Bunda Kurniati Laila, S.Pd – Pegiat Siroh, Pemerhati Perempuan, Anak dan Keluarga Indonesia. Foto: suaramuslim.net

Suaramuslim.net – Mitra muslim ketahanan diri bagi setiap individu adalah dengan bisa menjalani serta mengasahnya sepanjang kehidupan.

Ketahanan diri merupakan kemampuan untuk mengatasi segala tantangan, cobaan, masalah, trauma, dan krisis pribadi ataupun beragam kendala-kendala lain dalam kehidupan. Dan ini bisa diasah sepanjang kehidupan.

Tentang ketahanan diri ini, dalam Al-Qur’an surat At Tahrim ayat 11 ada sosok muslimah yang bisa menjadi teladan bagi kita semua yaitu Asiyah.

Istri Fir’aun Asiyah adalah so­sok perempuan tegar. Ia bukan hanya sabar bertahan di samping kekejaman yang dilakukan suaminya sebagai raja yang mengeklaim diri sebagai Tuhan, tetapi ia juga mampu mem­bangun sebuah kepribadian utuh yang oleh Al­lah diidealkan sebagai perempuan yang beriman tangguh. Masya Allah.

Allah memberikan pelajaran di dalam Al-Qur’an dengan kisah Fir’aun dan kisah istrinya yang luar biasa, ternyata Nabi Muhammad juga bersabda “Cukuplah wanita-wanita ini sebagai panutan kalian.” Dan Rasulullah menyebutkan empat orang yaitu Mariyam binti Imran, Khadijah binti Khuwailid, Fatimah binti Muhammad, dan Asiyah binti Muzahim.

Dan dari sini lah saya tergerak membahas saripati kehidupan Bunda Asiyah binti Muzahim yang memiliki daya tahan yang luar biasa, berharap kita bisa mengambil pelajaran bagaimana bisa bertahan di tengah kesusahan dan kepedihan-kepedihan yang beliau alami.

Kita semua pasti tahu Fir’aun adalah sosok yang sangat terkenal di dalam Al-Qur’an. Fir’aun ini adalah manusia yang menobatkan diri sebagai Tuhan. Dan kita semua juga tahu, Fir’aun ini mempunyai istri seorang perempuan dari Bani Israil yang memiliki kecantikan, kelembutan, dan akhlak yang luar biasa, yang menjadikan Fir’aun ini semakin tambah cinta karena akhlak dan kecantikan Asiyah.

Waktu terus berjalan, apapun yang diminta sang istri selalu dikabulkan. Sampai meminta istana di dekat sungai pun dikabulkan oleh Fir’aun.

Ketika Asiyah di istananya yang dekat dengan sungai, ada bayi laki-laki yang ternyata adalah Musa a.s. Karena Musa a.s sejak bayi sudah terlihat ketampanannya, Asiyah pun tertarik dan meminta kepada sang suami agar dijadikan anak angkat.

Tetapi saat itu Fir’aun menolaknya karena belum lama Fir’aun mengeluarkan undang-undang yang mengatakan setiap bayi laki-laki Bani Israil harus dibunuh tanpa terkecuali.

Karena permintaan dari orang yang dicintainya dan Asiyah terus merayu, akhirnya Fir’aun mengabulkan permintaan istrinya dan Musa menjadi anak angkatnya.

Ketika Musa masih kecil, Fir’aun menggendongnya, jenggot Fir’aun ini ditarik oleh Musa. Akhirnya Fir’aun marah. Karena Musa masih anak kecil dan tidak tahu apa-apa, bunda Asiyah pun membela Musa.

Untuk membuktikannya disiapkanlah bara api dan kurma. Lalu dilihat kira-kira apa yang akan diambil oleh Musa saat kecil ini. Ternyata yang diambil saat itu adalah bara api dan menunjukkan ini benar-benar anak kecil. Sehingga kemarahan Fir’aun terhadap Musa pun reda.

Singkat cerita, setelah Nabi Musa diangkat sebagai Nabi di daerah tempat beliau melarikan diri saat dikejar oleh kaum Qibti dan pulang ke negerinya kemudian tahu bahwa yang disembah adalah Allah bukan lagi ayahnya yaitu Fir’aun, maka saat itulah terjadi konflik antara anak dan ayah.

Nah, saat itu para penyihir dari pasukan raja diminta untuk menyerang Musa. Dan atas kuasa Allah tongkatnya Nabi Musa berubah menjadi ular dan saat itulah Bunda Asiyah ini mendeklarasikan keimanannya di depan masyarakat yang menyembah Fir’aun saat itu.

Sejak itulah sikap Fir’aun berubah 180 derajat, yang sebelumnya sangat mencintai Asiyah berbalik menjadi sangat membencinya. Dan akhirnya Fir’aun keluar menemui kaumnya dan meminta pendapat kepada kaumnya.

Dalam hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah Nabi mengatakan bahwa sesungguhnya Fir’aun mengikat istrinya dengan besi. Dan ketika menyiksa istrinya Fir’aun sempat mendampinginya. Ketika disiksa, Asiyah dilempari batu dan Fir’aun mendampinginya sambil berkata “jangan-jangan istriku sudah gila.”

Karena saat itu bunda Asiyah tersenyum padahal sedang disiksa. Bunda Asiyah tersenyum dan berdoa “Ya Allah bangunkanlah saya istana didekat-Mu.” Dan ketika disiksa, Allah perlihatkan kepada bunda Asiyah istananya yang nanti di surga, sehingga tersenyum.

Karena melihat bunda Asiyah tersenyum terus menerus, Fir’aun berkata “bunuh saja.” Akhirnya bunda Asiyah disiksa dengan dilempari batu. Sebelum dibunuh, Allah sudah mengambil ruhnya. Jadi ketika disika hanya jasadnya saja, sedangkan ruhnya Allah angkat ke surga. Masyaallah.

Artikel ini dikutip dari siaran Mozaik Radio Suara Muslim Surabaya 93.8 fm pada hari Senin, 17 Februari 2020 pukul 13.00-14.00 bersama Bunda Kurniati Laila, S.Pd – Pegiat Siroh, Pemerhati Perempuan, Anak dan Keluarga Indonesia.

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.