Survei LSI: Pemilih Indonesia Cenderung Mendengarkan Imbauan Para Ulama
Sholat Malam berjamaah di acara Reuni Akbar Alumni 212 yang berlangsung di lapangan Monumen Nasional pada Sabtu (2/12)

Suaramuslim.net – Seperti kita ketahui bersama, Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia. Tentunya ada potensi yang luar biasa untuk digali dan dimaksimalkan agar menjadi kekuatan yang luar biasa guna menyelesaikan persoalan umat. Namun sangat disayangkan, potensi yang besar tersebut belum tergarap dan terkoneksi dengan baik.

Untuk mengurai benang kusut tersebut, sikap pertama dan utama yang harus kita miliki adalah tidak menyalahkan pihak manapun tanpa melakukan tindakan nyata sesuai dengan tugas pokok dan fungsi kita masing-masing (tupoksi) serta mencari akar permasalahan untuk mendapatkan solusi dengan segera.

Terhadap fenomena yang ada di depan kita, kami teringat dengan apa yang disampaikan oleh Prof. Dr. Ir. M. Nuh. DEA, mantan Menteri Pendidikan RI dalam sebuah kesempatan mengatakan bahwa siapa yang pandai dan rajin, maka dia akan keluar sebagai pemenang/juara. Itu dulu ketika kita masih bersekolah.

Akan tetapi, lanjut Pak Nuh, sekarang kita tidak cukup hanya bermodal juara, melainkan harus bersinergi dengan para pihak untuk sukses masa depan. Karena dengan bersinergi akan melahirkan sumber daya manusia berkualitas dan profesional yang siap menyelesaikan persoalan umat.

Menurut hemat kami, apa yang disampaikan Pak Nuh, demikian nama populernya, sangat tepat. Karena kepintaran yang akhirnya menjadikan kita juara, tidak akan ada artinya manakala kita miskin networking (sinergi). Untuk itu sangat perlu kita menjalin sinergi dengan berbagai pihak, agar sukses masa depan dapat kita raih.

Baca Juga :  Muslim dan Masjid

Namun, untuk bersinergi bukanlah persoalan mudah, ada banyak hambatan yang harus kita selesaikan. Di antaranya adalah sikap egosentris, partisan, pragmatis dan tidak sevisi serta masih banyak lainnya. Karena mustahil suatu tujuan dapat tercapai dengan baik, manakala tidak sevisi dalam garis perjuangannya.

Adanya kesamaan visi dan bersinergi, maka persoalan yang besar dapat terselesaikan dengan baik.

Untuk menyelesaikan hambatan yang ada, mau tidak mau harus berpikir tentang leadership yang kuat, kompeten, berintegritas sehingga mampu merangkul berbagai hambatan yag ada untuk menjadi kekuatan yang dahsyat.

Persoalannya adalah, untuk mendapatkan pemimpin seperti tersebut di atas sangat langka. Karena sekarang ini disadari atau tidak hampir di segala lini kita miskin kader berkualitas sebagai cikal bakal lahirnya pemimpin yang kuat dan berintegritas.

Kekuatan dan Amanah

Prof. Dr. Hasan Ko Nakata, seorang mahasiswa muslim asal Jepang ketika menempuh pendidikan program Doktor di Universitas Kairo Mesir, mengangkat pandangan Ibnu Taimiyyah tentang kepemimpinan sebagai bahan disertasinya.

Berikut ini merupakan pandangan beliau (Prof. Dr. Hasan Ko Nakata), seperti dalam disertasinya yang kemudian diterbitkan Dar Al-Akhilla’ Dammam KSA (1994: hlm 95-97) berjudul Al-Nazhariyyah Al-Siyâsah ‘inda Ibn Al-Taimiyyah.

Menurut berbagai tulisan Ibnu Taimiyyah tentang kepemimpinan dapat disimpulkan bahwa Ibnu Taimiyyah menetapkan dua syarat umum bagi seorang pemimpin muslim, yaitu al-quwwah wa al amânah (kekuatan dan amanah).

Baca Juga :  212 Mart Setelah Reuni Kedua 212

Kesimpulan ini diambil dari pernyataan Ibnu Taimiyyah sendiri di dalam Al-Siyâsah Al- Syar’iyyah (Dar Al-Afaq Al-Jadidah Beirut, 1998: 15), “Fa innaal wilaayata laha ruknaani: al-quwwah wa al-amânah.”

Yang dimaksud dengan “kekuatan” oleh Ibnu Taimiyyah adalah kemampuan yang harus dimiliki seorang pemimpin di lapangan yang dipimpinnya.

Ia mencontohkan seorang panglima perang harus memiliki keberanian dan pengetahuan strategi perang. Tanpa kedua hal itu, dia tidak akan mampu melaksanakan tugasnya sebagai pemimpin pasukan tempur.

Sementara, orang yang akan memangku amanah memimpin manusia harus mengetahui ilmu tentang keadilan yang diajarkan di dalam Alquran dan sunah; juga harus memiliki kemampuan untuk menerapkannya di tengah-tengah manusia. (Al-Siyasah Al-Syar’iyyah, 1998: 16).

Adapun yang dimaksud dengan “amanah” adalah sikap takut hanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Untuk itu sudah waktunya setiap elemen masyarakat muslim meninggalkan sifat ego dan mementingkan kepentingan pribadi serta kelompok kemudian fokus melihat persoalan umat secara menyeluruh.

Selain itu dengan banyaknya elemen yang memiliki bidang garap yang sama untuk mulai menata dan memilah. Mana program yang dapat dilaksanakan bersama dan mana program yang harus dilakukan sendiri. Hal ini penting, karena tantangan dan persoalan umat yang cukup besar. Oleh karena itu, diperlukan sinergi dan kesamaan visi guna menyelesaikan persoalan agar tujuan yang kita harapkan dapat segera tercapai.

Baca Juga :  Masjid Qiblatain, Saksi Sejarah Pindahnya Arah Kiblat

Sekali lagi hanya dengan sinergitas dan kesamaan visi dalam beraktivitas, Insyaallah persoalan umat dapat terselesaikan. Mari, jadikan diri kita bagian dari solusi dan bukan bagian dari persoalan.

Semoga kita dimudahkan dan dilancarkan dalam mengurai persoalan untuk menjadi solusi efektif serta istiqamah di jalan kebenaran. Hanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala kita memohon pertolongan dan ridha-Nya selalu kita rindukan. Aamiin.*

Washil Bahalwan
Ketua Lazis Yamas Surabaya dan pemerhati masalah sosial

*Opini yang terkandung di dalam artikel ini adalah milik penulis pribadi, dan tidak merefleksikan kebijakan editorial Suaramuslim.net

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.