Istiqamah dengan identitas Islam

Istiqamah dengan identitas Islam

Masuk Surga dengan Menepati Janji
Ilustrasi kalimat syahadat, kalimat janji kepada Allah. (Ils: Islamidia.com)

Suaramuslim.net – Ketika teguh dengan identitas Islam masih sering distigma buruk, hal ini berpotensi besar mendegradasi pemilik identitas.

Perlakuan dan tuduhan negatif terhadap identitas Islam dilakukan oleh mereka yang dekat dengan kekafiran. Dengan stigma negatif itu, tidak jarang membuat kaum muslimin meninggalkan atribut-atribut Islam.

Nabi dan para sahabatnya yang berpegang teguh pada nilai-nilai dan beridentitas Islam, bukan hanya mendapatkan cemoohan dan pelecehan, tetapi juga mengalami pengusiran dan pembunuhan. Namun mereka tetap istiqamah dengan menjalankan Islam sebagaimana petunjuk Allah.

Ketika mereka berpegang teguh itulah Allah mengganjarnya dengan kemuliaan dan keagungan. Sementara generasi saat ini tidak tahan ketika distigma radikal dan intoleran. Mereka ingin menghindari stigma itu dengan meninggalkan atribut hingga melepaskan perintah Allah, sehingga mereka dihinakan dan direndahkan.

Stigma buruk

Perintah untuk istiqamah pada nilai-nilai kebenaran sangat banyak dan berulang-ulang. Allah dan Rasul-Nya memerintahkan umatnya untuk tegar dalam memegang teguh nilai-nilai Islam. Hal ini seiring dengan upaya sistematis dari orang-orang kafir untuk mendegradasi nilai-nilai Islam. Perilaku dan tindakan orang-orang kafir senantiasa mengganggu keyakinan umat Islam.

Al-Qur’an menarasikan dengan baik sekelompok pemuda yang teguh dengan nilai-nilai tauhid, tetapi mengalami tekanan berat dari penguasa dan orang-orang kafir. Hal ini membuat para pemuda itu berinisiatif keluar (hijrah) dari negerinya. Hal ini diabadikan Allah sebagaimana firman-Nya:

وَّرَبَطْنَا عَلٰى قُلُوْبِهِمْ اِذْ قَا مُوْا فَقَا لُوْا رَبُّنَا رَبُّ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضِ لَنْ نَّدْعُوَا۟مِنْ دُوْنِهٖۤ اِلٰهًـا لَّـقَدْ قُلْنَاۤ اِذًا شَطَطًا

“Dan Kami teguhkan hati mereka ketika mereka berdiri lalu mereka berkata, “Tuhan kami adalah Tuhan langit dan bumi; kami tidak menyeru Tuhan selain Dia. Sungguh, kalau kami berbuat demikian, tentu kami telah mengucapkan perkataan yang sangat jauh dari kebenaran.” (QS. Al-Kahfi: 14).

Perjuangan para pemuda untuk mempertahankan akidahnya hingga rela berhijrah juga dilakukan oleh para sahabat, ketika mendapatkan gangguan dan penduduk Makkah.

Tekanan yang begitu dahsyat itulah sehingga muncul perintah hijrah ke negeri Habasyah. Di negeri yang dipimpin oleh Najasyi, seorang raja yang adil dan melindungi siapapun dari kedzaliman. Para sahabat tinggal di Habasyah bisa bebas dari tekanan dan ancaman, serta bisa menjalankan syariat agamanya secara istiqamah.

Tantangan untuk istiqamah dengan nilai-nilai Islam sangat beragam. Musuh-musuh dakwah Islam tak pernah lelah untuk mengembalikan keyakinan umat Islam kepada keyakinan lama sebagaimana yang mereka percayai.

Teror, tuduhan, cacian, hingga ancaman pembunuhan, mereka halalkan guna mengembalikan keyakinan umat Islam sebelumnya. Al-Qur’an mengabadikan upaya-upaya sistematis dan terstruktur di antaranya:

Pertama, sasaran kerugian

Orang-orang kafir berusaha untuk mengembalikan keyakinan orang-orang Islam agar menjauhi agamanya. Ancaman ekonomi seperti kemiskinan dan kemelaratan dilakukan agar mereka tidak lagi teguh dalam memegang prinsip agamanya.

Kaum Nabi Syu’aib terbiasa dengan mencuri takaran ketika berdagang. Ketika diingatkan agar berbuat jujur dengan menimbang secara benar, mereka pun marah. Pengikut Nabi Syu’aib yang taat pada nilai-nilai yang diajarkan untuk menciptakan praktek ekonomi yang benar, justru mengalami ancaman. Hal ini sebagaimana diabadikan Allah dalam firman-Nya:

وَقَا لَ الْمَلَاُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ قَوْمِهٖ لَئِنِ اتَّبَعْتُمْ شُعَيْبًا اِنَّكُمْ اِذًا لَّخٰسِرُوْنَ

“Dan pemuka-pemuka dari kaumnya (Syu’aib) yang kafir berkata (kepada sesamanya), “Sesungguhnya jika kamu mengikuti Syu’aib, tentu kamu menjadi orang-orang yang rugi.” (QS. Al-A’raf: 90).

Apa yang dilakukan pada orang-orang kafir saat ini tidak ada bedanya. Mereka menciptakan aturan yang membuat kaum muslimin tidak teguh dalam memegang prinsip dalam bertransaksi. Praktik mengurangi timbangan ketika berdagang, atau mengurangi takaran ketika melakukan jual beli.

Kedua, sasaran tuduhan sok suci

Kaum Nabi Luth mempraktikkan hubungan seks sesama jenis. Para laki-laki tidak memiliki gairah/syahwat terhadap lawan jenisnya, Nabi Luth ketika melarang praktik homo itu dan meminta mereka untuk menikahi perempuan-perempuan yang suci, maka utusan Allah itu dituduh sebagai manusia sok suci dan diusir. Hal ini diabadikan Allah sebagaimana firman-Nya:

وَمَا كَا نَ جَوَا بَ قَوْمِهٖۤ اِلَّاۤ اَنْ قَا لُـوْۤا اَخْرِجُوْهُمْ مِّنْ قَرْيَتِكُمْ ۚ اِنَّهُمْ اُنَا سٌ يَّتَطَهَّرُوْنَ

“Dan jawaban kaumnya tidak lain hanya berkata, “Usirlah mereka (Luth dan pengikutnya) dari negerimu ini, mereka adalah orang yang menganggap dirinya suci.” (QS. Al-A’raf: 82).

Apa yang terjadi saat ini memiliki kemiripan. Ketika kaum muslimin melaksanakan agamanya sesuai dengan apa yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya dengan menjauhi hubungan sesama jenis, maka langsung dituduh sebagai manusia yang sok suci. Bahkan yang melarang hubungan sesama jenis dianggap intoleran dan tidak menghargai hak-hak manusia yang memiliki kecenderungan bawaan dari lahir.

Ketiga, sasaran kebodohan

Ucapan nista yang dilakukan orang-orang kafir senantiasa muncul ketika kaum muslimin taat dan patuh pada perintah Allah dan Rasul-Nya. Orang yang ingin menjalankan perintah Allah secara maksimal, maka langsung divonis sebagai manusia yang kurang akal, tak waras, serta tidak mengikuti tren perkembangan zaman.

قَا لَ الْمَلَاُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ قَوْمِهٖۤ اِنَّا لَــنَرٰٮكَ فِيْ سَفَاهَةٍ وَّاِنَّا لَــنَظُنُّكَ مِنَ الْـكٰذِبِيْنَ

“Pemuka-pemuka orang-orang yang kafir dari kaumnya berkata, “Sesungguhnya kami memandang kamu benar-benar kurang waras dan kami kira kamu termasuk orang-orang yang berdusta.” (QS. Al-A’raf: 66).

Penjelasan di atas menguatkan bahwa ketika umat Islam berpegang teguh dengan nilai-nilai dan identitas Islam, maka akan mendapatkan ujian. Ujian itu dalam bentuk cacian, cemoohan, olokan, dan stigma buruk.

Ketika teguh dengan identitas Islam, maka mereka akan dimuliakan Allah, sedangkan ketika luntur dengan adanya stigma itu, maka umat Islam akan terhina.

Surabaya, 1 Februari 2023

Dr. Slamet Muliono R.
Dosen Prodi Pemikiran Politik Islam
Fakultas Ushuluddin dan Filsafat
UIN Sunan Ampel Surabaya

Like this article?

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on WhatsApp
Share on Telegram

Leave a comment