Macet dan Mudik

Macet dan Mudik
[ilust]. Kendaraan terjebak macet di kawasan Salemba, Jakarta. (ANTARA FOTO/Rosa Panggabean)

Suaramuslim.net – Sebelum lebaran, saya membaca di berbagai media sosial, riuh rendah orang membicarakan kelancaran arus mudik lebaran. Ada sekelompok masyarakat bahkan, secara bersemangat membuat postingan, “hanya di zaman pak Jokowi tak ada kemacetan di saat mudik lebaran.

Tadinya ungkapan semangat itu saya harapkan benar-benar menjadi sebuah kenyataan.
Namun hari ini saya mendengar kabar, bahwa kemacetan panjang telah terjadi di jalur tol Batang menuju Jakarta. Kemacetan dari Subuh telah mencapai 15 Km lebih, pemudik tak bergerak di sepanjang jalan tol yang terik dan panas.
Apa yang terjadi menunjukkan pernyataan sekelompok orang menjadi batal dan keliru.

-Advertisement-

Infrastruktur tak terbukti membuat perjalanan mudik menjadi lancar dan menggembirakan sebagaimana yang dimediakan selama ini.

Karenanya sejak awal saya mengkritisi, ketidak macetan dijadikan sebuah analogi kesuksesan pemerintah, apalagi mudik direduksi oleh volume fasilitasi infrastruktur.
Mestinya patut dipahami bahwa infrastruktur ada pada ruang lain, dan mudik memiliki ruang sendiri.

Ketimbang memaksakan cara berpikir infrastrukturian seperti pemerintah sekarang, saya lebih ingin mengajak melihat kemacetan mudik sebagai pembelajaran tentang “pulang kampung”. Sebuah perjalan menuju haribaan Ilahi. Pembelajaran tentang pulang ke rahmatullah, dimana orangtua dan kampung halaman sebagai simbolisasinya.

Kemacetan adalah seumpama antrian panjang di padang mahsyar, yang suka atau pun tidak mesti kita jalani.

Kita mendengar kabar, di sana ada yang mengucurkan keringat dengan dahsyat teriring dahaga yang pedih, namun ada pula yang tersenyum penuh tetes embun dan air tiris yang membasahi kerongkongan.
Keadaan tersebut tak diperoleh karena infrastruktur akhirati yang dibangun oleh Sang Kuasa, melainkan pada sikap dan tabiat di masa hidup.

Jika kita mudik di dunia saja mau bersusah payah, apalagi mudik akhirati kelak dengan kendaraan kematian.

Sudahkah kita mempersiapkannya?

Mudik adalah persoalan “qalbiyah”. Seperti dan dari perspektif apa orang menilainya, disitulah qalbiyahnya terukur.

Salam mudik.

Dr. Yudha Heryawan Asnawi
Sosiolog. Sekolah Bisnis IPB.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.