Hijrah Berkat Dukungan Orang Tua
Ilustrasi remaja perempuan dengan kedua orang tua. (Ils: PENS/Elmanita Kirana)

Suaramuslim.net – Perkenalkan namaku Azizah. Umurku saat ini menginjak 21 tahun. Alhamdulillah sekarang sudah berhijab dan berpakaian yang menutup aurat walaupun belum sempurna karena semua butuh proses, bukan?

Seperti aku, prosesku berhijrah juga membutuhkan waktu yang lama kalau dipikir-pikir. Aku mulai berhijab pada saat sekolah di SMA. Kira-kira tahun 2011 atau 7 tahun yang lalu. Memang sebelumnya sudah ada niat sih untuk berhijab pada saat SMP, namun masih antara ‘siap’ dan ‘nggak siap’, mungkin itu yang selalu ada di benak seorang wanita ketika memutuskan untuk berhijab.

Berawal dari bapak, yang dahulunya juga berhijrah dan sekarang menjalani hidup yang Insya Allah benar. Saat aku beranjak dewasa, kala itu umurku masih belasan tahun dan duduk di bangku SMP. Bapak selalu mengajakku memulai menutup aurat. Memintaku untuk memakai kerudung ketika berangkat sekolah. Namun aku tidak menghiraukannya. Meski begitu, bapak tetap sabar membimbingku untuk menutup aurat, dengan cara yang sedikit membuatku malu pada diriku sendiri sih.

Bapak sering berdoa setelah salat dan ketika berdoa itu suaranya sengaja dikencangkan agar terdengar olehku. Beginilah ucapan dalam doanya.

“Ya Allah semoga anakku pakai kerudung.” Kurang lebih seperti itu lah doa bapakku.

Dan tidak jarang ketika sedang berada di luar atau jalan-jalan, bapak selalu menyinggungku dengan berbicara kepadaku.

“Bapak malu. Masa bapak jenggotan gini, anaknya nggak pakai kerudung.” Katanya tegas.

Hal-hal itu sebenarnya membuatku berpikir, haruskah aku pakai kerudung? Jika tidak mengapa? Jika pakai, apa efeknya memang? Dan berbagai pertanyaan lain yang berputar-putar di kepalaku!

Semasa SMP

Semasa SMP, aku memakai baju lengan panjang dan rok panjang juga. Ini adalah ide ibuku karena tidak menginginkan anak perempuannya memiliki kulit belang terpapar sinar matahari. Tidak sedikit guru-guru menegurku.

“Baju sama rok sudah panjang, pakai kerudung sekalian lah, Nak.” Katanya.

Tidak hanya itu saja, bahkan beberapa orang berkata, “Masa namanya Islam tapi tidak pakai kerudung.”

Ya, namaku memang mengandung Bahasa Arab. Rasi Azizah yang memiliki arti Pemimpin Perkasa, begitulah ketika kutanya tentang arti namaku.

Hal ini memang sangat membuatku malu dan terpukul. Pasalnya, jika masalah baju saja aku masih bisa menghindar dengan menggunting lengannya agar tidak menjadi panjang lagi. Tapi kalau nama? Apa harus aku mengubah akte dan lain-lain demi tidak memakai kerudung? Akhirnya, aku pun setuju dengan beberapa teguran orang yang menyinggung namaku yang islami ini, muncul lah pertanyaan lagi dalam kepalaku.

“Iya ya, kenapa aku ga pake kerudung?” Kataku.

Namun aku tidak langsung memakai kerudung saat itu. Aku memutuskan nanti ketika SMA saat memulai lingkungan dan teman baru untuk memakai kerudung sehari-harinya.

Memang, hidayah Allah selalu indah. Hal-hal di atas bukankah hidayah dari Allah? Yang mana doa bapakku diijabah. Dengan cara orang lain yang menegurku. Dengan perkataan-perkataan sakit dari mereka yang lalu membuatku berpikir.

Akhirnya aku belajar memakai kerudung, tapi tidak untuk ke sekolah. Aku memakai kerudung jika kegiatan di luar sekolah, semisal jalan-jalan, main ke rumah teman. Karena kalau ke sekolah memakai kerudung, aku takut, banyak teman-temanku yang pastinya menertawakanku. Karena aku adalah anak yang tomboy sebenarnya. Aku hanya tidak ingin diriku seperti diintimidasi dengan segala bercandaan.

Semasa SMA

Hari demi hari, hingga berganti bulan dan tahun akhirnya aku pun resmi menjadi anak SMA di salah satu sekolah swasta yang cukup terkenal di Kota Surabaya. Hari pertama aku memakai kerudung hingga hari-hari selanjutnya.

Namun ketika pagi hari di rumah. Aku memakai celana pendek dan kaos seperti baju anak rumahan biasanya. Aku mengambil kunci motorku dan memakai helm. Pagi itu pulsaku habis dan aku berniat untuk membeli pulsa. Bapakku pun juga ada di sebelahku sedang manasin motor karena siap-siap untuk berangkat kerja. Dia melihatku memakai celana pendek dan kaos pendek keluar rumah, namun tidak marah.

Bapak hanya berbicara dengan nada yang biasa, “Kenapa nggak pake kerudung?” Katanya.

“Kan nggak ada yang lihat aku? Aku cuma mau beli pulsa.” Ujarku dengan santainya.

“Gak ada yang lihat.. Tapi Allah lihat kamu nggak pakai kerudung.” Sontak dengan tegas bapak menjawab.

Kalimat itu yang menjadi acuan kenapa aku harus selalu memakai kerudung hingga saat ini. Dan saat itu juga, foto-foto pribadiku yang masih terlihat rambutnya masih kusimpan di Instagram dan kupakai untuk display picture di WhatsApp.

Beberapa teman lelaki ku menegur, “Sebaiknya kamu hapus deh fotomu yang nggak pakai kerudung.” Katanya.

Entah mengapa, ini membuatku sangat malu. Karena yang mengingatkan lawan jenis. Dan akhirnya aku pun mulai menghapus foto-foto yang masih terlihat auratnya dan menjalani hari-hari dengan menggunakan kerudung seutuhnya.

Namun ada hal lucu yang menggelitik tapi membuatku malu juga. Saat pelajaran agama Islam, aku diminta untuk membaca 1 ayat yang ada di LKS. Blaaarrr, aku tidak bisa baca tulisan Arab! Sama sekali. Banyak teman-temanku yang curang, dengan cara menghafalkan ayat tersebut sebelum maju ke guru, namun aku hanya pasrah dan dengan PD-nya bilang ke guru.

“Saya nggak bisa baca bu, hehe.” Kataku.

Lagi-lagi, guruku menegur dengan senyum di wajahnya, “Gimana sih, pakai kerudung kok nggak bisa baca tulisan Arab?”

Ya sudahlah, anggap saja angin lalu.

Dan yang membuatku semakin tercengang, sepulang sekolah terdapat suara pengumuman yang selalu menggema di kelas-kelas bahkan sudut sekolahan. Guruku tadi mengumumkan, menyebutkan nama-nama anak yang tidak bisa membaca tulisan Arab harap berkumpul di musholla untuk diberikan pelajaran mengaji.

Sungguh, aku malu. Teman-teman menertawakanku. Bahkan seisi sekolah tahu, jika anak bernama Azizah ternyata tidak bisa membaca tulisan Arab alias tidak bisa mengaji! Duh.

Akhirnya aku pun mengikuti kegiatan mengaji sepulang sekolah dan alhamdulillah bisa membaca sedikit-sedikit walaupun dengan terbata-bata. Semoga Allah memberikan pahala yang selalu mengalir kepada guruku karena berniat baik mengajarkan anak-anak yang tidak bisa mengaji.

Kini umurku telah berkepala 2, alias udah dewasa. Aku mulai belajar Islam lebih dalam, mulai dari mengikuti iktikaf di masjid kala Ramadhan dan alhamdulillah tahun lalu merupakan hijrahku terhebat karena pertama kalinya aku mengaji Al-Quran beserta artinya yang Insya Allah hingga juz 8 kalau tidak salah.

Bapakku pun sangat bangga melihat aku yang seperti itu. Saking bangganya, bapak sampai menghadiahi aku sesuatu.

Ketika aku mengaji Al-Quran dan membaca artinya, ketika itu pula aku sering meneteskan air mata. Ayat-ayat Allah selalu menyentuh hatiku. Membuatku menyesal karena dosa-dosa yang lalu.

Semoga Allah selalu mengampuni dan menunjukkanku jalan yang benar. Dan alhamudulillah, kini pakaianku dan keluargaku (kakak perempuan dan ibu) pun sedikit demi sedikit mulai menggunakan pakaian syar’i. Menggunakan kerudung sepanjang lutut, namun hanya di event-event tertentu. Aku menganggap ini adalah perjalanan hijrahku dan keluargaku yang sedang naik level, tentunya akan ada halangan dan rintangan memakai pakaian syar’i kedepannya. Wallahu a’lam.

Reporter: Teguh Imami
Editor: Muhammad Nashir

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.