Ilustrasi nama Aisyah Radhiallahu Anha. Ils: suaramuslim.net/chamdika

Suaramuslim.net – Aisyah Radhiallahu Anha, termasuk wanita yang secara fisik tumbuh sangat cepat. Tatkala umurnya menginjak sembilan atau sepuluh tahun, tubuhnya mulai menggemuk namun tetap ideal. Ketika masih belia, tubuhnya kurus dan lemak belum membalut tubuhnya. Ketika dewasa tubuhnya semakin gemuk. Secara umum, bisa disimpulkan bahwa kulitnya berwarna putih kemerah-merahan, tampak anggun, menarik, dan cantik. Dia adalah pribadi yang sangat zuhud dan qanaah. Tidak memiliki kecuali hanya satu pakaian.

Aisyah Radhiallahu Anha mendapatkan kehormatan untuk menemani Rasulullah semenjak masih usia belia hingga menjadi remaja, selama waktu itu dia berada dalam pengawasan dan naungan Nabi suci utusan pencipta langit dan bumi guna menyempurnakan akhlak yang mulia.

Pendidikan agung dan pertemanan mulia itu mengantarkan Aisyah kepada puncak akhlak yang baik, kedudukan yang tinggi yang merupakan puncak jenjang spriritual dan ujung ketinggian maknawi dalam kehidupan manusia yang kebingungan. Karena itu, Aisyah menempati posisi yang sangat tinggi dan dilirik banyak pihak dalam persoalan akhlak yang terpuji, zuhud, wara’, dermawan, dan penyayang poin utama kepribadiannya.

Aisyah adalah pagar rumah Nabi dan istri manusia paling agung dan tinggi. Aisyah memiliki kesadaran penuh tentang besarnya tanggung jawabnya, karena itulah dia sangat antusias dalam menjalankan kewajibannya dan melaksanakannya dengan sebaik-baiknya. Setiap kali datang perempuan untuk suatu keperluan, Aisyah mengulurkan bantuan dan pertolongan, menyelesaikan keperluannya, dan megutarakan persoalannya kepada kekasih.

Taat Kepada Suami

Siang dan malam Aisyah mengerahkan segala kemampuannya untuk mentaati Rasulullah, melaksanakan perintah dan larangannya, dan mencari kesenangan dan keridhaannya. Kalau seandainya dia melihat rona wajah Rasulullah yang menyiratkan kesedihan, kegundahan, dan ketidak senangan, Aisyah pun bingung dan merasa tidak enak hati.

Aisyah sangat perhatian terhadap kerabat-kerabat Rasulullah dan tidak pernah menolak permintaan mereka, pada suatu ketika dia berkata, “Saya bernadzar apabila sampai bicara kepada Abdullah bin Zubair,” lalu Ibnu Zubair meminta bantuan kepada beberapa orang quraisy dan paman-paman Rasul secara khusus untuk mengajak Aisyah berbicara, Aisyahpun menolaknya. Aisyah sangat menghormati teman-teeman Nabi dan para sahabat, Aisyah menghormati mereka dan tidak pernah menolak permintaan mereka.

Diantara karakter Aisyah Radhiallahu Anha adalah dia tidak pernah menghibah siapapun. Riwayat-riwayat tentang Aisyah jumlahnya mencapai ribuan, namun tidak kita jumpai satupun yang secara sengaja merendahkan atau berbuat kejelekkan kepada orang lain. Ucapan-ucapan sesama istri Nabi dan adu mulut di antara mereka adalah karakter dan watak wanita. Namun sebagaimana yang telah kita lewati bersama, bagaimana Aisyah menceritakan kelebihan-kelebihan istri-istri Nabi yang lainnya dengan penuh lapang dada dan biasa menceritakan mereka dengan hal-hal yang positif.

Aisyah Radhiallahu Anha jarang sekali menerima hadiah dari orang lain, kalaupun dia menerimanya maka dalam waktu dekat akan membalasnya. Telah datang kepada Umar sebuah peti yang berisi permata dari Irak. Dia berkata kepada para sahabatnya, “Apakah kalian tahu berapa harganya?” Mereka berkata, “Tidak.” Mereka juga tidak tahu bagaimana cara membaginya. Umar pun berkata, “Apakah kalian mengizinkan kalau aku kirimkan kotak ini kepada Aisyah, sebab Rasul sangat mencintainya.” Mereka menjawab, “Ya.” Lalu peti tersebut diantar kerumah Aisyah, lalu dia membukanya dan berkata, “Apa yang diberikan oleh Ibnu Al-Khatab kepadaku setelah wafatnya Rasulullah? Ya Allah, jangan disisakan sedikitpun untukku.”

Menghindari Pujian dan Sanjungan yang Berlebihan     

Aisyah Radhiallahu Anha tidak senang memuji diri sendiri sebagaimana juga ketika ada yang memujinya di hadapannya, Abdullah Ibnu Abbas meminta izin untuk masuk menjenguknya saat dia sakit diujung hidupnya. Namun, karena dia tahu bahwa Ibnu Abbas hendak memujinya, maka diapun menolak kehadirannya. Kemudian dia mengizinkannya masuk setelah beberapa orang memintanya. Ketika Abdullah bin Abbas masuk ke dalam ruangan, dia langsung memuji-muji, lalu Aisyah berkata, “ingin sekali rasanya aku menjadi sesuatu yang dilupakan.”

Dermawan, murah hati, dan suka memberi merupakan ciri khas dan karakter akhlaknya yang terpuji serta permata yang sangat mahal dalam dirinya. Dia lebih disebut penolong dibandingkan dermawan, dimana sifat itu benar-benar mewarisi sifat ayahnya. Akhlaknya yang mulia itu dibantu oleh teladan yang sangat dekat dari penghulu para penolong orang lemah dan pengajar para diktator untuk melembutkan hati. Begitu juga dengan saudarinya; Asma binti Abu Bakar Ash-Shiddiq, keduanya memiliki jiwa pemurah dan berada di atas derajat keutamaan dan kedermawanan tertinggi.

Aisyah Radhiallahu Anha selalu melaksanakan ibadah, dan menekuni shalat tathawwu’ dan nafilah. Seluruh waktunya diisi dengan dzikir dan tasbih. Aisyah biasa shalat dhuha dan berkata, “Aku mengerjakan shalat yang biasa kukerjakan pada zaman Nabi, kalau seandainya ayahku dibangkitkan dari kubur dan melarangku untuk mengerjakannya, maka aku tidak akan sudi meninggalkannya.”

Dikutip dari buku Ummul Mukminin Aisyah Radhiallahu Anha, Potret Wanita Mulia Sepanjang Zaman.

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.