Salahuddin Wahid saat menjadi salah satu narasumber dalam agenda Oase Bangsa yang diselenggarakan Radio Suara Muslim Network pada 20 Febuari 2019 di Kunokini Cafe Surabaya, foto: Suaramuslim.net

SURABAYA (Suaramuslim.net) – Pemilihan calon presiden dan wakil presiden pada pemilu 2019 ini disikapi K.H Salahuddin Wahid selaku Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Jombang sebagai sebuah dinamika yang harus dilihat dengan bijak. Dia sendiri mencontohkan keluarganya.

“Keluarga saya ada yang memilih Jokowi namun juga ada yang memilih Prabowo. Namun kami menjaga agar tidak terjadi keributan,” ujarnya.

Dia memberi contoh tersebut karena hari ini banyak yang salah kaprah dalam memilih pemimpin. Ketika berbeda, terjadi perpecahan. Sementara di lain pihak juga banyak yang sangat pragmatis dan tidak melihat calon-calon yang berkualitas.

Dalam kesempatan yang sama, kiai yang akrab disapa Gus Sholah ini menyebut bahwa pemilu tahun 1955 adalah pemilu terbaik dan terbersih yang pernah dilaksanakan di republik ini. Padahal, lanjutnya, waktu itu partai yang ada bersaing dengan menjual ideologi. Seperti ideologi nasionalis, Islam dan komunis.

“Namun meskipun saat itu pertarungannya ideologi, negara kita tidak ribut dan berisik seperti saat ini. Bahkan belum terjadi politik uang seperti yang jamak terjadi pada pemilu setelahnya,” tegasnya.

Gus Sholah hadir menjadi salah satu narasumber di talkshow Oase Bangsa Radio Suara Muslim Surabaya, Rabu (20/2) di Kuno Kini Café & Resto. Hadir sebagai narasumber lainnya yaitu Najib Hamid Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jatim, Misbahul Huda selaku founder Rumah Kepemimpinan Indonesia dan Suparto Wijoyo pakar hukum dari Universitas Airlangga Surabaya. Oase Bangsa edisi kali ini mengambil tema Muslim Peduli Pemilu.

Reporter: Teguh Imami
Editor: Muhammad Nashir

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here