Menguak Sejarah Pengumpulan Hadits

45
Menguak Sejarah Pengumpulan Hadist

Suaramuslim.net – Hadits merupakan salah satu pilar utama dalam agama Islam setelah Al Quran. Namun, tak semua orang mengerti sejarah pengumpulan hadits. Bagaimana sejarah pengumpulan hadits?

Hadits merupakan usur yang penting dalam Islam setelah Al Quran. Pentingnya hadits dalam Islam membuat para sahabat dan orang-orang yang mengikuti jalannya menaruh perhatian besar atasnya. Penulisan hadits adalah satu bukti perhatian besar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat akan hadits.

Sejarah penulisan dimulai pada awal masa kenabian, awalnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang para sahabatnya menulis hadits, seperti riwayat dari Abu Said Al Khudry, “Janganlah kalian menulis dari ku, dan barangsiapa yang telah menulis dari ku selain Al Quran maka hapuslah”. (HR. Muslim).

Namun di akhir hayatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengizinkan penulisan hadits seperti yang diriwayatkan, dari Abdulllah bin Amr bin Ash, beliau mengatakan,  “Dahulu aku menulis semua yang aku dengar dari Rasulullah karena aku ingin menghafalnya. Kemudian orang-orang Quraisy melarangku, mereka berkata, ‘Engkau menulis semua yang kau dengar dari Rasulullah? Dan Rasulullah adalah seorang manusia, kadang berbicara karena marah, kadang berbicara dalam keadaan lapang. Mulai dari sejak itu akupun tidak menulis lagi, sampai aku bertemu dengan Rasulullah dan mengadukan masalah ini, kemudian beliau bersabda sambil menunjukkan jarinya ke mulutnya, “Tulislah! Demi yang jiwaku ada di tanganNya, tidak lah keluar dari mulutku ini kecuali kebenaran.” (HR. Adu Dawud, Ahmad, Al Hakim).

Dua hadits di atas menjelaskan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melarang penulisan hadits, dan membolehkan penulisan hadits. Para ulama Rabbani mereka mempunyai pendapat akan dua hadits tersebut.

Pada zaman Sahabat radhiyallahu’anhum terdapat beberapa kemajuan pengumpulan dan penulisan hadits, itu di tandai dengan adanya suhuf atau lembaran-lembaran yang di miliki oleh sebagian sahabat.

Shohifah Abu Bakar As Sidiq (Lembaran Abu Bakar As Siddiq)

Diriwayatkan dari Anas Bin Malik Sesungguhnya Abu Bakar pernah mengutusnya untuk mengambil sedekah dari kaum muslimin, dan menuliskan di lembaran tersebut faraid Sedekah dan disana juga terdapat cap cincin Rasulullah.

Sohifah Ali Bin Abi Tholib (Lembaran Ali Bin Abi Thalib)

Diriwayatkan oleh Abi Juhaifah, “Aku bertanya kepada Ali Bin Thalib, apakah engkau mempunyai sesuatu yang tertulis dari Rasulullah?” Ali menjawab, “ Tidak, kecuali kitabullah, atau pemahaman yang ku berikan kepada seorang muslim, atau yang ada di lembaran ini.”

Aku berkata, apa yang di dalam lembaran itu?, beliau menjawab, “Al Aql, serta hukum tentang tawanan perang, dan janganlah seorang muslim membunuh orang kafir.”

Sohifah Abdullah bin Amr bin Ash atau di kenal dengan Sohifah Sodiqoh (Lembaran Kebenaran)

Diriwayatkan dari Mujahid, “Aku pernah mendatangi Abdullah bin Amr, kemudian aku membaca lembaran yang berada di bawah tempat tidurnya, lalu ia melarangku, akupun bertanya kepadanya mengapa melarangku membacanya, beliau menjawab, “Ini adalah lembaran (yang berisi) kebenaran, ini adalah yang aku dengar langsung dari Rasulullah.”

Para Sahabat Saling Menulis Hadits

Setelah Rasulullah wafat, para sahabat Nabi berpencar mendakwah agama yang mulia ini. Jauhnya jarak mereka membuat sebagian mereka tidak mengetahui hadits yang ada pada saudaranya. Hal ini membuat mereka saling menulis hadits yang mereka punya, kemudian memberikan kepada sahabat yang lain yang tidak mengetahui hadits tersebut, seperti, tulisan Jabir bin Samuroh kepada Amir bin Saad bin Abi Waqqash, juga tulisan Usaid bin Khudoir kepada Marwan bin Hakam berisi hadist Nabi dan beberapa keputusan atau pendapat Abu Bakar, Umar, Ustman, dan tulisan Zaid bin Arqom kepada Anas bin Malik.

Penulisan Hadits di Zaman Tabi’in Berkembang Pesat

Penulisan di zaman tabi’in sangat berkembang pesat, ini didasari oleh beberapa hal seperti, tersebarnya kaum muslimin hampir ke seluruh penjuru dunia, panjangnya isnad mempersulit dalam hafalan hadits, bergugurannya para penghafal Sunnah dari kalangan sahabat, dan para tabi’in kibar, maka ditakutkan dari perginya mereka, hilangnya sunnah, lemahnya kekuatan para penghafal sunnah, tersebarnya tulisan di tengah-tengah manusia dan tersebarnya bidah-bidah, dan kedustaan atas nama Nabi.

Dari sebab-sebab inilah para Ulama mulai menulis hadits sebagai upaya menjaga sunnah Nabi Shallahu’alaihi wa sallam.Pada penghujung masa tabiin, Khalifah pada saat itu Umar bin Abdul Aziz memerintahkan para ulama untuk menuliskan hadits serta mengumpulkannya di dalam satu kitab. Di zaman ini juga terdapat banyak suhuf atau lembaran-lembaran yang berisikan hadits Nabi Shallahu’alaihi wa sallam, seperti Shohifah Said bin Jubair, Shohifah Mujahid, Shohifah Hisyam bin Urwah dan yang lainnya.

Kontributor: Mufatihatul Islam
Editor: Muhammad Nashir

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here