Hormati Guru, Sayangi Teman dan Kartu Kuning Zaadit

214
Hormati Guru, Sayangi Teman dan Kartu Kuning Zaadit

Suaramuslim.net – Masa-masa periode tahun 70-an sampai tahun 80-an, ketika Anda semua, yang saat ini sudah jadi orang tua dari anak-anak Anda dan bahkan sudah jadi kakek nenek dari cucu-cucu Anda yang saat ini masih bersekolah di bangku sekolah dasar dan menengah, pernahkah Anda lantunkan senandung penghormatan kepada orang tua, guru dan teman?

Ketika saya masih bersekolah di sekolah dasar, lagu-lagu yang disenandungkan oleh pelajar saat itu adalah senandung yang membangun semangat dan penghormatan kepada sesama, masih ingatkah Anda semua senandung “Murid Budiman”?.

-Advertisement-

“Oh ibu dan ayah selamat pagi
Ku pergi belajar sampai kan nanti
Belajar nan penuh semangat
Rajinlah selalu tentu kau dapat
Hormati gurumu, sayangi teman
Itulah tandanya kau murid budiman”.

Masih adakah lagu itu bersenandung di telinga anak-anak kita, anak-anak zaman now, anak-anak zaman millenial sebagai pewaris sah bumi pertiwi yang bernama Indonesia ini?.

Di tengah serbuan senandung lagu alamat palsunya Ayu Ting-Ting, jaran goyangnya Nella Kharisma serta tari-tarian Korea dan musik lokal yang mengumbar erotisme?. Anak-anak kita lebih hafal Jaran Goyangnya Nella Kharisma dibanding senandung Rayuan Pulau Kelapa dan Padamu Negeri, kalau sudah begini siapa yang bertanggung jawab?.

Televisi kita sudah menjadi industri dan menjadikan rating sebagai komoditi, meski tak baik bagi generasi negeri ini.

Baca Juga :  Menempuh Jalan Sunyi Menderma Diri

Anak anak kita lebih mengenal goyang ngebornya Inul, goyang itiknya Zaskia Gothik dan tarian-tarian modern, remo menjadi barang antik, ludruk menjadi ambruk. Ada kartu kuning di dunia pertelevisian kita.

Belum lagi pendidikan kita mengajarkan persaingan bukan mengajarkan kegotong-royongan dan sinergitas yang menghargai keragaman, sehingga sesuatu disebut baik bila memenuhi standar angka-angka kapitalis dan materialis. Anak disebut pandai kalau matematikanya 10, meski kalau di jalan dia membiarkan seorang ibu menyeberang sendirian. Pendidikan kita menjadi kering dari sentuhan moral, kalau toh ada itu hanya artifisial. Hanya diukur dari deretan angka angka kuantitatif. Ada kartu kuning di dunia pendidikan kita.

Kalau anak-anak kita menjadi anak-anak yang tak peduli, masih disalahkankah anak-anak ini?. Bukankah kita yang menghendaki anak-anak seperti ini?. Kalau anak-anak itu memprotes terhadap perlakuan yang tak wajar kepadanya, bukankah itu adalah potret sesuatu yang jujur dan harus kita apresiasi?. Tapi bisakah kita sebagai orang tua, guru, pemerintah menangkap makna kejujuran yang diwujudkan?. Kita menjadi sangat protektif dan defensif sehingga kita selalu memperlakukan mereka yang berbeda sebagai “musuh” yang harus dihabisi bersama-sama, kita selalu berkata kita sudah lakukan, kita mengerjakan yang terbaik. Ah, kita seperti orang mengigau dalam tidur panjang. Ada kartu kuning di dalam cara kita memperlakukan orang.

Baca Juga :  Merajut Kembali Tenun Pendidikan dan Kebudayaan

Balada Sampang dengan tragedi murid dan guru, serta kisah kartu kuning Zadit ketua BEM UI adalah potret kejujuran yang memperingatkan bahwa ada yang bias pada kebijakan-kebijakan negeri, kebijakan pendidikannya, kebijakan sosial, kebijakan hukum dan lain lain.

Ananda H, pak Guru Budi, Adinda Zadit adalah korban dari kebijakan negeri, mereka protes terhadap perlakuan yang tak lagi mengerti. Ananda H dengan perlawanannya terhadap sistem pembelajaran, pak Guru Budi dengan keberaniannya dan kejujurannya memperingatkan murid agar menjadi murid yang baik dan budiman, dan Zadit dengan kartu kuningnya, mengingatkan ada sesuatu yang ia gelisahkan terhadap negeri ini. Mengapa kita harus menutup diri?.

Kalau kemudian Pak Jokowi yang dikartu kuningkan oleh Zaadit dan merespon dengan kata-kata biarlah nanti para mahasiswa itu saya ajak ke Asmat agar mereka bisa memahami kenyataan yang sebenarnya, saya kira ini adalah sikap sinyal bahwa dunia pendidikan tinggi jangan hanya berkutat pada teori teori belaka, ajaklah mahasiswa memahami realita sehingga mereka bisa lebih cerdas memahami kenyataan. Saya kira inilah saatnya kampus membuktikan, jangan hanya berdiri di menara gading dan berjarak dengan fakta. Kalau yang terjadi seperti ini maka ada kartu kuning di dunia pendidikan tinggi kita.

Baca Juga :  Hari Guru Nasional Soroti Kesejahteraan Guru

Sudah seharusnya semua harus berbenah, jangan hanya beretorika dan mengolah kata-kata, jujur terhadap realita dan berani berubah adalah kebutuhan bangsa.

“Dan jika Kami (Allah) hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang “mutraf” (yang hidup mewah) di negeri itu supaya mentaati Kami (Allah), tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadap mereka ketentuan Kami, kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya. (QS. Al-Israa’ : 16).

Dalam hal kebijakan pendidikan, ada baiknya kita renungkan lagi senandung di atas, dijadikan ruh pembelajaran dan diwujudkan dalam membangun lingkungan sekolah. Sekolah sebagai rumah bagi anak-anak adalah sebuah keniscayaan.

“Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, kalau kaum itu tidak berupaya mengubahnya sendiri”. (QS. Ra’du : 11)

Oleh: M. Isa Ansori
*Ditulis di Surabaya, 5 Pebruari 2018
*Pengajar di STT Malang, Sekretaris Lembaga Perlindungan Anak ( LPA ) Jatim, Anggota Dewan Pendidikan Jatim

Opini yang terkandung di dalam artikel ini adalah milik penulis pribadi dan tidak merefleksikan kebijakan editorial Suaramuslim.net

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.