Komitmen Kita Kepada Al Quran

667
al quran al karim (2)

Suaramuslim.net – Alhamdulillah, segala pujian hanyalah millik Allah. Shalawat dan salam teruntuk Rasulullah, keluarga dan para sahabatnya hingga akhir zaman.

Tadabbur adalah tujuan utama diturunkannya Al Quran. Allah berfirman yang artinya “Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran”. (Terjemah Q.S. Shaad ayat 29).

-Advertisement-

Tadabbur adalah upaya sungguh-sungguh untuk memahami setiap ayat Al Quran yang dibaca, diiringi dengan kehadiran hati, ketundukan anggota tubuh, dan kesungguhan alias totalitas mengamalkan segenap kandungannya. Aktivitas tadabbur, menurut Syaikh Ahmad Isa Al-Ma’shawari dalam kitab At Tibyan fi Tadabburil Quran, harus meliputi aspek pra tilawah, saat tilawah dan pasca tilawah. Bagaimana implementasinya?.

Sebelum membaca Al Quran kita harus menghadirkan hati terlebih dahulu dan mengosongkannya dari segala macam kesibukan. Tentu saja diawali dengan niat dan keikhlasan dalam mentadabburi Al Quran. Pada saat kita membaca Al Quran, maka tadabbur diwujudkan dalam bentuk aktivitas pengulangan, penghafalan, dan pembacaan yang penuh kekhusyukan dan penghayatan. Selepas kita membaca Al Quran, maka tadabbur akan membuahkan nilai dan akhlak yang baik di dalam diri pembacanya, berupa rasa takut kepada Allah; meningkatnya keimanan di dalam hati; serta dorongan kuat untuk mengamalkan isi Al Quran dalam kehidupan sehari-hari. Tanpa melakukan rangkaian aktivitas di ketiga aspek itu, maka kita belumlah mentadabburi Al Quran.

Baca Juga :  Sejarah Al Quran Al Karim, Mukjizat Nabi Muhammad SAW - Bagian 2

Lihatlah betapa tingginya minat, perhatian dan kesungguhan para Salafush Shalih (generasi takwa terdahulu)  dalam melakukan aktivitas tadabbur Al Quran. Imam Hasan Al-Bashri berkata “Generasi umat sebelum kalian yaitu para sahabat Nabi, memandang Al Quran sebagai surat-surat cinta dari Rabbnya. Mereka mentadabburinya di malam hari dan mengamalkannya di siang hari”. (Dikutip oleh Al-Ghazali dalam Ihya ‘Ulumid Diin Juz 3 hlm 498).

Masih kata Imam Hasan Al-Bashri, “Sungguh Al Quran ini telah dibaca oleh budak-budak sahaya dan anak kecil yang tidak mengerti apa pun penafsirannya. Ketahuilah bahwa mentadabburi ayatnya tak lain adalah dengan mengikuti segala petunjuknya. Tadabbur tak hanya menghafal huruf-hurufnya atau memelihara dari tindakan menyia-nyiakan batasannya sehingga ada seorang berkata sungguh aku telah membaca seluruh Al Quran dan tidak ada satu huruf pun yang luput. Sungguh demi Allah orang itu telah menggugurkan seluruh Al Quran karena Al Quran tidak berbekas dan tidak terlihat pengaruhnya pada akhlak dan amalnya”. (Al-Mushannaf oleh Imam Abdur Razzaq nomor 5984 dan Az-Zuhd oleh Imam Ibnul Mubarak nomor 793).

Ternyata tadabbur Al Quran adalah senjata pamungkas setiap mukmin agar ia selamat dan terhindar dari kerugian hidup di dunia serta mampu menuju kesempurnaan kualitas hidup lahir dan batin. Ia adalah komitmen kita kepada Al Quran, kalam Allah yang agung. Komitmen yang mewujud dalam bentuk; mengetahui kebenaran yang datang dari Allah; mengamalkan kebenaran itu; khidmat mengajarkan kebenaran itu kepada keluarga dan masyarakat sekitarnya; serta sabar dalam menegakkan kebenaran itu di kancah kehidupan yang sarat dengan tantangan.

Baca Juga :  Fitrah Manusia Beragama Islam (Tauhid)

Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah menulis dalam kitabnya Miftahu Daris Sa’adah, “Kalau keempat  martabat telah tercapai oleh manusia, maka kesempurnaan hidup bisa diraih. Pertama, mengetahui kebenaran. Kedua, mengamalkan kebenaran itu. Ketiga, mengajarkan kebenaran kepada orang yang belum tahu menjalankannya. Keempat, sabar dalam menyesuaikan diri dengan kebenaran dalam mengamalkan dan mengajarkannya”.

“Allah bersumpah demi masa di dalam surah Al-‘Ashr bahwa tiap-tiap orang rugilah hidupnya, kecuali orang yang beriman, yaitu orang yang mengetahui kebenaran lalu mengakuinya. Itulah martabat pertama. Beramal shalih, yaitu setelah kebenaran itu diketahui lalu diamalkan. Itulah martabat yang kedua. Berpesan dengan kebenaran itu, maksudnya menunjukkan jalan kepada kebenaran. Itulah martabat yang ketiga. Berpesan dan saling menasihati supaya sabar menegakkan kebenaran dan teguh hati jangan berguncang. Itulah martabat keempat. Dengan demikian tercapailah kesempurnaan. Karena itulah, meskipun surah Al-‘Ashr ini pendek sekali, tetapi isinya mengumpulkan kebajikan dengan segala cabang dan rantingnya. Segala pujilah bagi Allah yang telah menjadikan kitab-Nya itu mencukupi dari segala macam kitab; pengobat dari segala macam penyakit; dan petunjuk bagi segala jalan kebenaran”.

Baca Juga :  Sejarah Nabi Muhammad SAW di Kota Mekah

Menurut keterangan riwayat Imam Ath-Thabrani dari Tsabit bin Ubaidillah bin Hashn, “Kalau kedua orang sahabat Rasulullah bertemu, belumlah mereka berpisah melainkan salah seorang di antara mereka membaca surah Al-‘Ashr ini terlebih dahulu. Setelah itu, barulah mereka mengucapkan salam tanda berpisah”. Kondisi seperti ini diterangkan oleh Syaikh Muhammad Abduh, “Hal itu dilakukan para sahabat Nabi bukan untuk tabarruk (mengais keberkahan) saja, melainkan agar (yang membaca surah tersebut) memperingatkan isi ayat-ayatnya, khusus berkenaan dengan berpesan dengan kebenaran dan berpesan atas kesabaran sehingga bacaan itu meninggalkan kesan yang baik”.

Karenanya, tidak heran jika Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i menegaskan, “Jikalau seluruh manusia sudi merenungkan surah ini (Al-‘Ashr), maka sudah cukuplah itu bagi mereka”. Ya Allah, semoga Engkau cukupkan kami dengan melaksanakan fungsi tadabbur ini, Amin.

Oleh : Fahmi Salim MA
(Wakil Ketua Komisi Dakwah MUI Pusat & Kandidat Doktor bidang Tafsir dan Ilmu Al-Qur`an Universitas Al-Azhar Kairo Mesir)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here