Kiat menjaga kemurnian dalam ibadah qurban. Seri kajian inspiratif qurban (5)

Suaramuslim.net – Banyak orang mampu membeli hewan qurban. Tetapi tidak semua orang benar-benar mampu menjaga kemurnian qurbannya.

Kalimat ini mungkin terdengar sederhana. Namun justru di situlah letak inti terdalam ibadah qurban. Karena sesungguhnya, yang paling sulit dalam qurban bukan membeli sapi atau kambingnya. Tapi yang paling sulit adalah menjaga hati agar tetap ikhlas, bersih, dan tunduk hanya kepada Allah SWT.

Hari ini, kita hidup di zaman yang penuh godaan pencitraan. Amal mudah dipamerkan. Kebaikan mudah dipublikasikan. Bahkan ibadah kadang malah berubah menjadi bagian dari penampilan sosial.

Allah menegaskan bahwa yang dinilai bukan semata besarnya hewan qurban, mahalnya sapi, atau banyaknya jumlah qurban seseorang. Yang paling utama justru adalah ketakwaan yang hidup di dalam hati.

Di sinilah kita perlu memahami bahwa qurban bukan hanya ibadah fisik, tetapi juga ibadah spiritual dan moral.

Para ulama mengajarkan berbagai adab dan ketentuan syar’i agar qurban tidak kehilangan ruhnya. Uraian singkat berikut ini mencoba menyampaikan kembali beberapa hal untuk kita ingat dalam upaya menyempurnakan ibadah qurban kita.

Qurban harus dijaga dari riya dan kesombongan

Ini penting sekali di era media sosial. Jangan sampai qurban berubah menjadi panggung untuk mencari pujian manusia.

Memang tidak semua dokumentasi itu salah. Tetapi hati tetap harus dijaga. Jangan sampai yang lebih sibuk dipikirkan justru bagaimana terlihat dermawan di mata manusia dibanding bagaimana diterima Allah. Kadang yang merusak amal bukan kekurangan harta, tetapi kelebihan ego.

Hewan qurban harus diperoleh dari harta yang halal dan baik

Qurban bukan sekadar menyembelih hewan apa saja. Islam mengajarkan bahwa ibadah yang mulia harus lahir dari rezeki yang bersih. Jangan sampai seseorang ingin mendekat kepada Allah melalui qurban, tetapi hartanya berasal dari kezaliman, manipulasi, korupsi, atau merugikan hak orang lain. Karena Allah itu Maha Baik dan tidak menerima kecuali yang baik.

Qurban harus dilakukan dengan penuh empati dan kasih sayang

Islam bahkan mengatur bagaimana hewan diperlakukan dengan baik: tidak disiksa, tidak dipertontonkan penyembelihan secara kasar, pisau harus tajam, dan prosesnya tidak boleh menyakiti secara berlebihan.

Ini menunjukkan bahwa qurban bukan pendidikan kekerasan, tetapi pendidikan kasih sayang yang dibingkai ketaatan kepada Allah. Jadi jika ada yang menstigmakan ibadah qurban sebagai “pembantaian hewan” itu tentu tidak saja keliru tetapi zalim.

Orang yang berqurban harus menjaga akhlak dan ketawadhuannya

Kadang ada orang yang setelah berqurban justru merasa lebih saleh dari orang lain. Padahal qurban seharusnya membuat kita semakin rendah hati, bukan semakin bangga diri. Sebab bisa jadi seekor kambing milik orang kecil yang penuh keikhlasan jauh lebih mulia di sisi Allah dibanding beberapa sapi milik orang kaya yang dipenuhi kesombongan.

Qurban harus melahirkan kepedulian sosial

Qurban bukan hanya hubungan vertikal dengan Allah, tetapi juga hubungan horizontal dengan sesama manusia. Ada fakir miskin yang menunggu kebahagiaan di hari raya. Ada keluarga kecil yang mungkin setahun sekali baru bisa menikmati daging.

Karena itu, qurban sejatinya adalah latihan membersihkan hati dari egoisme dan cinta dunia yang berlebihan.

Mungkin inilah alasan mengapa Allah tidak mengatakan bahwa yang sampai kepada-Nya adalah darah dan daging hewan qurban. Tetapi Allah menyebut ketakwaan.

Sejatinya, qurban bukan tentang apa yang disembelih oleh tangan kita. Tetapi tentang apa yang berhasil disembelih di dalam hati kita, yaitu: kesombongan, riya, egoisme, cinta dunia, dan ketidakpedulian kepada sesama.

Ulul Albab
Ketua ICMI Jawa Timur

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.