Melipatgandakan Kasih Sayang dalam Keluarga

Suaramuslim.net – Mengapa orang menikah? Selain sebab-sebab yang sudah pasti, seperti ibadah, regenerasi dan sebagainya, tidak bisa dipungkiri, tujuan meraih kebahagiaan merupakan satu hal yang juga utama.

Apa itu kebahagiaan? Banyak orang-orang bijak mencoba memberikan definisi, namun secara praktis kebahagiaan berarti kepuasan hidup, sebagaimana yang diungkapkan oleh Alston dan Dudley, ”Kepuasan hidup merupakan kemampuan seseorang untuk menikmati pengalaman-pengalamannya yang disertai tingkat kegembiraan”.

Kebahagiaan dalam rumah tangga, akan ditumbuhkan dari perasaan saling menerima satu sama lain, pencapaian prestasi masing-masing anggota keluarga, dan sikap saling menyayangi (sikap rahmah) antar anggota keluarga.

Dari ketiga komponen tersebut, sering didapati ada kombinasi yang berbeda antara kaum lelaki dan perempuan. Pada kaum perempuan, faktor kasih sayang lebih mendominasi dibanding kaum lelaki. Artinya kaum perempuan biasanya merasa sangat berbahagia jika diperlakukan dengan penuh kasih sayang sebagai seorang istri dan ibu.

Namun kebahagiaan kaum lelaki lebih banyak didominasi pada prestasi. Maka banyak kalangan suami di awal-awal usia pernikahan justru merasa stres, karena merasa keriernya justru terancam. Dan juga tuntutan untuk memenuhi tugas sebagai suami dan ayah. Dari hal ini perlu ada penyesuaian kedua belah pihak.

Baca Juga :  Anak Bandel, Boarding School Saja?

Suami istri harus sering melakukan komunikasi dua arah agar segala ganjalan di hati dapat segera terselesaikan dan tidak berlangsung berlarut-larut. Suami berusaha melihat dari sudut pandang istri dan istri pun berusaha memandang segala permasalahan dari sudut pandang suami.

Karena Allah menciptakan karakter yang berbeda antara laki-laki dan wanita untuk saling melengkapi. Agar mereka bisa saling bersinergi dalam mendidik buah hati nanti. Bukan untuk saling menuntut agar pasangan bisa selalu sesuai dengan keinginan kita. Karena itu adalah hal yang mustahil untuk dicapai dan yang terjadi pada ujungnya hanyalah sifat saling menyalahkan. Dan lama kelamaan bila tidak segera terselesaikan hanya akan mengikis rasa kasih sayang yang telah terjalin sedikit demi sedikit.

Ya, intinya rahmah itu butuh upaya. Jangan bayangkan bahwa Rahmah akan turun begitu saja dari langit, tanpa adanya tindakan untuk mewujudkannya. Allah menurunkan perasaan sakinah sebagai hadiah bagi sepasang lelaki dan perempuan yang menikah karena iman. Rahmah dan mawaddah harus diracik sendiri berdasarkan modal sakinah tersebut. jadi meskipun kita merasa sebagai orang yang beriman, rajin beribadah, tanpa upaya membangun kasih sayang , keluarga kita akan kering kerontang. Wallahu a’lam bishawab.

Penulis: Santy Nur Fajarviana*
Editor: Oki Aryono

*Pengajar di MIT Bakti Ibu Madiun

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.