Memaknai Ucapan Natal Ma'ruf Amin

Suaramuslim.net – Ucapan “Selamat Natal” yang muncul dari lisan KH Ma’ruf Amin (untuk selanjutnya disebut MA), calon wakil presiden pendamping Jokowi, benar-benar menunjukkan adanya pergeseran. Pertama, pergeseran MA sikap politiknya, khususnya dalam merespon persoalan keagamaan. Kedua, pergeseran massa pendukungnya dalam membela sosok ulama itu. Tulisan ini ingin memfokuskan pada poin kedua, dimana terjadi pergeseran sikap dari basis pendukungnya (dalam hal ini basis massa NU), terhadap sosok ulama ini.

Dari Pembelaan Menjadi Pembiaran

-Advertisement-

Kalau melihat ke belakang, MA dengan jabatan tertinggi di Majelis Ulama Indonesia (MUI) demikian kuat dalam melawan sosok Ahok, mantan gubernur DKI Jakarta. Fatwanya bisa menjebloskan Ahok ke dalam penjara karena dianggap telah menodai agama Islam. Dalam persidangan kasus Ahok pada waktu itu, MA menjadi saksi dan menegaskan bahwa Ahok benar-benar melakukan penodaan agama di kepulauan Seribu saat kunjungan kerja. Dengan adanya pernyataan MA waktu itu, Ahok spontan mengucapkan perkataan yang merendahkan sosok MA dengan mengancam akan memprosesnya secara hukum bila terbukti tidak benar.

Perkataan Ahok saat itu, menimbulkan reaksi keras dari para pendukung MA dan menyatakan bahwa Ahok sangat arogan. Beberapa tokoh NU menyatakan bahwa sikap Ahok ini akan membuat warga NU marah karena MA adalah sosok pemimpin tertinggi NU. Saat itu, Wasekjen PKB, Daniel Johan menilai Ahok telah bersikap kasar dan arogan, dan akan menjadi blunder bagi Ahok karena membuat warga NU marah. Menurutnya, NU selama ini dianggap selalu pasang badan guna meredam amarah umat muslim demi membela Ahok. Bahkan ketua Pimpinan Pusat GP Anshor, Khatibul Umam waktu itu menilai bahwa pernyataan Ahok menunjukkan rendahnya moralitasnya.

Baca Juga :  MUI Setuju Daftar 200 Penceramah Tapi Ada Syaratnya

Kedua tokoh ormas NU itu menunjukkan pembelaannya yang luar biasa terhadap MA dan menyerukan kader Anshor dan Banser untuk siaga satu komando. Bahkan ribuan santri akan berdiri di belakang kiai karena Ahok dianggap melecehkan sosok kiai ini. Artinya, warga NU demikian tinggi penghormatan dan pengagungannya terhadap sosok MA. MA demikian dihormati karena dia sosok ulama dan NU melihat sosok MA merupakan figur ulama yang haraus dibela ketika menghadapi pelecehan dan penghinaan dari sosok penoda agama (Ahok)

Hal ini sangat berbeda ketika MA menjadi calon wakil presiden, dan mengucapkan selamat Natal pada umat Kristiani beberapa hari ini. Ucapan selamat Natal dari MA bukan hanya menuai keprihatinan dan kecaman dari berbagai kalangan, tetapi mengalami pembiaran dari warga NU. Bahwa ada versi yang merekayasa sosok MA saat mengucapkan selamat Natal itu dengan mengenakan pakaian Sinterklas. Namun tidak ada warga Nahdliyin yang melakukan pembelaan terhadap sosok MA ini. Seolah-seolah warga NU sudah membiarkannya. Tidak ada lagi pernyataan sikap dan satu komando dan GP Anshor dan Banser dalam membela sosok MA.

Baca Juga :  Habis Daftar, Jokowi-Ma’ruf Amin Tinggalkan Gedung KPU

Umat Islam dan Sasaran Hinaan

Apa yang dialami MA menjadi realitas nyata dimana warga NU sendiri sudah menunjukkan sikap yang jelas terhadap MA dengan melakukan pembiaran atas apa yang menimpa pada sosok MA. Melihat dua realitas yang saling berseberangan, satu sisi pembelaan warga NU terhadap sosok MA saat menjadi saksi sidang Ahok, dan pembiaran warga NU saat MA diviralkan ketika mengenakan pakaian ala Sinterklas.

Fenomena ini setidaknya menunjukkan dua hal. Pertama, cerdasnya tim sukses pasangan calon nomor 1 dalam menampilkan sosok Cawapresnya. Kedua, kurang pekanya tokoh Islam dalam menunjukkan sikap politiknya. Bila hal yang kedua ini yang terjadi, umat Islam selalu menjadi obyek dan menjadi bahan ejekan. Dalam konteks resmi, mengucapkan selamat Natal bisanya dilakukan oleh Presiden atau Wakil Presiden. Namun kali ini, keduanya tidak muncul, dan yang tampil justru sosok MA, dan ini akan menjadi potensi akan menimbulkan kegaduhan dalam diri umat Islam.

Hal yang sama juga dilakukan oleh Menteri Agama yang juga hadir dengan ucapan selamat Natal 2018 dan menjadi viral di media sosial. Pernyataan Lukman Hakim yang mengucapkan selamat Natal kali ini tidak sekadar sebagai ucapan kelahiran sosok Isa ‘alihissalam tetapi menunjukkan dirinya seolah-olah lebih mengagungkan agama Nasrani dan merendahkan umat Islam. Dalam salah satu potongan pernyataannya bisa dikutip sebagai berikut : “Natal bukanlah sekadar mengenang kelahiran tetapi juga kehidupan Yesus yang penuh hikmat. Ia datang membawa rahmat. Kata-katanya tak membawa kesumat tetapi mendatangkan selamat. Nasihatnya tidak meninabobokkan, tetapi memberi jalan keluar yang mencerahkan. Tegurannya bukan penghujatan tetapi jalan keselamatan. Ajarannya bukan asal menyenangkan tetapi mengembalikan martabat kemanusiaan.”

Baca Juga :  Kontraksi dan Keguguran Menyongsong Fajar Baru

Pernyataan MA dalam mengucapkan selamat Natal dan sepinya pembelaan dari warga NU benar-benar menunjukkan pergeseran masyarakat dalam melihat sosok kiai yang satu ini. Kalau dahulu, saat MA bersikap keras terhadap Ahok dan warga NU siap pasang badan untuk membelanya. Saat ini warga NU seolah membiarkan MA ketika ada pihak-pihak yang merendahkannya (dengan merekayasa pakaian Sinterklas saat MA mengucapkan selamat Natal), dan tidak terlihat pembelaan warga NU.

Demikian pula pernyataan Menteri Agama terlihat sekali dalam menjunjung tinggi agama Nasrani dengan mengagung-agungkan sosok Isa. Pernyataan Lukman Hakim ini seolah-olah mengesampingkan sosok Nabi Muhammad yang sangat diagungkan umat Islam, sekaligus sebagai sosok Nabi terbaik sepanjang sejarah.

*Opini yang terkandung di dalam artikel ini adalah milik penulis pribadi, dan tidak merefleksikan kebijakan editorial Suaramuslim.net

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.