Kaget
Ilustrasi pidato (Ils: Freepik)

Suaramuslim.net – Kaget. Kata ini menyeruak, mengaliri kata-kata di lini masa ruang media sosial. Pada awalnya lisan presiden yang memula. Mengatai saban ada berita bahwa informasi yang didengarnya sungguh berbeda dengan yang disangka. Entah ini kekagetan spontan benar adanya, atau malah hanya ekspresi rupa canda, atau—dan semoga saja bukan—dusta?

Bila presiden sebelumnya memopulerkan “prihatin”, kagetnya penguasa sekarang jelas degradasi kualitas memimpin. Apa pun motivasi kaget yang berulang-ulang disampaikan dalam ragam kasus. Prihatin menyuratkan adanya sikap tidak sependapat dengan realita, dan emosi turut terlibat untuk mendukung kejadian berkebalikan.

Sementara kaget, berhenti hanya ketidaksepakatan dengan fakta. Apakah ketidaksepakatan itu berarti juga penentangan ataukah perlawanan, belum tentu demikian. Kaget, dengan begitu, malah bisa lahirkan tanda tanya: ada apa di balik keheranan yang direproduksi berulang. Bagi kalangan yang menekuni masalah kejiwaan, reproduksi kaget oleh anasir kekuasaan malah satu persoalan yang mesti digeluti. Ada apa dengan kekuasaan yang begitu mudah melontarkan kekagetan; adakah ia kontradiksi dari kejiwaan yang labil?

Baca Juga :  Menghidupkan Rasa Mengekalkan Raga

Kita, untuk sebagian kasus, semasa bocah berujar kaget bahwa matahari lebih cepat terbit demi menutupi bangun tidur kita yang malas sehingga hasilnya teramat telat. Kita berpura-pura tidak bersalah, alias mengalihkan kesalahan terletak pada faktor luar: matahari. Kita tak ingin dianggap wanprestasi di mata orang tua. Dan semudah itu kita salahkan matahari yang kita sendiri pun tahu waktu dan kepastiannya beredar.

Maka, benarlah bila ekspresi kaget yang berulang sering kali adalah perisai ketidakjujuran kita atas komitmen. Dan kita sangka orang akan begitu mudah memaklumi kekagetan kita tersebut. Lalu, menyangka orang akan memaafkan dan melupakannya secara cepat. Abailah kita bahwa orang bakal berpikir atas kekagetan kita itu: logis ataukah tidak. Apalagi bila kekagetan itu berulang-ulang di panggung kamera banyak mata.

Kaget lebih menyerupai ekspresi spontan konsleting jiwa akibat karut marutnya aliran arus dusta yang dibingkai dan didogma sebagai fakta. Berpura-pura jadi ritual yang mesti dijalani demi satu ambisi. Dan itu semakin tidak disadari mana yang dilakoni semata-mata dalam kepura-puraan, mana yang drama belaka, dan mana pula yang benar fakta adanya. Kekuasaan yang sarat kaget, sementara di kebijakan banyak lahirkan kelaliman, adalah ekspresi mengerikan berbaur kebodohan dan ketidakbecusan menjalankan amanah rakyat.*

Baca Juga :  Pilih Pemimpin yang Memihak Kepentingan Umat Islam

*Opini yang terkandung di dalam artikel ini adalah milik penulis pribadi, dan tidak merefleksikan kebijakan editorial Suaramuslim.net

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.