Islam, Seksualitas dan Kaum Liberal
Ilustrasi tangan perempuan dan bunga mawar. (Ils: Dribbble/Eric Moe)

Suaramuslim.net – Di dalam syariat para nabi terdapat satu prinsip muhkamat yang tak pernah berubah sepanjang masa, yaitu kewajiban menjaga akhlak mulia dan pengharaman zina serta seluruh perbuatan keji.

Prinsip ini merupakan perkara muhkamat paling agung di bidang etika dan perlindungan keluarga. Karena itulah, Allah menggolongkan prinsip ini bersama perkara muhkamat lainnya dalam rangkaian satu ayat al-Qur’an yang berbicara tentang kejahatan terbesar yang dilakukan terhadap umat manusia. Artinya, tindakan yang membenarkan apalagi melegalkan perbuatan-perbuatan keji adalah bentuk dari kejahatan terhadap kemanusiaan itu sendiri. Allah berfirman:

قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Katakanlah wahai Muhammad, Rabbku hanya mengharamkan segala perbuatan keji yang terlihat dan yang tersembunyi, perbuatan dosa, perbuatan zalim tanpa alasan yang benar, dan (mengharamkan) kamu mempersekutukan Allah dengan sesuatu, sedangkan Dia tidak menurunkan alasan untuk itu, dan (mengharamkan) kamu membicarakan tentang Allah apa yang tidak kamu ketahui. (Q.S. 7: 33).

Tindak kejahatan yang disebutkan dalam ayat inilah yang menjadi sebab terjadinya problematika umat manusia kontemporer, di mana kaum munafik memiliki andil besar dalam upaya menyebarkannya.

Tujuan syariat para nabi adalah membangun masyarakat Islami di atas pondasi akhlak yang mulia, kemudian menjaganya dari segala sesuatu yang dapat membuatnya lemah atau lenyap.

Prinsip menjaga kesucian diri adalah prinsip agung yang dinyatakan oleh Islam sejak permulaan dakwahnya. Ja’far bin Abi Thalib telah menyampaikan prinsip ini di hadapan Raja Najasyi saat beliau menjawab pertanyaan terbesar kebudayaan dunia lama, yaitu, “Apa yang dibawa oleh Islam untuk umat manusia?”

Para pemuka jahiliyah, dan para pemuka agama-agama terdahulu mendengarkan jawaban yang diberikan oleh Ja’far ketika ia berkata kepada Najasyi.

Wahai Paduka Raja, dahulu kami adalah kaum jahiliyah, kami menyembah berhala, makan bangkai, melakukan perbuatan keji, memutus hubungan kekerabatan, berbuat buruk terhadap tetangga, kaum kuat memakan kaum lemah.

 Kami masih dalam kondisi itu hingga Allah mengutus kepada kami seorang utusan dari bangsa kami yang kami kenal nasabnya, kejujurannya, amanahnya, dan kesucian dirinya. Lantas rasul itu mengajak kami untuk mengesakan dan menyembah Allah dan melepaskan diri dari ibadah yang kami dan bapak-bapak kami lakukan kepada selain-Nya, yaitu penyembahan bebatuan dan berhala-berhala.

 Dia perintahkan kami untuk berbicara jujur, menunaikan amanah, menyambung kekerabatan, berbuat baik kepada tetangga, menjauhi hal-hal yang diharamkan dan menumpahkan darah, melarang perbuatan keji, berkata dusta, memakan harta anak yatim dan menuduh zina wanita-wanita suci.

 Dia juga perintahkan kami agar hanya menyembah Allah, tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, melaksanakan salat, zakat, puasa, lalu Ja’far menyebutkan sejumlah perkara dalam Islam.

 Lalu kami membenarkannya, beriman kepadanya dan mengikuti agama Allah yang dibawanya. Lalu kami menyembah hanya kepada Allah, tidak menyekutukan dengan sesuatu apa pun, mengharamkan apa yang diharamkan atas kami dan menghalalkan apa yang dihalalkan bagi kami.

 Akibatnya, kaum kami memusuhi kami lalu menyiksa kami dan menimpakan cobaan kepada kami untuk mengembalikan kami kepada penyembahan berhala setelah kami beribadah kepada Allah dan meminta kami menghalalkan hal-hal buruk yang dahulu pernah kami lakukan.

Seksualitas dalam Tinjauan Liberal Klasik

Prinsip menjaga kesucian diri, berhijab, menutup aurat, menikah dengan wanita merdeka dan budak wanita (milkul yamin), menghindari perzinaan dan akhlak mulia inilah, yang menjadi target kaum munafik dan orang-orang yang gemar berbuat kerusakan di muka bumi, untuk dihancurkan.

Baca Juga :  Dampak Liberalisasi Lifestyle: Menukar Kehormatan Perempuan dengan Materi

Abdullah bin Ubay bin Salul adalah orang yang memulai penyebaran berita dusta terhadap ‘Aisyah Ummul Mukminin ra (Q.S. 24: 11-20).

Itulah catatan sejarah tertua yang merekam kebejatan moral kaum munafik, setelah sebelumnya mereka mengingkari wahyu dan kerasulan Muhammad saw (Q.S. 2:142, 9:45, 74, 127), menolak berhukum kepada syariat Islam (Q.S. 4:60-65, 24:47-50), memberikan loyalitas kepada kaum kafir (Q.S. 4:138-140), dan upaya mereka untuk merobek-robek persatuan kaum muslimin di Madinah (Q.S. 9:107-109).

Dia dan para pengikutnya dari kaum munafik menggunakan kesempatan untuk merusak masyarakat beriman dengan menyebarkan kabar dusta, karena merekalah yang menyebarkan perbuatan keji itu di tengah komunitas orang beriman. Oleh karena itulah, Allah berfirman tentang kaum munafik,

إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar perbuatan yang sangat keji itu (berita bohong) tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, mereka mendapat azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui. (Q.S. 24:19).

Baca Juga :  Jokowi: antara Ideologi Pancasila dan Liberalisme Kapitalisme

Lebih dari itu, pemimpin kaum munafik, Abdullah bin Ubay bin Salul telah mengkoordinasi penyebaran perbuatan keji dan pelacuran para hamba sahaya perempuan. Demikian halnya yang dilakukan oleh para penyeru paham kebebasan mutlak, yaitu perbuatan keji yang menyebarkan Westernisasi di dunia Islam.

Imam Muslim meriwayatkan hadis dari Jabir bin Abdillah, ia berkata, “Abdullah bin Ubay bin Salul sering berkata kepada hama sahaya perempuannya, ‘Pergilah melacur untuk kami’, lalu Allah menurunkan firman-Nya,

وَلَا تُكْرِهُوا فَتَيَاتِكُمْ عَلَى الْبِغَاءِ إِنْ أَرَدْنَ تَحَصُّنًا لِتَبْتَغُوا عَرَضَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَنْ يُكْرِهْهُنَّ فَإِنَّ اللَّهَ مِنْ بَعْدِ إِكْرَاهِهِنَّ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Dan janganlah kamu paksa hamba sahaya perempuanmu untuk melakukan pelacuran, sedang mereka sendiri menginginkan kesucian, karena kamu hendak mencari keuntungan kehidupan duniawi, barangsiapa memaksa mereka maka sungguh, Allah Maha Pengampun Maha Penyayang kepada mereka setelah mereka dipaksa. (Q.S. 24:33).

Diriwayatkan oleh Muslim dan Abu Daud dari Jabir ra bahwa Abdullah bin Ubay bin Salul mempunyai dua hamba sahaya perempuan, yaitu Musaikah dan Umaimah. Lalu dia memaksanya untuk melacur, kemudian mereka mengadukan hal itu kepada Rasulullah, maka turunlah ayat ini:

Baca Juga :  Kebebasan Akademik dan Legalisasi Zina

وَلْيَسْتَعْفِفِ الَّذِيْنَ لَا يَجِدُوْنَ نِكَاحًا حَتّٰى يُغْنِيَهُمُ اللّٰهُ مِنْ فَضْلِهٖ ۗوَالَّذِيْنَ يَبْتَغُوْنَ الْكِتٰبَ مِمَّا مَلَكَتْ اَيْمَانُكُمْ فَكَاتِبُوْهُمْ اِنْ عَلِمْتُمْ فِيْهِمْ خَيْرًا وَّاٰتُوْهُمْ مِّنْ مَّالِ اللّٰهِ الَّذِيْٓ اٰتٰىكُمْ ۗوَلَا تُكْرِهُوْا فَتَيٰتِكُمْ عَلَى الْبِغَاۤءِ اِنْ اَرَدْنَ تَحَصُّنًا لِّتَبْتَغُوْا عَرَضَ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا ۗوَمَنْ يُّكْرِهْهُّنَّ فَاِنَّ اللّٰهَ مِنْۢ بَعْدِ اِكْرَاهِهِنَّ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

Dan orang-orang yang tidak mampu menikah hendaklah menjaga kesucian (diri) nya, sampai Allah memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya. Dan jika hamba sahaya yang kamu miliki menginginkan perjanjian (kebebasan), hendaklah kamu buat perjanjian kepada mereka, jika kamu mengetahui ada kebaikan pada mereka, dan berikanlah kepada mereka sebagian dari harta Allah yang dikaruniakan-Nya kepadamu.

 Dan janganlah kamu paksa hamba sahaya perempuanmu untuk melakukan pelacuran, sedang mereka sendiri menginginkan kesucian, karena kamu hendak mencari keuntungan kehidupan duniawi. Barangsiapa memaksa mereka, maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang (kepada mereka) setelah mereka dipaksa. (Q.S. 24:33).

Azzuhri mengomentari ayat ini berkata, “Memaksa mereka atas hal yang dipaksakan terhadap mereka.” Memperdagangkan para budak seks seperti ini biasa dilakukan oleh orang-orang jahiliyah, di antaranya adalah gembong munafik, Abdullah bin Ubay.

Perbuatan busuk ini sungguh melecehkan manusia, menurunkan mereka ke derajat hewan, menyebarkan zina, memfasilitasi perbuatan keji, serta menghancurkan norma dan akhlak mulia. Itulah perbuatan kaum munafik di sepanjang masa yang selalu ingin menghancurkan masyarakat Islam.

Sungguh jauh perbedaan antara perbuatan kaum jahiliyah yang dihidupkan dan terus menerus dihembuskan oleh kaum munafik, dengan prinsip-prinsip Islam yang agung sebagaimana dikatakan oleh Ja’far bin Abi Thalib. Allah berfirman,

وَاللَّهُ يُرِيدُ أَنْ يَتُوبَ عَلَيْكُمْ وَيُرِيدُ الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الشَّهَوَاتِ أَنْ تَمِيلُوا مَيْلًا عَظِيمًا

Dan Allah hendak menerima taubatmu, sedang orang-orang yang mengikuti syahwatnya menghendaki agar kamu berpaling sejauh-jauhnya dari kebenaran. (Q.S. 4:27).

Baca selengkapnya Klik di sini

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.