Management by Heart (6) “Level of Leadership”
Ilustrasi Prof. Joni Hermana. (Ils: Suaramuslim.net/Rian Oktanto)

Suaramuslim.net – Rohnya sebuah organisasi, dalam konteks Management by Heart adalah values atau nilai-nilai. Values ini secara sadar ditanamkan dalam sebuah organisasi -baik tertulis maupun tidak- serta menjadi sebuah acuan atau “code of conduct” bagaimana style atau etika ketika setiap anggota organisasi berinteraksi satu sama lain saat bekerja.

Katakanlah kalau salah satu value yang ditetapkan bersama adalah kata “kejujuran” dalam organisasi, maka setiap anggota di dalamnya harus mempraktikkan kejujuran dalam melayani dan melaksanakan pekerjaan secara nyata.

Values bisa berarti norma yang dianut, semangat yang menjiwai organisasi, keyakinan yang menjadi dasar, atau rangkaian keyakinan yang suatu saat, apabila diyakini dengan baik, akan menghasilkan pola berpikir yang otomatis selalu dipraktikkan anggotanya dalam urusan keseharian organisasinya, atau dikenal sebagai mindset.

Values yang sudah dideklarasikan sebagai sebuah pernyataan (statement), dan telah menjadi pola berpikir dalam berperilaku (mindset), serta kemudian terbukti jika keduanya selalu sesuai dalam implementasinya, maka hal itu kelak akan menjadi merk (brand) bagi organisasi yang bersangkutan.

Contoh value dalam sebuah organisasi, di antaranya adalah: berintegritas, terpercaya, reliable, respek, solider, jujur, amanah, toleran, ramah, tepat waktu, mengutamakan kualitas dan sebagainya. Ketika branding sudah terpatri dalam benak setiap orang, terutama stakeholders dan masyarakat luas, maka benefitnya bagi organisasi akan berlangsung secara berkelanjutan.

Baca Juga :  Kisah Umar ra. dan Ibu yang Melahirkan

Karena values itu mencerminkan keyakinan atau semangat yang dimiliki organisasi, tentunya hal ini harus merupakan aktualisasi diri yang mewakili ‘roh’ yang terbangun dalam organisasi.

Dalam pemahaman Management by Heart, maka sejatinya, values yang digunakan dalam organisasi ini juga berasal dari nilai-nilai Ketuhanan yang menjadi asal-usul lahirnya values yang digunakan manusia di mana pun berada. Hanya saja, sesuai dengan sumber daya dan keragaman yang dimiliki masing-masing organisasi, maka kita cukup mengadopsi beberapa nilai saja untuk digunakan sebagai acuan dalam organisasi kita. Yang paling penting adalah bahwa values yang digunakan itu harus benar-benar dipahami dan dipraktikkan oleh seluruh anggotanya.

Perlunya kita memilih values yang diambil dari nilai-nilai Ketuhanan adalah karena adanya fakta bahwa nilai-nilai tersebut bersifat kekal termasuk kebenarannya. Sementara itu, nilai yang berasal dari manusia adalah sebaliknya, bersifat tidak kekal dan derajat kebenarannya bersifat nisbi.

Ambil contoh kasus disruption, yaitu istilah yang banyak digunakan dalam era Revolusi Industri 4.0 saat ini. Kata ini dipopulerkan oleh Clayton Christensen saat menyampaikan teori “Disruptive Innovation” sebagai kelanjutan dari tradisi berpikir “for you to win, you’ve got to make somebody lose” (agar Anda menang, Anda harus mengalahkan orang lain) ala Michael Porter, profesor dari Harvard Business School yang menyampaikan teori “Competitive Strategy.

Baca Juga :  Ayah Harus Memimpin dengan Hati

Saat itu, ‘nilai’ yang berlaku untuk menjadi pemenang adalah ‘kompetisi’, atau persaingan yang bahkan dilakukan dengan cara menciptakan gangguan atau ‘disrupsi’.

Namun sejalan dengan perkembangan zaman, semangat bersaing (kompetisi) dan mengalahkan orang lain yang sudah berlangsung tak kurang dari 37 tahun itu, justru disanggah oleh W Chan Kim dan Renee Mauborgne, yang tahun 2005 memperkenalkan konsep “Blue Ocean Strategy” yang kemudian disempurnakan dalam buku “Blue Ocean Shift: Beyond Competing.

Konsep yang juga dikenal sebagai ‘beyond disruption’ ini menyatakan bahwa untuk menjadi pemenang kita tidak perlu bersaing dan mengalahkan orang lain. Konsep dalam Blue Ocean Strategy lebih mengedepankan pada argumentasi bahwa untuk menjadi pemenang, justru kita harus mampu “mengalahkan” diri sendiri bukan pada orang lain.

Mereka menyatakan bahwa ada empat strategi yang harus dijalankan sebuah organisasi dalam mengendalikan diri sendiri untuk menjadi pemenang, yaitu: a). Eliminate (menghapus program-program yang tidak memberi kontribusi, b). Reduce (mengurangi program-program yang kurang namun masih diperlukan, c) Raise (meningkatkan program-program unggulan yang menjadi kekuatan), d) Create (menciptakan program terobosan yang memberi makna).

Baca Juga :  Polemik Penjualan Saham Bir dan Anomali Akal Pemimpin 

Jika dikaitkan dengan pendekatan Management by Heart, konsep Blue Ocean Strategy ini sangat menarik karena mengingatkan kembali sabda Rasulullah SAW pada abad ke-7 yang lalu, bahwa perang terbesar bagi manusia adalah bukan perang melawan musuh, tetapi justru perang melawan hawa nafsu sendiri!

Bahkan hal ini juga mempunyai analogi yang sama dengan makna “kemerdekaan” yang disampaikan para filsuf dunia, bahwa seseorang akan mendapat kemerdekaan yang hakiki apabila ia mampu mengendalikan dirinya sendiri. Dengan kata lain, “merdeka” itu bukan berarti kita bebas melakukan apa saja sekehendak hawa nafsu kita, sehingga kadang merugikan orang lain (baca: merebut kemerdekaan orang lain), tetapi justru sejauh mana kita mampu “memerdekakan” diri kita dari hawa nafsu kita sendiri.

Menutup tulisan serial kali ini, kalau diurut ke belakang bahasan di atas, untuk menjadikan organisasi kita sukses, sebagai pemenang. Maka kita harus mampu: a). mengendalikan diri sendiri, bukan berkompetisi mengalahkan pihak lain, b). menerapkan implementasi strategi program yang menggunakan mindset yang tepat, c). dengan dasar value yang sesuai dan benar, d). mengacu pada nilai-nilai yang diajarkan Tuhan.

Jakarta, 9 Juli 2019

Joni Hermana
Rektor ITS 2015-2019

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.