Mengulik Serba-Serbi Unik di Jogja

Suaramuslim.net – Yogyakarta, tentu hampir semua dari kalian pernah datang ke kota ini. Pun dengan saya. Ini bukan kali pertamanya saya datang ke Kota Mangkubumi ini. Dan kedatangan saya kali ini untuk mengobati rindu pada Yogya. “Selamat menikmati keindahan kota Yogya. Sugeng rawuh di Kota Mangkubumi. Sugeng mirsani kejayaan Kesultanan Mataram nan indah di setiap sisinya.” Sambutan ramah dari salah satu teman saya yang tinggal di Yogya.

Tujuan saya bertandang ke Yogya sengaja ingin menikmati suasana Idul Adha dan mengulik serba-serbi unik di Yogya. Tepat pukul 02.00 siang, saya sampai di Stasiun Lempuyangan Yogyakarta. Saya langsung menuju ke tempat saya bermalam selama di Yogya. Ya, penginapan Masjid Jogokariyan. Sesampai di penginapan, saya di sambut hangat oleh salah satu pengelola penginapan. Saya manfaatkan waktu untuk istirahat sejenak dan beberes sambil menunggu malam.

1. Riuhnya Malioboro berbeda. Riuhnya Malioboro memang istimewa

Pedestrian Malioboro. Foto: instagram/malioboro_insta

Malam telah tiba. Hari pertama sabtu malam di Yogya. Saya menyusuri jalanan Malioboro. Tempat berbagai macam aneka jualan khas Yogya. Tak hanya itu di beberapa tempat terkadang ada pertunjukan yang sangat menghibur wisatawan. Riuhnya Malioboro berbeda. Riuhnya Malioboro memang istimewa. Romantismenya Malioboro tak bisa dilupa.

2. Serunya hari raya kurban di Masjid Jogokariyan

Jogokariyan. Tentu kalian tak asing dengan nama masjid ini. Masjid di tengah perkampungan yang namanya tersohor hingga mancanegara. Masjid dengan arsitektur sederhana ini menjadi rujukan se-Indonesia karena manajemen masjidnya. Masjid Jogokariyan terletak di Jln Jogokariyan No. 36, Mantrijeron Yogyakarta. Tepat 22 Agustus 1967, Masjid Jogokariyan diresmikan oleh Pimpinan Daerah Muhammadiyah Yogya.

Baca Juga :  Tips Memilih Makanan Halal di Luar Negeri

Takmir Masjid Jogokariyan memiliki database khusus dan peta dakwah mengenai masyarakat sekitar. Infak dari jemaah betul-betul dimanfaatkan untuk menyelesaikan masalah keumatan sehari-hari. Masjid Jogokariyan kini menjadi salah satu pusat kegiatan Islam paling semarak di Yogya. Seperti halnya saat hari raya kurban.

Tim Pengeletan yang sedang bekerja dan pengangkutan daging ke tempat penimbangan. Foto: instagram/masjidjogokariyan

Hari raya kurban yang dilaksanakan tepat tanggal 10 Dzulhijah di Masjid Jogokariyan ini selalu menarik setiap tahunnya. Di tahun 2019, hewan yang dikurbankan di Masjid Jogokariyan sangatlah banyak. Masjid Jogokariyan menyembelih 40 sapi dan 53 kambing dengan proses penyembelihan yang syari, cepat, dan profesional.

Distribusi daging ke warga mulai pukul 11.00. Foto: instagram/masjidjogokariyan

Penyembelihan hewan kurban di Masjid Jogokariyan juga terbilang cepat. Penyembelihan selesai sebelum pukul 10.00 pagi. Distribusi daging ke warga dimulai pukul 11.00 siang. Tak hanya itu, jumlah panitia dan relawannya lebih dari 300 orang. Bagaimana, kalian tertarik menjadi relawan kurban di Masjid Jogokariyan? Atau sekadar ingin berjemaah di Masjid Jogokariyan? Main-mainlah ke Yogya. Mampirlah ke Masjid Jogokariyan dan rasakan sensasi barakahnya salat berjemaah di sana.

3. Masjid Gedhe Kauman, saksi bisu lahirnya Muhammadiyah

Jika kalian penikmat wisata religi dan budaya, tak salah jika kalian menyempatkan waktu mampir salat berjemaah di Masjid Gedhe Kauman saat berkunjung ke Yogya. Masjid yang terletak di sebelah barat kompleks Alun-alun Utara Keraton Yogyakarta ini memiliki nilai sejarah yang tinggi. Terutama terkait lahirnya Muhammadiyah.

Masjid Gedhe Kauman dibangun pada Ahad 29 Mei 1773. Masjid yang lekat dengan sejarah budaya Kesultanan Yogyakarta ini juga menjadi saksi tumbuh dan besarnya Gerakan Muhammadiyah, organisasi Islam tertua dan terbesar di Indonesia.

Serambi Masjid Gedhe Kauman. Foto: Chamdika Alifa

Masjid Gedhe Kauman yang menjulang gagah adalah tempat di mana dulu para kyai penghulu mengajarkan agama. Saat akan memasuki masjid, di pagar Masjid Gedhe Kauman ada ukiran berbentuk waluh. Waluh itu buah labu jawa. Kenapa waluh? Karena yang membentengi kita dari kemurkaan Allah dan api neraka adalah tauhid. Tauhid dalam sebuah surah yang bunyinya kulhuwaallahu ahad. Orang jawa membaca waallah agak susah sehingga bunyinya menjadi waluh.

Baca Juga :  Manisnya Cicip Jambu Kristal di Wisata Petik Jambu

Ketika masuk ke halaman masjid maka berjajar-jajar ada pohon sawo. Lalu kita memasuki serambi Masjid Gedhe Kauman Yogya ada ukiran paling luar berbentuk buah nanas. Karena masjid tempat kita berlindung dari musuh hakiki manusia yaitu syaitan. Maka, nanas; kul’au dzubirabbinnas malikinnas ilahinnas yang artinya “katakanlah, Aku berlindung kepada Tuhannya manusia, rajanya manusia, Tuhannya manusia dari kejahatan (bisikan) syaitan yang bersembunyi.

Di atap Masjid Gedhe Kauman ada ukiran tanaman yang saling bertaut satu sama lain. Di Yogya disebut lung-lungan. Lung-lungan itu artinya saling menolong. Jadi masjid adalah tempat saling tolong-menolong dalam kebajikan dan ketakwaan. Lalu di pintu masuk ke ruang utama masjid tepat di depan, di mana tempat mengadakan mahkamah pengadilan surambi di dalam angger-angger agung kitab undang-undang kerajaan.

4. Pesona Kampung Kauman dan Langgar Kidul

Bergeser ke Kampung Kauman. Sore itu saya menyusuri Kampung Kauman yang berada di dekat Masjid Gedhe Kauman. Kampung Kauman memang sangat padat, tapi suasananya tenang dan tenteram. Dikutip dari buku Novel Biografi Dahlan yang ditulis Haidar Musyafa, sesuai peraturan dari Kasultanan Ngayogyakarta, hanya orang Islam yang diperbolehkan tinggal di Kauman. Itu karena nama Kauman sendiri identik dengan para ulama atau guru Agama Islam yang mendapatkan tugas dari Ngarsa Dalem untuk mengurus Masjid Gedhe Kauman yang berada di sebelah barat Alun-Alun Lor.

Langgar Kidul KH Ahmad Dahlan. Foto: Chamdika Alifa

Di dalam Kampung Kauman berdiri langgar yang diberi nama Langgar Kidul KH Ahmad Dahlan, Sang Pencerah pendiri Gerakan Muhammadiyah. Dulu, untuk menunjang dakwahnya, bapak dari KH Ahmad Dahlan yang bernama Abu Bakar membangun langgar sederhana yang digunakan untuk mendidik anak-anak Kauman membaca dan mempelajari ayat-ayat suci Al Quran.

Baca Juga :  Transit, Bukan Transport

Langgar yang dibangun Abu Bakar terletak di pekarangan rumah di barat gang pada separuh bagian halaman di sisi paling selatan. Dari langgar sederhana itulah, KH Ahmad Dahlan dididik dan dikenalkan dengan huruf-huruf hijaiyah dan ajaran agama. Meskipun dulu sempat roboh, Langgar Kidul ini dibangun kembali dan keasliannya tetap terjaga hingga kini. Arsitektur Langgar Kidul ini sangat sederhana, namun syarat akan nilai historis yang tinggi.

5. Menyambangi Keraton Yogyakarta

Keraton Ngayogyakarta merupakan istana resmi Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat yang berlokasi di Daerah Istimewa Yogyakarta. Walaupun kesultanan tersebut sudah resmi menjadi bagian dari Republik Indonesia pada tahun 1950, komplek bangunan keraton ini masih berfungsi sebagai tempat tinggal sultan dan rumah tangga istananya yang masih menjalankan tradisi kesultanan hingga saat ini.

Pak Pardjan (kanan) selaku abdi dalem keraton juga senior di Dewan Kebudayaan DIY. Foto: Chamdika Alifa

Keraton Yogyakarta ini juga merupakan salah satu objek wisata di Kota Yogyakarta. Sebagian komplek keraton merupakan museum yang menyimpan berbagai koleksi milik kesultanan. Saat saya berkunjung ke Keraton Yogyakarta, saya berkesempatan bertemu dengan Pak Pardjan selaku abdi dalem keraton juga senior di Dewan Kebudayaan DIY.

Bersambung ke Halaman 2

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.