Meski Titik Panas Berkurang, Operasi TMC akan Terus Dilakukan Sepanjang Oktober
Edvin Aldrian, Peneliti Utama UPT Hujan Buatan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dalam Diskusi Media Forum Merdeka Barat 9, yang mengusung tema “Penanganan Bencana” di Ruang Serbaguna Sutopo Purwo Nugroho, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Jakarta Timur, Rabu (2/10) (Foto: FMB9)

JAKARTA (Suaramuslim.net) – Kendati jumlah titik panas (hotspot) di daerah rawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) berkurang karena rekayasa hujan, pemerintah terus melakukan operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) pada Oktober 2019 ini.

“Jadi sejak beberapa minggu lalu kita bisa lihat dampak dari operasi TMC. Sejumlah daerah sudah mulai turun hujan,” ujar Edvin Aldrian, Peneliti Utama UPT Hujan Buatan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dalam Diskusi Media Forum Merdeka Barat 9, yang mengusung tema “Penanganan Bencana” di Ruang Serbaguna Sutopo Purwo Nugroho, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Jakarta Timur, Rabu (2/10).

Beberapa daerah karhutla yang mulai dilanda hujan sejak pekan lalu dengan didorong oleh rekayasa TMC adalah Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah.

“Selama bulan Oktober, operasi penyemaian garam dari udara tetap dilakukan oleh gabungan BPPT, BMKG dan TNI-AU,” jelas Edvin.

Sampai saat ini, BPPT, BMKG dan personel pemerintah daerah memiliki Posko TMC di Kalbar, Kalteng, Riau, dan Sumsel.

Baca Juga :  HMI Padang Galang Dana Untuk korban Asap Riau

Dari total 45 armada udara yang dikerahkan BNPB dan TNI-AU, 41 memakai helikopter untuk water bombing dan patroli. Sedangkan 4 pesawat CN 219 dan Casa 212-200 khusus untuk operasi rekayasa hujan TMC. Direncanakan, BPPT akan memakai pesawat Hercules C-130 untuk menyemai garam NaCl dengan jumlah lebih besar ke wilayah terdampak karhutla.

Tim TMC banyak dibantu operasinya oleh BMKG dan alat bantu radar seperti NOAA sehingga memandu tim dalam memadamkan titik-titik api di wilayah yang terbakar. Strategi rekayasa hujan adalah memetakan jalur penerbangan dan terhindar dari kepekatan asap.

Untuk itu, mereka melakukan penyemaian kapur tohor (CaO) di pagi hari. Upaya itu akan mengurangi kepekatan asap dan memudahkan pertumbuhan awan potensial di sejumlah wilayah karhutla.

“Setelah awan-awan terpantau, baru di siang hingga sore harinya melakukan penyemaian menggunakan garam NaCL untuk menurunkan hujan,” jelas Edvin Aldrian.

Reporter: Ali Hasibuan
Editor: Muhammad Nashir

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.