahkan proses belajar. Selain itu, pembinaan guru dilakukan secara pekanan, bulanan, serta dua kali pembinaan nasional setiap semester bersama para trainer hafiz 30 juz.

Berbagi pengalaman pembinaan guru

Pada kesempatan yang sama, Direktur LKF, Ustadz Huda, turut memaparkan pola pembinaan yang diterapkan di lembaganya.

Menurutnya, target pembinaan disusun secara bertahap berdasarkan kebutuhan organisasi dan capaian lulusan.

Selama empat tahun terakhir, berbagai pola pembinaan telah diterapkan, mulai dari program dua bulanan, empat bulanan, hingga enam bulanan. Seluruh program diarahkan untuk meningkatkan kualitas sekaligus kuantitas lulusan sehingga indikator kinerja lembaga (KPI) dapat terus berkembang.

Pentingnya sudut pandang dari luar

Menjelang akhir pertemuan, Ketua Pengurus Yayasan Masjid Al Falah, Ir. Dwi Andi Handaya Rusman, M.Sc., menyampaikan refleksi mengenai pentingnya menghadirkan perspektif eksternal dalam pengembangan lembaga.

Menurutnya, sebuah organisasi sering kali terlalu fokus pada aktivitas operasional sehari-hari sehingga membutuhkan pihak lain yang mampu melihat peluang-peluang pengembangan yang belum tersentuh.

“Tim operasional biasanya sudah sangat sibuk dengan aktivitas harian. Karena itu dibutuhkan sudut pandang dari luar, layaknya seorang konsultan, yang mampu melihat celah-celah perbaikan sehingga produktivitas dan kualitas manajemen dapat terus bertumbuh,” ujarnya.

Pertemuan tersebut ditutup dengan semangat untuk terus membuka ruang dialog dan kolaborasi. Meskipun masing-masing lembaga memiliki karakteristik dan pendekatan yang berbeda, keduanya memiliki visi yang sama, yakni menghadirkan guru-guru Al-Qur’an yang berkualitas, profesional, dan mampu melayani umat dengan sebaik-baiknya.

Kontributor: Fachrurrosi
Penyunting: Muhammad Nashir

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.