Mengajari Anak Gemar Bersedekah

Suaramuslim.net – Bersedekah merupakan amalan mulia. Apabila menjadi kebiasaan anak, sungguh menenteramkan hati orang tuanya. Bagaimana menanam kebiasaan baik tersebut kepada anak? Ini tantangan tersendiri bagi abi dan ummi atau ayah dan bunda atau pak e dan mak e.

Alangkah baik sebelum ke cara-cara, simak cerita singkat berikut. Siapa tahu dari cerita tersebut ada hal yang menarik bisa diambil hikmah atau juga inspirasi.

Ada kisah anak berumur 3,5 tahun ketika masuk masjid selalu mencari kotak amal. Dia akan toleh kanan kiri. Mencari kotak dengan lubang kecil. Kaki kecilnya dengan kelucuannya untuk memasukkan uang receh ke dalam kotak infak. Dan dengan senyum kecilnya, dia berkata dengan bangga.

“Aku sudah infak, aku sudah infak,” riangnya nampak dari raut wajah anak berumur 3,5 tahun tersebut.

“Abi Ummi, besok infak lagi ya,” lanjutnya.

“Iya, nak,” balas orang tuanya serempak.

Tiga hari berikutnya, ketika anak itu diajak orang tuanya ke masjid lagi, disodorkan uang kertas lima ribuan dua lembar.

“Ummi, kok ini?” nampak bingung. Biasa receh sekarang kertas.

Baca Juga :  Terapi untuk Mengatasi Inner Child, Luka Pengasuhan Masa Lalu

“Ini juga uang, nilai lebih besar sepuluh kali,” sambil membimbing anaknya untuk melipat agar mudah masuk ke kotak infak.

Coba apa hikmah dari kisah di atas? Tentu akan ada banyak perspektif dan paradigma.

Anak itu sebelum mengenal banyak hal, akan mudah untuk dibentuk. Termasuk gemar sedekah. Mulai dari anak dengan umur 2 tahun.

Kegemaran bersedekah perlu ditanamkan sedini mungkin. Alasannya, jiwa anak bisa terbangun sejak dini rasa simpati dan empatinya kepada sesama. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda, ”Tidaklah seorang hamba bersedekah dari harta yang baik yang dia miliki karena Allah subhanahu wa ta’ala tidak menerima kecuali yang baik-baik, melainkan ia akan menyambutnya langsung dengan tangan kanan-Nya. Jika sedekahnya itu berupa sebutir kurma, maka ia akan tumbuh subur di telapak tangannya sampai menjadi lebih besar dari gunung. Perumpamaannya adalah seperti seorang hamba memelihara anak sapi atau unta (semakin waktu lewat akan bertambah besar).” (HR Tirmidzi)

Penting untuk memberi pengertian kepada anak dengan bahasa yang mudah dipahami. Jika sedekah bisa menghidarkan diri dari siksa neraka. Membahasakan kembali sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam, ”Berusaha keraslah menghindari api neraka meski hanya dengan (menyedekahkan) sebutir kurma.” (HR Bukhari).

Baca Juga :  Berbagi Buka di Bulan Puasa

Anak umur 3,5 tahun peka dengan visual. Cenderung mengena jika ilustrasi sedekah dengan air. Bakar kertas dan siram dengan air. Sedikit banyak bisa memberi gambaran sekaligus motivasi untuk semakin giat sedekah.

Jika sudah masuk usia sekolah dasar ajak anak-anak ke panti asuhan agar bersyukur masih ada kedua orang tua. Sebagai bentuk rasa syukur ajak untuk memberi kepada anak yatim disana.

Saat berkendara berhenti sejenak di pinggir jalan. Jika ada anak-anak jalanan, ajak anak untuk berbagi kepada mereka. Bisa dengan makanan atau sekedar minuman. Saat seperti tepat menanam karakter rendah hati. Sekaligus menanam simpati dan empati kepada sesama.

Dalam sedekah ada aqidah. Ada tauhid. Rububiyah yang bermain disana. Dan lebih dalam uluhiyah.

Sedekah menjadi penghubung  pemahaman amaliyah dengan tauhid. Sedekah tersebut merupakan amalan yang ditujukan kepada Allah subhanahu wa ta’ala . Dan uang yang menjadi media sedekah hakikatnya berasal dari Allah subhanahu wa ta’ala . Penanaman rezeki dari Allah disisipkan saat anak mulai rajin sedekah.

Baca Juga :  Mendidik Anak untuk Peduli dan Cinta Lingkungan

Tujuannya sedekah menjadi amalan penuh luapan keikhlasan. Pelakunya merasa bahagia tidak terkira saat sedekah. Kalau yang ini dimulai dari orang tua. Seberapa bahagia saat memberi. Seberapa dada begitu luas saat tangan kanan di atas. Dan semua itu tentu akan berpengaruh kepada anak. Rasa dari orang tua yang menurun kepada anak.

Tak kalah penting, konsisten. Memberi sedikit konsisten lebih baik daripada banyak namun jarang. Mengapa dikatakan lebih baik? Karena habbit terbentuk dari sering. Sesering makan. Itu gambaran ketat.

Jumlah sedikit namun sering cenderung membawa kebahagiaan yang teratur lagi terjaga. Ini bisa menjadi terapi bagi anak untuk mengontrol emosi. Contoh, saat anak “emosional” dalam jajan maka dengan sedekah bisa disalurkan hobi “boros”nya.

Semoga Allah swt memudahkan langkah kita.

Kontributor: Muslih Marju
Editor: Oki Aryono

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.