Kisah Perang Uhud yang Terjadi di Bulan Syawal
Ilustrasi perang (Foto: muslimobsession.com)

Suaramuslim.net – Ada beberapa kisah nabi dan para sahabat yang terjadi di bulan Syawal. Salah satunya adalah Perang Uhud. Perang Uhud terjadi di pertengahan bulan Syawal. Perang ini terjadi di dekat bukit Uhud, di sebelah utara Madinah. Jumlah kaum kafir Quraisy hampir lima kali lipat dari jumlah kaum muslimin.

Sebelum perang Uhud terjadi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengirim dua orang mata-mata yaitu Al ‘Abbas ibn’ Abdul Muthallib dan Al Hubbaab ibn Mundzir radhiyallahu ‘anhuma. Keduanya dikirim untuk mengorek berita, memastikan kabar dan memperbarui informasi mengenai persiapan perang kaum kafir Quraisy. Dari hasil investigasi didapati informasi bahwa jumlah pasukan kafir Quraisy sekitar 3000, lebih sedikit atau kurang sedikit, ada 200 kuda untuk pasukan kavaleri dan perisai-perisai yang dipersiapkan sebanyak 700 perisai.

Kaum kafir yang masih hidup berniat membalas dendam atas kekalahan mereka di Perang Badar. Mereka membentuk pasukan besar dengan dukungan dana dari kabilah Abu Sufyan dan suku-suku di sekitar Makkah yang terikat perjanjian dengan kaum Quraisy.

Baca Juga :  Catatan Sejarah Islam di Bulan Syawal

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mendengar berita penyerangan kaum Quraisy pun berunding dengan para sahabat. Apakah mereka akan menunggu di Madinah atau menghadang musuh di luar kota Madinah. Sebagian besar sahabat yang tidak ikut dalam Perang Badar menginginkan untuk menjemput musuh di luar kota Madinah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menyusun strategi perang dengan menempatkan pasukan pemanah di bukit Uhud. Hal tersebut berhasil membuat pasukan musuh terdesak. Pasukan kaum Quraisy di sayap kanan dipimpin Khalid bin Walid dan pasukan di sayap kiri dipimpin Ikrimah bin Abu Jahal sebelum keduanya masuk islam. Pasukan Khalid berusaha bertahan sedangkan pasukan Ikrimah berlarian mundur. Pada awalnya, kaum muslimin berhasil menaklukkan kaum Quraisy.

Akan tetapi, keadaan berbalik akibat pasukan pemanah yang tidak patuh. Mereka meninggalkan bukit karena tergiur untuk mengambil harta rampasan perang. Khalid bin Walid yang melihat peluang kembali menyerang dari balik bukit. Pasukan muslim kewalahan. Rasulullah bahkan diberitakan telah meninggal dunia.

Baca Juga :  Nikmatnya Puasa Syawal

Saat itu,  pasukan ummat islam tercerai berai. Rasulullah terdesak di sebuah bukit bersama 12 orang sahabat Anshor dan Thalhah bin Ubaidillah. Pasukan kafir Quraisy yang mengetahui posisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saat itu lantas memusatkan serangan ke posisi tersebut.

Ketika dalam kondisi yang semakin terdesak, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berteriak lantang bahwa siapa yang berani melawan mereka akan menjadi tetangga Rasulullah di surga. Thalhah bin Ubaidillah yang hendak maju selalu dicegah oleh Rasulullah. Setelah 12 orang Ansor wafat, Thalhah pun maju dan menjadi perisai Rasulullah. Akibatnya, ia mendapat lebih dari 70 tusukan tombak, sobekan pedang dan tancapan panah serta jari-jari tangannya putus hingga ia disebut sebagai syahid yang berjalan. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Barang siapa ingin melihat seorang Syahid yang berjalan di Muka Bumi setelah kesyahidannya,  maka lihatlah Thalhah Bin Ubaidillah”.

Komando Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tak diindahkan menghasilkan kekalahan telak dalam Perang Uhud. Bulan Syawal pada tahun ketiga hijrah meninggalkan jejak yang menyakitkan bagi kaum muslimin. Akibat perang Uhud, beberapa gigi Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam rontok dan sebuah logam dari baju besinya menembus pipi beliau.

Baca Juga :  Mengapa Menikah di Bulan Syawal?

Selain itu, banyak kaum muslimin yang syahid. Salah satunya adalah paman kecintaan Rasulullah, Hamzah bin Abdul Mutholib. Singa Allah dan Rasul-Nya itu syahid akibat tombak yang dilemparkan seorang budak bernama Wahsyi. Wahsyi mendapat iming-iming dimerdekakan jika berhasil membunuh Hamzah. Setelah masuk islam, Wahsyi dimaafkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tapi beliau tidak mau melihat wajah Wahsyi.

Belajar dari kekalahan di perang Uhud, kaum muslimin menyadari kesalahannya karena tidak patuh pada perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.