Inilah Macam-Macam Hati
Ilustrasi hati

Suaramuslim.net – Pembahasan “Tazkiyatun-Nafs” tidak bisa dilepaskan dari hati manusia. Karena, hati adalah objek vital yang perlu disucikan jika setiap individu menginginkan kesuksesan dunia-akhirat (QS Asy-Sayms [91]: 9-10). Meminjam bahasa Nabi, dalam dada manusia ada segumpal daging yang jika sehat maka akan sehatlah selurah anggota badan. Jika sakit, maka anggota yang lain jadi bermasalah.

Atas dasar itu, menjadi wajib diketahui bagi orang yang ingin menyucikan hatinya untuk memahami macam-macam hati manusia. Syekh Ahmad Farid dalam bukunya berjudul “Tazkayah an-Nufus” (1993: I/18) mengemukakan 3 macam kondisi hati manusia:

1. Hati yang sehat (shahih)

-Advertisement-

Hati yang sehat, atau yang disebut juga dengan istilah ‘qalbun salim’ merupakan hati yang mutlak dimiliki bagi orang yang menginginkan keselamatan di akhirat. Terkait hal ini dalam Al Quran disebutkan:

 يَوۡمَ لَا يَنفَعُ مَالٞ وَلَا بَنُونَ ٨٨ إِلَّا مَنۡ أَتَى ٱللَّهَ بِقَلۡبٖ سَلِيمٖ ٨٩ 

“(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna [88] kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih [89]” (QS Asy-Syu’ara [26]: 88-89)

Baca Juga :  Indahnya Menjaga “IMAN”

Apa yang dimaksud dengan hati yang sehat? Salah satu definisi yang beliau kemukakan adalah:

القلب الذى سلم من كل شهوة تخالف أمر الله ونهيه

“Yaitu hati yang selamat dari segala syahwat yang menyalahi perintah Allah dan larangan-Nya”. Dari sini bisa dikatakan bahwa indikator hati sehat adalah ketika antusias mengerjakan perintah Allah dan pantang mengerjakan larangan-larangan-Nya.

Abu Hamid Al-Ghazali dalam magnum opusnya “Ihya ‘Ulumiddin” (I/7) mencatat bahwa untuk menjaga agar hati tetap sehat, maka perlu asupan ilmu dan hikmah. Sebaliknya, orang yang hatinya kehilangan ilmu dan hikmah, maka hatinya sedang sakit.

2. Hati yang mati (mayyit)    

Macam selanjutnya adalah hati yang mati. Hati model demikian digambarkan oleh Syekh Farid sebagai hati yang tak mengenal Tuhannya, tak mengindahkan perintah-Nya, demikian terhadap yang dicintai dan diridai-Nya. Ia lebih menuruti hawa nafsu meski itu menimbulkan murka dan amarah Allah. Tuhannya adalah hawa nafsu itu sendiri. Hati demikian adalah hati yang fasad (rusak).

3. Hati yang sakit (maridh)   

Selanjutnya adalah hati yang sakit (maridh). Hati demikian adalah yang masih memiliki kehidupan namun terjangkit penyakit. Ketika yang dominan adalah cinta dan rida Allah, maka hati bisa sehat kembali. Sebaliknya, jika yang mendominasi adalah syahwat dan cinta dunia, maka hati mengalami sakit yang perlu diobati.

Baca Juga :  Ramadhan, Bulan untuk Menghidupkan Hati

Sekarang, untuk mendeteksi hati kita sedang sehat, mati atau sakit –sebagaimana pemaparan singkat tadi—bisa dipraktikkan. Misalkan dengan Al Quran sebagai acuan. Ketika membaca firman Allah yang agung itu, apa ada getaran di hati kita? Atau justru merasa benci, malas dan bersifat fluktuatif sebagaimana keimanan dan lebih suka dengan bacaan-bacaan lain yang sebenarnya melalaikan dari Allah? Masing-masing dari kita –asal jujur—sudah bisa merasakannya.

Terkait hal ini apa yang ditulis oleh Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam kitab “al-Fawaa`id” (1973: 148) bisa direnungkan, “Temukan hatimu dalam tiga kondisi. Pertama, ketika mendengar Al Quran. Kedua, saat berada di majelis dzikir. Ketiga, di kala sedang sendirian. Jika dalam ketiga kondisi ini tidak bisa menemukan atau merasakan hati, maka bermohonlah kepada Allah agar dikaruniai karena pada waktu itu kamu sedang tak mempunyai hati (alias mati).”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.