Istimewakah Bulan Ramadhan bagi Kita
Ilustrasi orang-orang yang beribadah di masjid.

Suaramuslim.net – Bahwa Ramadhan itu bulan super istimewa menurut Allah Ta’ala, dan bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bagi para sahabat radhiyallahu ‘anhum, dan bagi para ulama salafus salih serta khalafus salih rahimahumullah, itu semua sudah pasti dan sudah sangat jelas sekali. Tapi masalahnya adalah, istimewakah ia bagi kita? Itulah pertanyaan terpentingnya.

Ramadhan hanya akan istimewa, bila kita benar-benar bertekad dan bersungguh-sungguh dalam upaya mengistimewakannya dengan persiapan iman. Hal-hal dan amal-amal yang tidak cukup sekadar baik dan salih saja, melainkan harus serba istimewa, untuk menggapai derajat takwa nan istimewa pula nantinya.

Jadi, puasa kita misalnya selama Ramadhan, haruslah lebih istimewa. Salat kita juga harus lebih istimewa. Tilawah Al Quran harus lebih istimewa. Infak dan sedekah harus lebih istimewa. Dan begitu seterusnya. Baik itu terkait keistimewaan dalam kualitas, maupun dari aspek kuantitas. Tentu saja yang ideal, ketika yang istimewa dan diistimewakan adalah dua-duanya sekaligus.

Maka, janganlah sampai misalnya, yang istimewa dalam Ramadhan kita itu adalah menu-menu santapan spesialnya. Sehingga tanpa sadar, seolah ia justru berubah menjadi bulan kenyang istimewa dan ajang makan spesial dengan perubahan jadwal dari siang hari ke malam hari saja. Padahal semestinya ia menjadi “bulan lapar” istimewa sebagai wasilah dan sarana penempaan diri menuju kenaikan tingkat dan pencapaian peringkat iman yang lebih tinggi lagi dan lagi.

Baca Juga :  Saat Al Quran Cemburu dengan Gadgetmu

Oleh karena itu, marilah kita semua bertekad sejujur-jujurnya, seraya bermohon kepada Allah setulus-tulusnya, agar Ramadhan kali ini, jauh lebih baik, jauh lebih bermakna dan benar-benar jauh lebih istimewa bagi kita, daripada Ramadhan-Ramadhan sebelumnya.

Juga sebisanya, janganlah ada di antara kita, yang masih “berniat” menyia-nyiakan sedetikpun dari waktu-waktu emas bahkan berlian Ramadhan kali ini. Apalagi jika justru masih ada yang sampai “berani” menodainya dengan berbagai perilaku maksiat dan tindak dosa. Karena jangan-jangan, ia merupakan RAMADHAN TERAKHIR bagi kita!!!

Nah, seistimewa apakah bulan Ramadhan ini bagi kita? Seistimewa apakah kesiapan dan persiapan kita dalam menyongsong, menyambut, menerima dan “menjamunya”? Dan seistimewa apakah niat, tekad, semangat serta kesungguhan kita dalam upaya mengistimewakannya dengan segala yang serba istimewa, untuk bisa meraih derajat takwa yang istimewa pula? Jawaban atas semua pertanyaan itu dan lainnya, bisa menjadi parameter penunjuk derajat keimanan kita, peringkat keislaman kita, dan level ketakwaan kita!

Allahumma ya Allah! Jagalah kami. Jagalah diri dan keluarga kami. Jagalah hati dan jiwa kami. Jagalah iman dan takwa kami. Jagalah ukhuwah dan persatuan kami. Jagalah dakwah dan umat kami. Berkahilah kami semua. Dan jadikanlah perjumpaan kami dengan Ramadhan kali ini sebagai perjumpaan yang tidak biasa. Di mana kami tidak sekadar dan asal berjumpa saja, ya Allah. Melainkan dengan cara perjumpaan yang sebaik-baiknya, sesalih-salihnya, setakwa-takwanya, dan seistimewa-istimewanya! Aamiin!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.