Memimpikan Dunia Pendidikan yang Bebas Asap Rokok
Ilustrasi anak laki-laki mematahkan batang rokok.

Suaramuslim.net – Kemarin siang seorang ibu menelepon ke klinik saya dan menanyakan perihal terapi berhenti merokok untuk anaknya yang duduk di kelas 12. Nada sedih sangat terasa dalam setiap kata-katanya. Setelah saya berikan keterangan seperlunya, saya persilakan untuk segera membawa anaknya tersebut ke klinik saya untuk mendapatkan bantuan terapi. Tapi sang ibu mengatakan bahwa anaknya bersekolah di sebuah boarding school di Jakarta, sementara beliau tinggal di Bangka, Sumatera.

Hanya selang waktu satu jam, seorang wanita lain lagi juga menelepon dengan maksud yang kurang lebih sama. Bedanya ibu yang satu ini berbicara sambil menangis sesenggukan karena tidak menyangka anaknya yang bersekolah di boarding school ternama bisa kecanduan rokok. Segera saya tanyakan tentang anaknya, dan ternyata anak tersebut juga sedang bersekolah di tempat yang sama dengan anak ibu dari Bangka tadi, hanya beda kelas.

Walaupun saya menuliskan ini sebagai ilustrasi, ini adalah kisah nyata, dan selama membuka klinik terapi berhenti merokok sejak 10 tahun lalu, sudah ratusan kali saya menerima permintaan informasi untuk terapi berhenti merokok bagi anak di usia remaja, yang hampir semuanya masih duduk di bangku SMP atau SMA.

Bagi sementara orang ini terkesan biasa saja karena umumnya anak-anak memang banyak yang memulai merokok di usia usia tersebut. Tapi adakah yang pernah memikirkan mengapa terjadi demikian?

Faktanya, anak-anak dan remaja adalah target utama pemasaran industri rokok yang di negeri ini mendapatkan kelonggaran nyaris mutlak di banding negara-negara lain yang sudah sangat peduli pada penyelamatan generasi muda dari bahaya adiksi nikotin ini.

Ada sebuah kalimat yang sangat terkenal di kalangan penggiat anti rokok. Kalimat ini ada di dalam dokumen rahasia industri rokok yang saat ini sudah dibuka untuk umum.

Remaja adalah calon pelanggan tetap hari esok. Bila para remaja tidak merokok, maka industri rokok akan bangkrut, sebagaimana masyarakat yang tidak melahirkan generasi penerusnya akan punah.

Masih adakah di antara kita yang menganggap sepele kalimat ini? Padahal industri rokok sangat serius dengan targetnya. Data di klinik saya, lebih dari 90 persen pasien mengatakan mulai merokok saat duduk di bangku SMP. Jangan heran bila saat ini anak yang duduk di bangku Sekolah Dasar pun sudah banyak yang kecanduan rokok.

Baca Juga :  Pendidikan Tinggi: Mutu atau Relevansi?

Saya melihat kenyataan bahwa banyak sekolah yang sudah menerapkan program sekolah bebas asap rokok, namun sangat longgar dalam pengawasan dan pemberian informasi tentang bahaya candu nikotin. Hal ini bukan karena mereka kurang peduli, tapi karena kurangnya kesadaran para guru untuk terus menggali informasi yang lengkap dan benar tentang bahaya merokok ini.

Tidak Merokok Saja Tidak Cukup

Sebagian guru atau pengurus sekolah mungkin merasa sudah memberikan keteladanan dengan tidak merokok. Tapi itu sangat jauh dari ideal. Hanya beberapa meter di luar pagar sekolah, para “serigala” sudah menantikan kehadiran anak-anak kita dengan iming-iming kehidupan yang glamour di balik perilaku merokok melalui iklan dan promosi rokok.

Pernah suatu ketika, saya diundang ke acara hari jadi sebuah organisasi yang bergerak di bidang pendidikan. Acara tersebut dihadiri tak kurang dari 1000 orang guru dan pengurus sekolah. Saya merasa senang karena dipersilakan membuka stan untuk memamerkan (baca: menjual) buku-buku saya.

Sungguh, saya tidak sedih karena buku-buku saya kurang diminati, tapi saya sangat sedih melihat respons mereka saat melihat buku yang saya pamerkan. Umumnya mereka mengatakan kurang berminat membeli buku tersebut karena mereka tidak merokok. Ini sangat membuat saya syok. Saya berpikir, kalau orang sekelas guru saja merasa bahwa buku-buku tentang masalah merokok itu hanya untuk para perokok, bagaimana dengan minat para siswa atau orang tua mereka terhadap bacaan tentang bahaya merokok?

Para perokok itu jangankan disuruh membaca buku, diajak bicara tentang masalah rokok saja mereka cenderung kurang suka atau bahkan marah. Ditambah lagi kenyataan minimnya buku atau artikel tentang bahaya merokok yang lengkap dan benar. Bahkan ada komunitas yang selalu menyebarkan mitos dan berbagai penyesatan tentang masalah rokok ini melalui postingan-postingan di dunia maya.

Para guru atau tenaga pendidik sangat penting untuk memiliki pemahaman yang komprehensif tentang masalah merokok ini sehingga bisa secara berkala mengingatkan para siswa tentang bahaya kecanduan nikotin dan berbagai aspeknya.

Baca Juga :  Ibu, Engkau Adalah Pendidik Sekaligus Seniman

Selama ini masalah rokok hanya dikaitkan dengan kanker, serangan jantung dan impotensi, atau dengan kata lain tidak jauh dari aspek kesehatan saja. Padahal adiksi nikotin juga membuat para siswa menjadi sulit menerima pelajaran di kelas, membuat mereka sering mengantuk saat guru menerangkan pelajaran, membuat stamina mereka loyo dan kurang giat saat mengikuti olahraga dan yang tak kalah penting, perilaku kuno ini membuat seseorang lebih cepat terlihat tua yang pastinya akan memperburuk penampilan.

Bagaimana Memutuskan Mata Rantai Ini?

Tidak bisa dipungkiri bahwa lingkungan sekolah adalah lingkungan terburuk kedua setelah lingkungan rumah, yang memengaruhi para remaja untuk mulai mencoba merokok. Tentu saja saya menilai ini secara umum, bukan di sekolah-sekolah favorit saja.

Murid yang memang sudah kecanduan rokok, akan sangat agresif dalam memengaruhi temannya untuk ikut mencoba ‘menikmati’ batang-batang beracun tersebut. Bahkan sering dengan ancaman tidak diterima dalam kelompok mereka. Padahal dahsyatnya candu nikotin ini sangat mampu membuat mereka kecanduan sejak kali pertama mencobanya.

Saya sangat mengharapkan para siswa yang sudah terindikasi kecanduan rokok ini mendapatkan penanganan yang melekat dan berkesinambungan sampai mereka benar-benar tertangani, karena mereka sangat potensial menularkan perilaku adiktif ini kepada teman-temannya.

Para guru yang memang perokok, harus diingatkan bahwa perilaku negatif ini sangat memengaruhi para siswa untuk menirunya. Para guru perokok ini wajib segera diberikan bantuan untuk berhenti merokok atau mereka sebaiknya pindah ke profesi lain yang bukan di bidang pendidikan.

Sangat penting bagi sebuah institusi pendidikan untuk hanya menerima guru-guru yang sejak awal memang tidak merokok. Dengan kata lain, tidak merokok harus menjadi syarat mutlak penerimaan guru baru.

Kisah-Kisah yang Harus Jadi Pelajaran

Beberapa tahun lalu saya pernah diminta memberikan penyuluhan tentang bahaya merokok kepada para siswa kelas 5 dan 6 di sebuah Sekolah Dasar favorit di Surabaya. Melalui sebuah kuesioner kecil saya tanyakan kepada mereka tentang apakah orang tua mereka merokok?

Mungkin tidak terlalu mengejutkan bila sebagian besar orang tua mereka merokok, karena begitulah kenyataan yang saya temui di hampir semua sekolah yang saya datangi. Tapi yang mengejutkan, saat saya tanyakan, apakah mereka pernah mencoba merokok? 20 persen mereka menjawab pernah mencobanya!

Baca Juga :  Ikatan Apoteker Indonesia Cabang Surabaya Dukung Revisi Perda Kawasan Tanpa Rokok

Beberapa orang yang nyinyir, saat saya ceritakan hal ini mengatakan, “Ah, mereka kan hanya mencoba.”

Tidak. Ini bukan hal yang biasa. Semua hal buruk yang terjadi yang berkaitan dengan masalah rokok ini awalnya memang hanya mencoba. Dan itulah yang membuat laju pertumbuhan perokok remaja di Indonesia merupakan yang tercepat di dunia. Dengan rasa sedih dan sangat menyesal saya katakan, bahwa hasil Riset Kesehatan Dasar Kementerian Kesehatan tahun 2018 menunjukkan peningkatan prevalensi pada perilaku merokok di kelompok usia ini.

Di seluruh dunia, hanya di negeri ini yang prevalensi perokok usia anak dan remaja masih menunjukkan peningkatan. Dan tetap saja banyak yang berpendapat bahwa itu adalah hal biasa dan tidak perlu dibesar-besarkan.

Sebagai penutup, saya ceritakan sebuah kejadian saat saya diundang untuk menjadi narasumber di sebuah seminar tentang bahaya merokok di sebuah sekolah favorit di bilangan kota Depok.

Saat acara sedang dipersiapkan, saya berbincang dengan seorang guru Bimbingan Kesiswaan (BK). Dengan penuh percaya diri, Ibu guru itu mengatakan, “Alhamdulillah pak, siswa kami tidak ada yang merokok. Saya menanggapi kata-katanya dengan berpura-pura takjub.

Setelah acara selesai dan sesi tanya jawab berakhir, saya tanyakan kepada para siswa, apakah di antara mereka ada yang memang merokok? Kalau ada saya tawarkan terapi gratis di sekolah. Kalau di klinik saya ada biaya yang harus dibayar.

Tak terduga, dua orang siswa laki-laki dan satu siswa perempuan mengangkat tangan dan menyatakan bahwa mereka memang sudah kecanduan rokok dan ingin berhenti dengan bantuan terapi dari saya. Sang guru BK mendekati saya dan mengatakan bahwa dirinya tidak menyangka anak-anak didiknya ada yang merokok.

Semoga yang lain juga akan membuat pengakuan ya Bu.

Bila Anda menganggap informasi ini penting, silakan dibagikan ke grup-grup teman dan keluarga. Juga grup orang tua murid dan guru di sekolah anak-anak Anda.

Terimakasih.

Jatiwarna 17 Oktober 2019
Fuad Baradja
Anggota Komnas Pengendalian Tembakau Jakarta
Bidang Pendidikan dan Pemberdayaan Masyarakat

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.