(Suaramuslim.net) (Berzakat.id)- “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan.” (QS. At Taubah: 103)

Potongan ayat di atas menjadi peringatan sekaligus perintah. Bercampur di dalamnya keutamaan. Membersihkan dan mensucikan. Dua kata yang cukup menggelitik.

Membersihkan yang dimaksud dengan dibersihkan dari dosa dan akhlak yang buruk. Sedang mensucikan yang dimaksud dengan agar dipermudah untuk menjalankan amalan yang shalih dan kesucian jiwa juga bertambah serta mendapatkan tambahan pahala yang besar ketika di dunia dan akhirat (As Sa’di: 328).

Keutamaan mana lagi yang lebih besar daripada keutamaan zakat berupa tambahan pahala ketika di dunia dan akhirat secara langsung. Dunia dia mendapatkan pahala dan “pahala”. Pahala yang pertama berupa pahala dari Allah Swt. dipanen ketika di akhirat. Pahala tanda kutip yang bisa bermakna dia bisa mendapatkan tambahan harta dari Allah Swt.

Yang menjadi problem sekarang, zakat identik atau bagi mereka yang mampu. Punya simpanan dan penghasilan yang melebihi nisab. Kemudian bagaimana dengan mereka yang masih belum kecukupan? Apakah tidak bisa menjalankan dari rukun Islam ini. Padahal keutamaan dari zakat sesuai ayat di atas bisa membersihkan dan mensucikan harta dan diri dari sikat pelit.

Baca Juga :  Orang Tersangkut Hukum, Masihkah Termasuk Wajib Zakat?

Pernahkah mendengar anak-anak belajar puasa dengan poso bedhug? Apakah bisa dikatakan anak-anak tidak boleh melakukan puasa? Tentu saja sebagian kita dengar istilah puasa tersebut dan tentu juga anak-anak boleh melakukan puasa tersebut.

Nah untuk zakat bisa juga dipraktikkan dengan metode poso bedhug (puasa setengah hari atau berbuka saat dhuhur).

Zakat pun bisa dengan bedhug dalam artian bisa separuh. Separuh dari kemampuan dalam bentuk ideal. Mengingat mengejar keutamaan itu bisa dilakukan dengan setengahnya saja. Meski langsung sempurna adalah utama.

Namun jika tidak mampu bisa separuh saja. Masalah pahala biar Allah saja yang mengatur dan memberikan. Tidak perlu dipikirkan apakah diterima atau tidak, jika diterima apakah besar atau tidak pahalanya. Semuanya yang penting bisa dimulai dengan semampunya.

Mulai dengan zakat semampunya ini berharap bisa semula kecil bisa lebih genap. Dan ini bisa menjadi doa dan afirmasi yang mendalam untuk bisa berzakat.

Misal penghasilan Rp 500 ribu per bulan, maka dia jika dihitung setahun maka tidak bisa atau belum mencapai nisab. Apakah orang demikian tidak bisa mengejar keutamaan zakat? Tentu saja dia bisa. Meski derajatnya masih belajar tentu tidak masalah.

Baca Juga :  FOZ Jatim Gelar Sekolah Amil untuk Optimalisasi Penghimpunan Zakat

Apakah yang belajar tidak mendapatkan apa-apa? Tentu mendapatkan apa-apa. Secara psikis dia mendapatkan semangat berzakat. Kita mendapatkan sebagian keutamaan dari “membersihkan dan mensucikan”. Dan ini membuat hati bisa lebih dermawan. Zakat bukan sebagai kewajiban sebagaimana psikologi pajak. Tapi sebagai bentuk kasih kepada orang lain. Bagi si miskin bisa melakukan ini. Dua setengah persen bisa menjadi ukuran yang minimal dari harta yang minimalis. Inilah keutamaan zakat saat miskin.

Semoga dari belajar ini rezeki bertambah. Semangat bekerja tumbuh. Tujuan agar bisa menjalankan amalan zakat. Dan ini menjadi niatan yang bisa mengembangkan diri dan harta juga.

Kondisi demikian secara tidak langsung membawa hati lebih bersih dan suci dalam menerima harta. Tidak tamak lagi bakhil. Juga tidak boros. Bisa berada di tengah-tengah.

Kalau tidak bisa semua maka jangan ditinggalkan semuanya. Ambil yang bisa semoga di waktu mendatang bisa menjadi sempurna.{}
Salurkan zakat dan infak Anda melalui berzakat.id

Kontributor: Muslih Marju*

Editor: Oki Aryono

*Penulis adalah penyuka tumpukan kata. Tinggal di Tulungagung. Aktif di LSBO PDM Tulungagung.

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.