Bunda Asteria Ratnawati Saroinsong – Psikolog Layanan Psikologi Bijaksana, Wakil Ketua Yayasan Advokasi Sadar Autisme, Narasumber Di Bidang Psikologi Perkembangan & Pengembangan Diri. Foto: suaramuslim.net

Suaramuslim.net – Pada dasarnya manusia adalah individu dan makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri sehingga membutuhkan sosok pasangan untuk berinteraksi. Itu sebabnya Islam menjunjung tinggi kehidupan pernikahan dan disebut sebagai penyempurna/separuh agama.

Membangun sebuah rumah tangga bukan sekadar bermain peran ataupun terikat antar dua individu, namun sebuah pernikahan memiliki arti lebih mendalam dari itu.

Dalam perjalanannya ada istri-istri kuat yang menjalani Long Distance Married (LDM) atau mungkin suami istri berkumpul namun bunda disibukkan dengan urusan domestik tiada henti dan dari semua itu memunculkan stres.

Berbagai ahli memiliki definisi stres masing-masing. Menurut Santrock seorang ahli psikologi dan penulis buku, mendefinisikan bahwa stres itu adalah respons individu terhadap keadaan atau kejadian yang memicu tekanan atau stres.

Nah, kejadian atau tekanan ini juga bisa disebut stressors yaitu penyebab stres yang mengancam dan menganggu kemampuan seseorang untuk menanganinya.

Stres dalam kehidupan kita pasti akan ada. Stres dalam Bahasa Indonesia adalah tekanan-tekanan. Berbagai tekanan dalam kehidupan itu pasti akan selalu ada. Stres merupakan suatu hal yang wajar dalam kehidupan.

Tetapi bagaimana ketika seseorang menghadapi stres, dia juga harusnya belajar mengatasi stres tersebut. Setiap orang mempunyai karakternya masing-masing. Ketika seseorang bisa mengatasi stres, tidak ada masalah. Tetapi ketika seseorang tidak mampu mengatasi stresnya sehingga semakin lama intensitas stresnya semakin besar akan mengarah ke arah depresi. Kalau terus menerus dibiarkan tak hanya depresi saja, tetapi juga bisa mengarah ke hal yang lebih jauh lagi.

Hal-hal apa saja yang menjadi penyebab stres dalam rumah tangga?

Penyebab stres dalam rumah tangga sangatlah banyak. Termasuk ketika anak akan menghadapi ujian nasional, orang tuanya terkadang juga ikut stres. Biasanya kalau ayah tidak terlalu stres, tetapi ibunya yang akan stres, was-was memikirkan anaknya.

Nah, sebetulnya stres dalam rumah tangga banyak sekali penyebabnya. Tergantung bagaimana seseorang menyikapinya. Artinya bagaimana suatu kepribadian seseorang, bagaimana kemampuan seseorang dalam menangani hal-hal yang berkaitan dalam rumah tangga. Itu semua sangat mempengaruhi.

Jadi penyebab stres sangatlah banyak. Dan itu biasanya dalam rumah tangga tentu saja yang berkaitan dengan kestabilan hubungan dalam rumah tangga.

Setiap orang mempunyai bawaan sifat masing-masing. Di mana akhirnya tumbuh dan berkembang dengan berbagai macam pengaruh lingkungan seperti pola asuh orang tua, lingkungan, itu semua sangat mempengaruhi bagaimana seseorang itu terbentuk.

Di situlah sebenarnya seseorang dari kecil sudah belajar yang bagaimana coping strategi menghadapi permasalahan atau coping strategi terhadap stres. Dan ini yang akan menentukan ketika dia tumbuh menjadi dewasa.

Artikel ini dikutip dari siaran Mozaik Radio Suara Muslim Surabaya 93.8 FM pada hari Selasa, 28 Januari 2020 pukul 13.00-14.00 bersama Bunda Asteria Ratnawati Saroinsong – Psikolog Layanan Psikologi Bijaksana, Wakil Ketua Yayasan Advokasi Sadar Autisme, Narasumber Di Bidang Psikologi Perkembangan & Pengembangan Diri.

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.