Suaramuslim.net – “Aku tidak merasa takjub pada rahib yang meninggalkan dunia dan memilih untuk konsentrasi menyembah Tuhannya di tempat ibadahnya, namun aku merasa takjub pada orang ini yang memiliki dunia di bawah kakinya namun ia tidak tergoda  dan tetap zuhud hingga hidupnya lebih mirip dengan seorang rahib.” (Ungkapan Kaisar Romawi saat mendengar kematian Umar bin Abdul Aziz)

Catatan Kaisar Romawi

Pernyataan seorang Kaisar Romawi ini tercatat dalam buku “Biografi Umar bin Abdul Aziz, Khalifah Pembaharu dari Bani Umayyah”, Pustaka Al-Kautsar, 2017, halaman 575. Catatan ini sengaja dikutip untuk menunjukkan kejujuran seorang penguasa Romawi dan keagungan sosok Umar bin Abdul Aziz. Pengakuan jujur seorang penguasa Romawi yang non-muslim dalam melihat pribadi penguasa Islam yang memiliki keagungan karena spirit Islam. Sosok Umar bin Abdul Aziz menunjukkan bahwa kepribadian yang agung itu begitu diakui oleh musuh-musuhnya karena orientasi akhirat yang demikian kuat.

Kejujuran yang tulus dari seorang Raja Romawi berupa pengakuan adanya seorang muslim yang demikian kuat orientasi akhiratnya, dan tak tergoda oleh gemerlap dunia, padahal dunia dan kekuasaannya terdapat di genggaman tangannya. Kalau seorang rahib atau ulama tekun beribadah di tempat ibadahnya, sangat wajar bila khusyu’ dalam menyembah Tuhannya karena tidak ada genggaman kekuasaan di tangannya. Tetapi sosok Umar bin Abdul Aziz, seorang khalifah yang memiliki kekuasaan yang membentang di penjuru dunia, dan bisa berbuat secara leluasa untuk memenuhi segala kebutuhan dan keinginannya, namun dia mampu menahan diri dan tidak tergoda untuk memanfaatkannya. Umar Bin Abdul Aziz tetap fokus menjalani hidupnya sebagai pemimpin yang adil dan tetap berada di atas jalan kebenaran meskipun harta ada di tangannya. Hal ini tidak lain karena didorong oleh orientasi akhirat yang demikian kuat dan kokoh.

Pernyataan kekaguman yang diucapkan oleh seorang raja Romawi, yang memiliki kekuasaan yang besar dan berpengalaman, tentu saja memiliki arti yang mendalam. Kalau diucapkan oleh para ulama atau pengagumnya, tentu sangat wajar. Pemimpin Romawi ini mendapati seorang raja Arab (Umar bin Abdul Aziz) yang memimpin dengan model dan gaya yang tidak dimiliki oleh penguasa lainnya. Umumnya seorang raja, apalagi beragama non-muslim, pasti memiliki kebencian yang mendalam terhadap Islam dan menginginkan kehancuran bagi kekuasaan Islam, sehingga sulit untuk mengucapkan kekaguman apalagi pengagungan. Tetapi berbeda ketika dirinya mendengar sosok Umar meninggal dunia. Dia tiba-tiba menangis dan merasa kehilangan sosok penguasa yang sangat adil dan berwibawa itu.

Catatan penting yang perlu digarisbawahi, dari pengakuan jujur seorang Kaisar Romawi, bahwa kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz sukses karena takutnya meninggalkan ketaatannya kepada Allah sebagaimana tidak ada rasa takutnya meninggalkan dunia yang berada di genggaman tangannya. Berbagai keutamaan Umar seperti jujur dan adil, hingga penguasa Romawi menempatkan kedudukannya hingga pada derajat yang dimiliki Nabi Isa yang bisa menghidupkan orang yang sudah mati. Kaisar Romawi itu sering mendengar cerita tentang Umar kala ia beribadah, baik secara terang-terangan atau sembunyi, sehingga berpandangan bahwa Umar begitu dekat dengan Tuhannya. Umar bin Abdul Aziz memang sosok yang lebih taat bila ia sedang dalam kesendirian, dimana dia memiliki ketakutan yang luar biasa kepada Allah sebagaimana pengakuan istrinya.

Pemimpin Bekerja Siang Malam dan Akhir Hidupnya

Baca Juga :  Ini Yang Dilakukan Umar Bin Abdul Aziz saat Memimpin Negara

Sosok Umar dikenal sebagai sosok pemimpin yang mengabdikan dirinya untuk agama dan negaranya. Sehingga para ulama memberi persaksian bahwa salah satu sebab kematian Umar karena bekerja siang malam tanpa mengenal lelah untuk menegakkan keadilan di tengah masyarakatnya. Hal inilah yang membuat dirinya lelah dan membiarkan fisiknya lemah. Hal ini menunjukkan sosok Umar adalah pemimpin yang bekerja ekstra yang didorong untuk kepentingan akhiratnya.

Keadilan benar-benar tegak di tengah masyarakat ketika Umar berkuasa. Dalam waktu yang demikian singkat, yakni 2,5 tahun atau tiga puluh bulan, berbagai prestasi gemilang telah diraihnya, sehingga para ulama menyebutnya sebagai khalifah kelima, setelah khulafaurrasyidin. Pada era kekuasaan Umar bin Abdul Aziz, orang-orang kaya mengalami kesulitan dalam membagi harta untuk disedekahkan karena tidak ditemukan orang yang berhak menerima sedekah.

Kegemilangan kekuasaan Umar telah diakui dunia, tetapi bagi lawan-lawan politiknya sosok Umar merupakan batu sandungan. Sehingga di puncak kekuasaanya, Umar meninggal karena diracun. Hal ini tidak lain karena perilaku lawan-lawan politiknya yang merasa merasa tersisih dan tidak memiliki akses untuk menikmati harta dan kekuasaan dengan segala cara. Untuk menegakkan keadilan, Umar meminta para pejabat negara atas harta-harta mereka yang diraih dengan cara tidak halal. Harta-harta itu dipergunakan untuk kepentingan membangun negara dan menegakkan keadilan.

Kematian sosok penguasa yang agung itu hingga dibaca oleh penguasa Romawi sebagai rekayasa orang-orang sekelilingnya yang jahat dan berperilaku buruk. Salah satu perilaku yang buruk itu bisa dilihat ketika tega meracuni Umar dengan menyuruh pembantunya untuk meletakkan racun pada makanannya.  

Kunci kesuksesan Umar sehingga membuatnya pribadinya teguh dan kokoh dalam memperjuangkan kebenaran, tidak lain karena ketakutannya yang demikian besar kepada Allah. Pengakuan istrinya yang mendampinginya layak untuk dijadikan bukti kuat. Istrinya mengatakan bahwa suaminya ibadahnya tidak terlalu banyak, tetapi ketakutannya kepada Allah sangat luar biasa. 

Kontributor: Dr Slamet Muliono

Editor: Oki Aryono

*Ditulis di Surabaya, 14 Nopember 2018

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.