Menuntut Ilmu, Jalan Kemuliaan Dunia dan Akhirat

43
Menuntut Ilmu, Jalan Kemuliaan Dunia dan Akhirat

Suaramuslim.net –  “Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim.”

Demikian hadits menuntut ilmu dari Rasulullah, yang diriwayatkan Anas bin Malik. Menandakan bahwa keberadaan ilmu sangatlah penting dalam kehidupan. Menurut Islam, kedudukan ilmu lebih utama dibandingkan kedudukan amal. Jelas, mengingat muslim beramal dengan landasan ilmu selain iman. Tak salah jika Rasulullah juga bersabda,”Keutamaan orang alim atas ahli ibadah adalah seperti keutamaan bulan pada bulan purnama atas seluruh bintang-bintang.” (HR Abu Dawud, At Tirmidzi, An Nasa’I dan Ibnu Hiban). Artinya, seorang muslim yang beramal dengan ketinggian tingkat ibadahnya pun belum mampu mengalahkan kedudukan seorang muslim yang berilmu.

-Advertisement-

Tak salah jika wahyu yang pertama turun pun adalah perintah membaca, yang merupakan salah satu kegiatan menuntut ilmu. Dan tentunya, membaca saja tidak cukup. Perlu ada guru untuk meraih ilmu. Diharapkan setiap muslim senantiasa semangat mendatangi guru. Zaman sekarang, dengan kemudahan teknologi seharusnya tidak menyurutkan setiap muslim untuk tetap melangkahkan kaki menuju majelis ilmu.

Baca Juga :  Apa Jadinya Jika Filsafat Berjumpa dengan Agama?

“Barang siapa menempuh jalan guna mencari ilmu, maka Allah memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR Muslim)

Sekarang, majelis ilmu bertebaran dimana-mana. Tak ada kesulitan pula untuk menjangkau majelis ilmu tersebut. Hanya kemauan yang kuat untuk bisa mencapainya. Teringat sebuah kisah tentang kaum Abdul Qays yang begitu gigih belajar tentang Islam. Mereka harus melewati perjalanan yang jauh dan sulit agar bisa menemui Rasulullah, berguru langsung kepada beliau. Meski harus melewati perkampungan kaum musyrik, kaum Qays tak kenal gentar. Belajar tentang sebuah ilmu penting yaitu iman dan aplikasinya dalam rukun Islam. Tak tanggung-tanggung, kaum Qays pun mengajarkan kembali ilmu yang didapat kepada penduduk kaum mereka.

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat serta semua makhluk di langit dan di bumi, sampai semut dalam lubangnya dan ikan (di lautan), benar-benar bershalawat/mendoakan kebaikan bagi orang yang mengajarkan kebaikan (ilmu agama) kepada manusia.” (HR Tirmidzi dan Thabrani)

Sungguh, tak bisa mengajarkan ilmu jika tidak menuntut ilmu terlebih dahulu. Ilmu yang bermanfaat karena ada tambahan ilmu yang didapat. Sedang ilmu didapat harus dengan kesungguhan berlipat-lipat.

Baca Juga :  Al Quran Sebagai Subyek Studi Ilmu Pengetahuan

“Jika seorang manusia meninggal, terputuslah amalnya, kecuali dari 3 hal: shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang berdoa untuk orang tuanya.” (HR Muslim)

Ilmu yang bermanfaat banyak sekali ruang lingkupnya. Terlebih lagi dalam ranah ini adalah Al Quran. Sumber ilmu adalah Al Quran. Maka menuntut ilmu tentang Al Quran wajib pula dilakukan seorang muslim. Rasulullah bersabda dari Amru bin Harits al Musthalaqy,”Barang siapa yang ingin membaca Al Quran persis sebagaimana ia diturunkan, maka hendaklah ia membacanya sebagaimana bacaan Ibnu Abdin (bin Mas’ud).” Betapa banyak para sahabat kehidupannya pun penuh dengan belajar Al Quran. Ali bin Abi Thalib bahkan tahu ayat Al Quran turun dalam perkara apa, dimana diturunkan, dan kepada siapa ayat turun itu diarahkan. Abdullah bin Mas’ud pun demikian.  Bahkan jika ada orang lain yang lebih mengetahui isi Al Quran dibanding dirinya, Abdullah bin Mas’ud pun akan belajar mendatanginya.

Menuntut ilmu tak terbatas ruang dan waktu. Tradisi menuntut ilmu, kenyataannya, telah membawa Islam mencapai kejayaannya. Banyak ilmuwan muslim yang menjadi tonggak peradaban sehingga manusia benar-benar merasakan manfaatnya. Selain itu, kebiasaan menuntut ilmu juga banyak melahirkan para ulama. Merekalah hamba Allah yang paling takut kepada-Nya. Merekalah pewaris para nabi. Apa yang diwariskan para nabi? Tidak lain adalah ilmu. Bukan dinar maupun dirham.

Baca Juga :  Antara Ilmu dan Penghasilan

Maka, siap menuntut ilmu di zaman sekarang ini? Seorang muslim sejati akan tahu bahwa hidupnya semestinya tak pernah bisa lepas dari kewajiban ini. Muda atau tua, perempuan atau laki-laki sepatutnya mengambil bagian ini. Dengan ilmu, Islam akan tinggi di muka bumi. Dengan ilmu, setiap muslim mulia dunia dan akhiratnya. Tak perlu berpikir panjang, tuntutlah ilmu dengan rasa cinta dan bekal takwa. Merantaulah demi ilmu agar pemikiran dan hidup di dunia tidaklah kaku.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here