INDEF Meragukan Utang Luar Negeri Untuk Pembangunan Infrastruktur
Direktur Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Dr. Enny Sri Hartati dalam diskusi "Politik APBN" yang digelar oleh Akbar Tanjung Institute, di Jakarta, 18 April 2018 (Foto: Suaramuslim.net/Ali Hasibuan)

Jakarta (Suaramuslim.net) – Direktur Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Dr. Enny Sri Hartati meragukan kalau utang luar negeri Indonesia digunakan untuk pembangunan infrastruktur. Hal ini ia sampaikan menyusul temuan data Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sejak tiga tahun terakhir.

“Jadi kalau kemaren bolak-balik mengklaim kalau utang luar negeri digunakan untuk belanja infrastruktur, datanya mana gitu lo,” tutur Enny dalam diskusi “Politik APBN” yang diselenggarakan Akbar Tanjung Institute, Rabu (18/4) di Pancoran, Jakarta Selatan.

Dalam data yang dipaparkan Enny, sejak tiga tahun terakhir anggaran untuk belanja pegawai negara justru yang paling meningkat drastis, yakni 20,25 persen pada tahun 2014 meningkat menjadi 26,25 persen di akhir tahun 2017. Sedangkan untuk anggaran modal yang notabenenya diklaim sebagai anggaran untuk pembangunan infrastruktur hanya meningkat sedikit, yakni 12,24 persen di tahun 2014 menjadi 15,25 persen di tahun 2017.

Sebelumnya Bank Indonesia pada akhir tahun 2017 mengeluarkan data bahwa jumlah utang luar negeri Indonesia mengalami peningkatan menjadi 343,1 Miliar Dolar AS. Bank Indonesia mengatakan peningkatan ini sejalan dengan kebutuhan pembiayaan untuk pembangunan infrastruktur.

Baca Juga :  Peneliti Indef: Utang Luar Negeri Indonesia Tidak Aman

Lebih lanjut Enny mengatakan, bahwa pembangunan-pembangunan tol yang massif dilakukan oleh pemerintah bukan diambil dari APBN melainkan diserahkan kepada pihak swasta atau komersil.

“jadi sekarang terjadi percepatan tol di mana-mana, ia. Tapi siapa yang membiayai itu, tanya BUMN-BUMN karya kita, tanya Wijaya Karya, tanya Adhi Karya darimana mereka mendapatkan pembiayaan infrastruktur”, tambah Enny.

“Setelah tol jadi ya pasti mahal, karena sumber pembiayaan mereka adalah swasta/komersial,” pungkasnya.

Reporter: Ali Hasibuan
Editor: Muhammad Nashir

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.