Ilustrasi perempuan bercadar (Ilustrator: Novitasari)
Ilustrasi perempuan bercadar (Ilustrator: Novitasari)

Suaramuslim.net – Arus mengarab-arabkan sukar dielakkan otoritas gereja di Semenanjung Iberia. Pemeluk Katolik sudah banyak menampilkan diri selayaknya orang Moor, Muslim yang dianggap menjajah mereka. Tak sebatas menyerap produk teknologi terapan, riuhnya dunia pendidikan dan literasi, dalam gaya hidup keseharian pun mereka tampak mendamba jadi Arab. Muslim adalah Arab, dan ini bersinonim sebuah kehebatan diri, maka berduyunlah para pembayar jizyah itu meniru agama pendatang atau agama rekan sepribumi mereka yang bersyahadat.

Alhasil, tak pelak lagi, bahasa Arab sampai busana kearab-araban hal lumrah ditemukan. Jangan tanya soal kepantasan dan keadaptasian para Nasrani itu dengan kebudayaan yang unggul di depan tanah kelahiran mereka. Dus, jadilah Injil pun dikemas dengan font Arab agar sesuai zaman!

Begitu sari yang saya dapat sebagian dari karya Phillip K. Hitti (dalam History of the Arabs) saat mengulas Andalusia. Saya teringat halaman ulasan ini ketika ada beberapa teman yang merasa minder untuk kearab-kearaban sebagaimana dilakukan banyak sahabatnya. Memang, kearab-araban itu seperti tidak mengindahkan aspek grammar bahasa sehingga menjadi aneh dan berasa campur-campur tak pantas.

Baca Juga :  Melacak Akar Ritual Budaya Masyarakat Muslim

Sebuah pemikiran yang benar dalam tema pemurnian bahasa tapi sebentuk kekerdilan bila dibandingkan dengan bentuk “keberanian” orang-orang non-Muslim di Andalusia yang kearab-araban. Betapa tidak, lafal bahasa asing mereka terima dan serap hingga banyak kosakata baru yang terbentuk dan kelak menjadi bahasa Spanyol modern. Indonesia pun punya pengalaman serupa; jangan tanya kepada para munsyi tentang berapa banyak kata-kata serapan dari bahasa Arab.

Salah dan antusiasme itu satu soal lumrah dalam imitasi ataupun pemajuan peradaban. Imajinasi bagi warga Andalusia untuk gandrung dalam arus Islamofobia, dan di sini imajinasi tegaknya (lagi) peradaban Islam. Bahasa Arab sebagai tonggak ke arah itu semua. Maraknya pelafalan, sesalah apa pun, hal jamak. Asalkan ia diimbangi dengan upaya pembelajaran serius.

Dalam banyak kasus, kesalahan itu bagian dari belajar; sebagian lagi semata-mata ghirah menggebu yang memadankan belajar bahasa Arab itu sama halnya membaguskan kualitas keislaman kita. Sah-sah saja yang meyakini semacam ini.

Maraknya “pencomotan” frasa atau kalimat bahasa Arab untuk percakapan di pelbagai media sosial oleh (sebagian) Muslimin, perlu diapresiasi dan dibaca sebagai pemunculan arus perlawanan terhadap kekuatan dominan. Ia sebentuk usaha menegakkan kepala peradaban Islam yang hari ini masih terseok. Upaya mereka untuk percaya diri ber-ana-antum patut dihargai. Tinggal kita dorong berikutnya untuk belajar secara sistematis dan niat tulus.

Baca Juga :  Upaya Menjaga Multikulturalisme Masyarakat Surabaya

Tentu lain di mata agama ini antara mereka yang berniat tulus dengan yang berniat sekadar ikut-ikutan zaman. Gandrung belaka akan mudah terempas angin perubahan, sebagaimana kelak terjadi di Andalusia. Ketika Muslimin mulai koyak, arus kecintaan menjadi kebencian, yang di antaranya diartikulasi dengan membakar segala yang beraksara Arab!

Demikian pula sejarah panjang penghapusan aksara pegon (Arab berbunyi Melayu atau Jawa) di alam Nusantara, ia terkait dengan kolonialisme yang hendak dilanggengkan. Maka, adanya “tren” kearab-araban perlu dilihat dengan bijak; sebijak untuk mengarahkan mereka agar beradab. Toh adab dalam khazanah Islam tidak melulu bicara soal teknis dan produk budaya (sebagaimana diulas panjang pada karya-karya George Makdisi), tetapi juga soal sikap dan cara berpikir.

Di sinilah dorongan agar para sahabat yang kearab-araban itu, selain dengan memintanya intensif belajar bahasa Al Quran, juga tidak belagu ketika dalam keseharian.

Hal terakhir ini yang repot. Mereka yang baru belajar kadang lalai bab adab penuntut ilmu ini. Ditambah lagi seringnya penimba belajar bahasa Arab itu sejalan dengan gairahnya berhijrah “sesuai sunah”, maka yang terjadi rentan satu kekerasan dalam bersikap di mata orang lain. Jangan sampai, kearab-araban mengalami resakralisasi yang radikal dengan memilah mana yang sejalan dengan sunah atau tidak; dus mengeksklusi yang tidak atau belum benar sesuai tata bahasa Arab.*

Baca Juga :  Memaknai Kembali Frasa Insyaallah

*Opini yang terkandung di dalam artikel ini adalah milik penulis pribadi, dan tidak merefleksikan kebijakan editorial Suaramuslim.net

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.