Suaramuslim.net – Dilema wanita soal pilihan menjadi ibu bekerja dan ibu rumah tangga sudah jadi hal yang biasa di zaman sekarang. Tak ada yang salah dari dua pilihan ini. Keduanya sama-sama merupakan pilihan yang tepat.

Kuncinya adalah menciptakan dan menjaga waktu berkualitas dengan keluarga secara konsisten dan bermakna. Harus ada interaksi secara langsung dan benar-benar memfokuskan diri pada keluarga saat berkesempatan menghabiskan waktu bersama.

Lalu setelahnya, tetaplah merawat kebahagiaan dalam menjalani peran ganda ini. Membagi waktu secara seimbang antara ibu bekerja dan ibu rumah tangga.

Perempuan yang menjalankan peran ganda memang banyak memiliki dimensi psikologis. Terutama perempuan yang masih mempunyai anak kecil atau bayi, itu akan lebih kental konflik yang akan dirasakan.

Seperti yang kita ketahui kalau budaya di Indonesia sebagai seorang perempuan yang sudah berkeluarga atau menikah maka perannya juga akan terbagi. Pekerjaan di instansi tempat dia bekerja harus optimal dan profesional, tetapi di sisi lain ketika di rumah dia harus menjadi seorang ibu, istri pendamping suami dan menjalin relasi dengan keluarga besar.

Nah, seperti ini sudah terlalu banyak yang harus dihadapi sebagai perempuan muslim. Yang terpenting harus atas izin suami. Karena memang itu sudah menjadi bagian dari syariat.

Apa yang harus diwaspadai pada ibu yang berperan ganda ini?

Sebelum menjadi ibu yang berperan ganda ini kita pasti sudah membuat komitmen di awal dengan pasangan. Pada saat suami mengizinkan kita bekerja di luar rumah ini bisa menjadi karunia yang tidak ternilai harganya bagi seorang perempuan yang sudah mengenyam pendidikan tinggi, karena akan lebih bisa menyalurkan segala potensi dan kemampuan diri.

Tapi biasanya ibu yang memiliki peran ganda ini terkadang ada satu yang terabaikan. Biasanya lebih ke peran domestik. Problem yang muncul adalah pada saat pekerjaan itu menuntut untuk memiliki kinerja yang optimal, sementara di sisi yang lain harus pandai mengelola waktu agar urusan yang di rumah tidak terabaikan.

Ada banyak cara agar keduanya bisa berjalan seimbang, walaupun banyak hambatan yang dialami ibu berperan ganda ini.

Kalau kita kembali lagi dengan apa yang sebenarnya dituntut oleh seorang perempuan, tentu kita paham bahwa setiap orang melihat figur seorang ibu, figur seorang istri. Jadi pekerjaan yang di luar bisa menjadi tambahan pemasukan dalam keluarga meskipun sifatnya tidak wajib.

Tetapi ada juga yang bekerja untuk aktualisasi diri. Jadi di situlah dia akan mendapatkan makna karena merasa mempunyai keterampilan, mempunyai pendidikan sehingga ada keinginan untuk membagikan kepada masyarakat. Dan juga di situlah biasanya perempuan menemukan makna bahagianya selama bisa menyeimbangkan situasi.

Artikel ini dikutip dari siaran Mozaik Radio Suara Muslim Surabaya 93.8 FM pada hari Kamis, 20 Februari 2020 pukul 13.00-14.00 bersama Bunda Rini Nurahaju, M.Si, Psikolog, Dosen Fakultas Psikologi Universitas Hang Tuah Surabaya.

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.